0

10 Film Terbaik 2017

UlasanPilem telah menyusun peringkat 10 film-film terbaik yang dirilis pada 2017. Berikut daftarnya.

Jika anda membaca artikel ini, maka anda termasuk salah satu pembaca UlasanPilem, entah karena memang rutin berkunjung atau sekedar nyasar. Jika pembaca UlasanPilem, saya boleh bilang bahwa anda suka menonton film. Dengan kriteria ini, saya menyimpulkan bahwa anda adalah pembaca UlasanPilem dan suka menonton film. Saya yakin saat ini hanya ada dua hal yang sangat ditunggu oleh pembaca UlasanPilem dan yang suka menonton film. Dua hal tersebut adalah: (1) perilisan Avengers: Infinity War, dan (2) daftar film terbaik 2017 versi UlasanPilem.

*krik krik krik*

Bagi anda yang menantikan daftar ini, ini dia yang anda tunggu-tunggu. Saya minta maaf karena membuat anda menunggu. Tapi saya tak bisa minta maaf soal kenapa artikelnya baru bisa turun di bulan Maret 2018 padahal isinya adalah film-film 2017. Sebab, begitulah adanya. Saya tak bisa menyelesaikan semua rilisan 2017 di akhir 2017, karena memang ada beberapa film yang tak dirilis di Indonesia setidaknya sampai awal 2018. Belum lagi, untuk film yang sama sekali takkan dirilis disini dimana saya harus menunggunya hadir di lapak alternatif, ehm, yang tentu saja memakan waktu beberapa bulan pasca tanggal rilis di bioskop.

Bicara soal 2017-dalam-film, saya tak bisa bilang bahwa tahun ini merupakan salah satu tahun terbaik. Tak buruk juga sih, tapi agak membosankan saja. Bahkan, Oscar tahun ini menurut saya menjadi salah satu Oscar yang paling meh. Meski belakangan ini makin banyak film blockbuster yang memastikan kita harus memesan tiket onlen agar tak mengantri seharian di bioskop, rasa-rasanya tak demikian dengan film-film kecil yang tak kalah istimewa. Ada, tapi seringkali orang-orang tak begitu peduli untuk menontonnya sehingga bioskop tak begitu peduli untuk memutarnya lama-lama. Yang lebih parah, distributor pun bahkan jadi tak begitu peduli untuk mengimpornya.

Namun, marilah kita jangan berkutat dengan yang negatif saja. Kita boleh dibilang tak pula kekurangan tontonan yang seru. Kalau anda masih ingat, bioskop kita tempo hari sampai berani menayangkan Get Out, salah satu film paling orisinal tahun ini, padahal isunya mungkin tak begitu beresenonansi dengan masyarakat Indonesia. Atau film oom-oom macam The Post yang gak gaul abis tapi tajam dan berkelas.

Di jalur mainstream pun juga ada yang segar, meski mereka termasuk ke dalam dominasi 4 pilar sinema kekinian yang dijamin menghancurkan box office (kalau anda belum tahu, 4 pilar yang merupakan karangan saya tersebut adalah superhero, remake animasi Disney, Star Wars, dan *uhuk* Dwayne "The Rock" Johnson). Wonder Woman, Logan, dan Thor: Ragnarok berhasil sukses secara kritik dan komersil walau nekat menyerempet keluar dari genrenya. Dan tentu saja, di luar itu masih banyak film-film yang menarik dan — sebagaimana judul artikel ini— terbaik di antara semua.

Saat saya bilang "terbaik", artinya bukan terbaik secara sinematis. Saya tak pernah mengecap sekolah film atau semacamnya, jadi tak tahu film yang terbaik itu seperti apa. Tapi saya mengenali film-film berkesan yang bisa membuat saya terngiang-ngiang pasca selesai menonton. Saya kira film-film tersebut juga bakal memberi dampak yang sama pada anda. Pemeringkatannya tidak berdasarkan rating yang saya berikan di masing-masing review, melainkan lebih kepada betapa kuat kesan yang ditinggalkannya dan seberapa besar saya ingin merekomendasikannya kepada anda. Kendati demikian, bisa anda cermati bahwa yang termasuk ke dalam artikel ini adalah film-film berating 3,5 ke atas.

Daftar ini berisi film-film yang orang-orang tahunya dirilis di 2017. Jadi takkan ada La La Land atau Silence karena mereka berada di daftar tahun lalu, meski keduanya baru tayang di Indonesia di awal 2017. Alih-alih, anda akan mendapati beberapa film kontender Oscar tahun ini.

Sebelumnya, saya akan mengutarakan terlebih dahulu film-film runner-up yang nyaris saja masuk ke dalam daftar 10 besar film terbaik 2017 ini. Beberapa film yang saya cantumkan di atas juga termasuk ke dalam kategori tersebut. Review lengkapnya bisa anda dapatkan dengan mengeklik tautan masing-masing.

Saya kembali dibuat kagum dengan gaya bercerita Taylor Sheridan lewat film yang menjadi debut penyutradaraanya, Wind River. Filmnya seperti bola salju: bergerak perlahan, tapi sebelum kita sadar, ia sudah menjadi gumpalan salju raksasa. Walau berada di subgenre superhero, saya tak menduga bagaimana Logan mampu menjadi sebuah film yang kontemplatif. Anime A Silent Voice / Koe no Katachi menjadi kontemplasi tersendiri bagi kita mengenai bullying dan dampak yang ditimbulkannya terhadap korban.

Kenapa saya sepertinya suka sekali dengan film yang selow dan drama abis? Maaf ya, sebelum berpindah ke film dengan gaya yang beda, saya juga mau bilang bahwa saya menikmati The Lost of Z yang mampu menangkap semangat petualangan. Nah barulah kita beranjak ke Good Time yang meledak-ledak. Dan untuk film receh yang memberikan kepuasan paripurna, ada John Wick: Chapter 2 yang semakin dalam membawa kita ke dunia para pembunuh bayaran, film tembak-tembakan absurd Free Fire, serta Kong: Skull Island yang ternyata lebih seru dari yang saya prediksi. Oh, tak lupa film musikal The Greatest Showman yang berisi lagu-lagu racun yang membuat kita selalu kecanduan.


#10 War for the Planet of the Apes


Saya kira awalnya tak banyak yang menyangka bahwa film tentang kera-kera cerdas yang memberontak melawan manusia bisa menjadi drama yang serius. Setelah ending film Planet of the Apes yang orisinal (bukan versi Tim Burton plis), kita pikir tak ada lagi yang bisa diceritakan di tengahnya. Tapi trilogi baru Planet of the Apes menjadi pengisi yang berbobot, dan War for the Planet of the Apes merupakan puncak dari semuanya, baik soal cerita maupun kualitas. Memang filmnya takkan memberikan "perang" seperti yang anda duga dari judulnya, tapi ia menyuguhkan perang lain yang tak kalah dahsyat.

Sutradara Matt Reeves membawa filmnya ke arah yang lebih dalam, menambahkan alegori soal perbudakan dan bobot emosional mengenai revolusi dan penebusan, sehingga filmnya menjadi sebuah drama yang fantastis. Filmnya bukan digerakkan oleh spektakel melainkan oleh karakter. Efek spesialnya begitu realistis, kita serasa melihat kera betulan yang berperang dengan manusia. Andy Serkis kembali memberikan performa motion-capture yang kompleks, kita sampai merasa bahwa sudah saatnya Oscar mengapresiasi akting motion-capture. [review lengkap disini]


#09 Paddington 2


Sebelum anda protes kenapa film mengenai beruang yang diadopsi oleh keluarga Inggris yang sama sekali tak heran kenapa si beruang bicara seperti manusia ini sampai ada di 10 besar, saya mau bertanya: apakah anda sudah menonton filmnya? Kalau belum, monggo ditonton dulu. Saya tungguin.

Sudah? Hanya ada dua tipe orang yang tak menyukai Paddington 2: (1) yang belum menonton filmnya, dan (2) yang bohong kalau dia tak menyukai filmnya. Apa? Anda tak setuju?! Filmnya tak kalah manis dan hangatnya dibanding yang pertama, tapi dengan keseruan berlipat dua karena kali ini beruang kita masuk penjara gara-gara dijebak oleh Hugh Grant yang memparodikan diri sendiri. Dengan tata produksi yang lebih tinggi, estetika visualnya menguar makin lantang, memberikan kesan berkelas padahal ini "sekedar" film anak-anak.

Masih tak suka?! Anda tau gak sih, film ini mengajarkan pentingnya kebaikan dan ketulusan! Kepribadian Paddington mampu mempengaruhi orang-orang di sekitarnya, bahkan juga sampai ke kita sebagai penonton! Ia memberikan contoh perlunya berbuat baik kepada sesama dan jangan sinis! Apalagi menghadapi masalah dengan marah-marah! Termasuk saat pendapat orang lain tak sejalan dengan kita!! Hah?! Anda tau gak?!

BIKIN SAYA EMOSI SAJA!!! SUDAH SANA TONTON LAGI! [review lengkap disini]


#08 Blade Runner 2049


Ketika diumumkan bahwa Denis Villeneuve akan membuat sekuel dari film klasik Blade Runner, khalayak film jadi panas-dingin. Maklum saja, Blade Runner adalah film cult legendaris yang sampai saat ini masih disebut-sebut sebagai salah satu film scifi terbaik sepanjang masa. Bagaimana melewati pencapaian seperti itu? Villeneuve berhasil melakukannya. Oke oke, mungkin belum termasuk salah satu film scifi terbaik sepanjang masa, tapi Blade Runner 2049 layak menjadi sekuel yang pantas bagi pendahulunya. Film ini menghormati film pendahulunya, memperdalam temanya, sekaligus membuat sebuah film bagus yang bisa berdiri sendiri.

Blade Runner 2049 mungkin juga merupakan salah satu film paling indah tahun ini, selain film mana pun yang menampilkan Karen Gillan (Karen, aku padamu. Maaf saya ngelantur). Desain set-nya mengagumkan. Semestanya suram tapi cantik. Gambar-gambar dari sinematografer veteran Roger Deakins membuat kita terpesona. Bahkan kalau seandainya anda sempat ketiduran saat menonton — yang mana demikianlah kasusnya dengan beberapa kolega saya— anda pasti takkan lupa dengan satu hal: warna hijau toska dan jingga merona. Eh, dua dong ya? [review lengkap disini]


#07 Baby Driver


Baby Driver adalah film musikal saat sekuens musikalnya diperankan oleh mobil. Penulis/sutradara Edgar Wright menggabungkan film aksi kejar-kejaran mobil yang menegangkan dengan album kompilasi lagu yang diseleksi dengan telaten, sehingga menghasilkan —dan saya harus menekankan ini— film paling asyik dan paling enerjik tahun ini di layar lebar. Setiap sekuensnya dieksekusi dengan timing yang presisi, sinkron antara pergerakan di layar dengan ritme lagu.

Konyol dan keren. Filmnya penuh energi dan gaya. Wright seolah ingin pamer. Namun, aspek aksinya tak lantas keteteran. Pendekatan Wright untuk yang merancang adegannya langsung di depan kamera, tanpa bantuan CGI, merupakan sesuatu yang boleh dibilang langka di era sinema kekinian. Hal ini memberikan ketegangan maksimal dengan stake yang nyata. Film ini juga merupakan film yang membuat saya berharap punya mobil. Namun kemudian isi dompet dan saldo rekening menyadarkan saya. [review lengkap disini]


#06 Lady Bird


Di usia saya yang kini sudah mulai tuwa melewati masa pubertas, terkadang saya suka menengok ke belakang. Saya sudah melakukan berbagai macam hal semasa remaja dulu, dan rasanya ada banyak pula diantaranya yang tak patut dibanggakan. Lady Bird dari Greta Gerwig hadir sebagai semacam refleksi. Ini adalah film yang menyuguhkan gambaran aktual tentang remaja dan tahu bagaimana cara remaja berpikir atau bersikap. Saoirse Ronan mewakili tendensi pemberontak kita dulu. Dan ceritanya terasa begitu personal, sehingga terkesan seolah diadaptasi dari pengalaman pribadi Gerwig sendiri.

Adik-adik yang manis, khususnya remaja putri, tontonlah film Lady Bird daripada film-film lain yang receh yang kamu tonton cuma buat eksis di InstaStory. Film ini akan mengajarkan kamu banyak hal. Kalian akan melihat karakter Ronan yang membuat banyak pilihan bodoh tapi akhirnya menemukan apa yang sebenarnya ia inginkan dan butuhkan sejak awal. Saat seumurmu, memang ini tak terlihat bodoh. Tapi 5 atau 7 tahun mendatang, kamu akan sadar. Mudah-mudahan belum telat untuk kembali. [review lengkap disini]


#05 Three Billboards Outside Ebbing, Missouri


Three Billboards adalah satu dari sedikit sekali film di 2017 yang langsung mengikat saya sejak 5 menit pertama. Adegan pembukanya jenius; sutradara Martin McDonagh menyajikannya dengan timing, sentuhan humor, dan pilihan kata yang cerdik. Sederhana tapi efektif menggoda kita untuk terpedaya dengan tone-nya yang unik. Saya tak mengira bahwa filmnya selucu ini. Bukan lucu dalam konteks komedi, tapi lucu yang serius, yang akan membuat kita tertawa getir di antara tragedi di dalamnya.

Saya juga tak mengira bahwa premis halu-nya, yang mengenai tiga papan reklame, bisa dipakai untuk menciptakan drama yang dalam dan kritik yang tajam. Nyatanya, ada banyak hal-hal lain yang masuk dalam kategori "saya tak mengira". Film ini penuh kejutan, bahkan hingga ending. Kita tak bisa menduga kemana arah filmnya, karena 3 karakter utama (diperankan oleh Frances McDormand, Sam Rockwell, Woody Harrelson) punya banyak lapisan kepribadian. Pilihan yang mereka buat spontan dan nyaris tak punya garis moral. Ia seperti mencoba menantang kita. [review lengkap disini]


#04 Call Me by Your Name


Saat merekomendasikan film-film romance pada teman-teman saya, mereka kerap terkejut mendapati bahwa satu-dua diantaranya adalah film gay. Film gay bukan sekedar soal aksi gay-nya saja tapi soal romansa juga. Film gay yang bagus tak disebut "film gay"; sebutannya yaa "film romance" saja. Call Me by Your Name garapan Luca Guadagnino bolehlah disejajarkan di kategori ini bersama dengan Brokeback Mountain-nya Ang Lee.

Film ini merupakan film Guadagnino pertama yang saya anggap istimewa. Dibantu dengan skrip dari sineas veteran James Ivory, walau ceritanya melibatkan asmara antara seorang remaja (Timothee Chalamet) dengan pria dewasa (Armie Hammer) Guadagnino menjadikan filmnya sensual sekaligus sensitif alih-alih eksploitatif. Menurut hemat saya, fokus utama film malah bukan hubungan sesama jenis, melainkan sesuatu yang terjadi pada kita semua, yaitu cinta pertama. Meski masih muda, Chalamet memberikan penampilan sebagai aktor yang benar-benar tahu karakternya sampai ke aspek yang terdalam.

Sebelum lanjut, saya minta doa dari anda. Mudah-mudahan blog saya tidak didemo gara-gara memilih film ini. [review lengkap disini]


#03 Dunkirk


Sebagai sutradara yang relatif muda, namanya memang moncer. Namun Christopher Nolan tak dikenal karena kapabilitasnya dalam drama. Bahkan, sebagian pengkritik bilang bahwa film-film Nolan, seperti Inception dan Interstellar, terlalu dingin. Dan Nolan sama sekali tak bermaksud mengubah persepsi tersebut lewat Dunkirk. Film ini merupakan filmnya yang paling teknis. Nolan boleh dibilang membangun intensitas hanya lewat dua hal: (1) gambar imersif dari sinematografer Hoyte van Hoytema, dan (2) scoring "tik tik tik" dari Hans Zimmer. Dan ia sukses. Oleh karena itu, tontonlah di layar selebar mungkin dengan suara sebising mungkin.

Menceritakan tentang usaha evakuasi Tentara Sekutu di pantai Dunkirk dari agresi tentara Nazi, Nolan mengambil 3 perspektif yang berbeda dengan 3 rentang waktu yang berbeda pula; peristiwa di darat terjadi selama 1 minggu, di laut selama 1 hari, dan di udara selama 1 jam. Ketiga plot ini saling berpotongan tapi terjadi secara simultan hingga berjalinan menjadi satu di akhir. Ia hanya berfokus pada peristiwa saja, bukan pada tokoh tertentu. Untuk membuatnya terlihat otentik, Nolan memanfaatkan practical effects dengan skala yang masif. Kita ditempatkan langsung di tengah medan perang. Film ini merupakan sebuah pencapaian sinematis. [review lengkap disini]


#02 Phantom Thread


Di atas kertas, Phantom Thread bercerita tentang desainer fashion kondang yang perfeksionis (Daniel Day-Lewis) yang kemudian menjalin hubungan dengan wanita muda (Vickey Krieps) yang menjadi modelnya. Hubungan yang awalnya manis menjadi rumit gara-gara obsesi sang desainer terhadap profesinya. Terdengar seperti cerita standar mengenai seniman yang tak bisa memisahkan kehidupan dengan pekerjaan, tapi ternyata filmnya adalah sebuah kisah cinta yang "sakit". Sedikit spoiler memang. Namun saya jamin pengungkapan saya tadi takkan mengurangi kenikmatan anda dalam menonton. Film ini terasa semakin istimewa setiap kali ditonton ulang.

Yang menjadi kunci utamanya adalah penampilan dari Day-Lewis dan Krieps yang kompleks tapi tak terasa berlebihan. Cermati bagaimana detil kecil dari ekspresi dan gestur mereka yang berubah sejalan dengan cerita yang bergerak ke arah yang tak kita duga; hal yang barangkali luput dalam sekali tonton. Sutradara Paul Thomas Anderson memberi ruang agar filmnya bisa bernapas sebelum mencengkeram di akhir. Tak ada yang bisa membuat adegan makan omelet jadi setegang itu. [review lengkap disini]


#01 A Ghost Story


Dari semua film di daftar ini, A Ghost Story adalah film yang dengan premis paling simpel dan gimmick paling gak modal: hantu berwujud seprei yang tak bisa move-on dari pacar. Film ini menampilkan Casey Affleck dalam balutan kostum seprei nyaris sepanjang film serta adegan dimana Rooney Mara memakan pie selama 5 menit tanpa terputus. Tapi jangan salah; film ini bukan komedi. Bermodal konsep receh, A Ghost Story menjadi film hantu paling orisinal, paling filosofis, paling kompleks, dan paling manusiawi yang pernah dibuat.

Mengambil perspektif dari sang hantu, kita diajak untuk mengikuti perjalanannya pasca meninggal. Kita mempelajari bahwa hantu punya persepsi yang berbeda terhadap waktu. Dan lewat itu, David Lowery mengeksplorasi tentang cinta, kehilangan, dan eksistensi manusia. Dampak emosionalnya luar biasa meski tanpa dialog dan konflik yang gamblang. Ia memanfaatkan framing dan tata suara untuk mengeskalasi rasa. Banyak orang yang bilang bahwa film itu termasuk salah satu jenis seni. Saya percaya saat menonton A Ghost Story. [review lengkap disini]

***

Sebagaimana yang kita pelajari dari rivalitas antara penggemar militan DC dengan Marvel, kita tahu bahwa hal lain yang tak kalah menarik selain menonton film adalah berdebat tentangnya. Jadi, jika anda ingin mengkritik daftar saja dan/atau mengutarakan daftar pilihan anda, silakan menuju kolom komentar. Daftar film terbaik setiap orang memang beda-beda, dan saya maklum akan hal tersebut. Permintaan saya cuma satu, tolong jangan masukkan Transformers: The Last Knight. Hehe. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top