0

Academy Awards 2018: Yang Mungkin Tak Anda Tahu

Saya sudah menyusun beberapa hal mengenai Oscar 2018 yang mungkin tak anda tahu (dan mungkin tak begitu perlu anda ketahui).

Oscar 2018 relatif adem ayem. Semua berlangsung nyaris sesuai ekspektasi. Sehari pasca malam Oscar tahun ini tak lagi serasa sehari pasca diputusin pacar saat lagi sayang-sayangnya: sureal. Beda dengan Oscar tahun lalu dimana kita masih tak percaya bahwa Moonlight berhasil mengungguli La La Land sebagai film terbaik lewat sebuah blunder yang dramatis.

Meski demikian, tetap ada beberapa hal menarik yang berhubungan dengan acara Oscar kemarin. Saya takkan membahas topik klasik mengenai "surprise & snubs" karena ini pasti terjadi di awards mana pun, lagipula sudah banyak dibahas oleh media film yang lebih kredibel. Saya juga tak bisa menceritakan bagaimana acara berlangsung sebab saya memutuskan untuk tak datang pasca kekecewaan besar saya tahun lalu. Bukan apa-apa tapi memang karena saya tak diundang.

Yang akan saya bicarakan adalah statistik, karena apa lagi coba topik yang lebih menggoda di dunia ini kalau bukan yang berhubungan dengan matematika. Ada beberapa fakta yang menarik dan rekor yang dicetak dalam gelaran Oscar ke-90. Dengan statistik ini anda bisa membuat teman-teman anda jadi terkesan lalu bilang "WOW". Atau mungkin bisa dijadikan panduan untuk memprediksi Oscar tahun depan. Atau paling tidak bisa dijadikan referensi untuk memilih nomor togel malam ini; yaa daripada asal nebak?!

Sedikit info, artikel ini ditulis dalam 3 menit saja, sama sekali tak butuh waktu sampai 3 jam-an. Saya menulis tanpa mikir sama sekali, apalagi browsing sana-sini. Karena memang sedemikian luasnya wawasan saya soal film dan sebegitu cekatannya saya dalam menulis.

Oscar alias Academy Awards tahun ini merupakan acara kali ke-90, yang berarti ada 89 acara Oscar sebelum Oscar tahun ini (yaa iyalaah). Pemandu acaranya adalah Jimmy Kimmel, orang yang dalam hal popularitas di Indonesia kalah jauh dari Vicky Prasetyo tapi di Amerika sangat terkenal di industri pertelevisian, terutama sebagai host Jimmy Kimmel Live!.

Juga memandu Oscar tahun lalu, Kimmel menjadi orang kedua yang pernah didapuk sebagai host Oscar dalam 2 tahun berturut-turut, menyusul Billy Crystal di tahun 1996 dan 1997. Namun Kimmel belum bisa songong seandainya merasa sudah sepantaran dengan Crystal. Rekor sebagai host beruntun terbanyak masih dipegang Crystal yang pernah memandu Oscar sejak 1990 sampai 1993 tanpa terputus.

Belakangan ini, permasalahan terbesar Oscar sepertinya adalah semakin menurunnya popularitas. Ratingnya makin anjlok dari tahun ke tahun dan Academy belum bisa menemukan formula untuk kembali menggenjot performa dari penghargaan film terbesar sejagad ini.

Sudah jatuh tertimpa tangga diguyur hujan pula, barangkali adalah pribahasa yang tepat. Pasalnya, acara Oscar tahun ini merupakan yang terburuk sepanjang masa. Lembaga survey Nielsen mencatat bahwa acaranya hanya ditonton oleh 26,5 juta orang, turun jauh dari tahun lalu yang menarik 32,9 juta penonton. Rating "Live + Same Day" dari Oscar 2018 juga cuma 18,9, turun dari 22,4 tahun lalu. Sebagai informasi, rating "Live + Same Day" adalah skala yang digunakan oleh Nielsen untuk mengukur popularitas acara TV. Meski berkorelasi, rating tak selalu sebanding dengan jumlah penonton. Rating terendah masih dipegang Oscar 2007 dengan skor 18,66 meski disaksikan oleh 31,76 juta penonton.

Ada spekulasi yang menyebutkan bahwa hal ini disebabkan karena nominee-nya yang tak begitu familiar bagi penonton dan kurang sukses secara box office. Mungkin saja, tapi tahun ini di kategori Best Picture ada Dunkirk dan Get Out yang meledakkan box office, meraup masing-masing $525,6 juta dan $255,0 juta dari seluruh dunia. Bahkan, film terbaik tahun ini, The Shape of Water merupakan pemenang Best Picture dengan pendapatan terbesar dalam 5 tahun terakhir.

Sebagai orang yang mengaku "pengamat" Oscar, saya kira penyebabnya adalah kompetisi Oscar tahun ini yang membosankan. Meski awalnya tak punya frontrunner yang jelas, Oscar 2018 boleh dibilang sebagai salah salah satu Oscar yang paling predictable sejauh ini. Kita tak terlalu peduli karena kebanyakan dari kita sudah tahu hasilnya. Saya yang cuma remah-remah kue di toples Lebaran ini saja hanya keliru menebak 4 kategori saja. Saya bukan bermaksud bilang bahwa ini salah Academy —mereka tak perlu sampai menominasikan film laris macam Transformers demi mengangkat rating. Maksud saya adalah mungkin memang lagi naas saja si Oscar tahun ini, momentumnya lah yang tidak pas.

Kemenangan The Shape of Water tak begitu mengejutkan saya. Sejarah mencatat bahwa jarang sekali sebuah film menjadi Best Picture tanpa memenangkan kategori ensembel di SAG Awards. The Shape of Water memang tak mendapat piala tersebut (yang dibawa pulang oleh Three Billboards Oustide Ebbing, Missouri), tapi film ini nyaris menyapu bersih semua piala film terbaik di penghargaan lain. Terakhir kalinya hal ini terjadi adalah 13 tahun lalu, pada 1995 dimana Best Picture menjadi milik Braveheart. The Shape of Water juga menjadi film pertama sejak 1998 yang menjadi Best Picture tanpa memenangkan kategori akting dan naskah. Itu adalah tahun ketika Titanic memborong 11 Oscar.

Bicara soal performa, Dunkirk merupakan nominee Best Picture dengan pendapatan terbesar tahun ini, sementara Call Me by Your Name merupakan yang terkecil yaitu $32,2 juta saja.

Ada beberapa rekor yang dipecahkan dalam Oscar 2018. Berkat film Get Out, debut perdana Jordan Peele sebagai sineas langsung berbuah Oscar. Ia dinobatkan sebagai penulis skrip kulit hitam pertama yang memenangkan Best Original Screenplay. Oke, anda juga tahu. Yang mungkin anda baru tahu adalah Peele menjadi satu dari 3 orang saja yang pernah dinominasikan sebagai Best Director, Best Original Screenplay, dan Best Director sekaligus. Peele mengikuti jejak James L. Brooks untuk film Terms of Endearment dan Warren Beatty untuk Heaven Can Wait.

Di kategori Adapted Screenplay sendiri, Dee Rees menjadi wanita kulit hitam pertama yang dinominasikan (untuk Mudbound), meski ia harus kalah dari sineas veteran James Ivory (untuk Call Me by Your Name). Sebagaimana anda tahu, opa Ivory merupakan penerima Oscar tertua, yaitu di usia 89 tahun, melewati rekor sebelumnya yang dipegang Christopher Plummer di usia 82 tahun (untuk Beginners). Ini merupakan Oscar perdana bagi Ivory.

Sinematografer veteran Roger Deakins akhirnya juga mendapatkan Oscar perdananya. Sejak saya masih TK, Deakins sudah menjadi nominee Oscar (untuk The Shawshank Redemption). Namun kemudian ia di-PHP oleh Academy sampai 13 kali. 14 menjadi angka mujur bagi Deakins karena ia sekarang bisa tidur sambil memeluk piala Oscar. Filmnya sendiri, Blade Runner 2049 menjadi film pertama yang memenangkan Best Cinematography tanpa masuk nominasi Best Picture sejak Memoirs of Geisha.

Karir panjang tanpa apresiasi Oscar juga berakhir bagi Sam Rockwell, Allison Janney, dan Gary Oldman. Rockwell (untuk Three Billboards) dan Janney (untuk I, Tonya) yang baru pertama kali menjadi nominee Oscar langsung bisa membawa pulang piala masing-masing. Oldman akhirnya mendapatkan Oscar pertamanya berkat Darkest Hours, setelah di 2012 (di Tinker Tailor Soldier Spy) dikalahkan oleh Jean Dujardin dari The Artist. Frances McDormand lebih beruntung; dua kali dinominasikan sebagai Best Actress, dua kali pula ia menang. Piala pertamanya adalah untuk Fargo yang diperoleh 11 tahun yang lalu.

Yang paling kecele dalam Oscar kemarin barangkali adalah kru Weta Digital yang terlibat dalam trilogi Planet of the Apes. Maklum saja, 3 kali mereka masuk nominasi tapi 3 kali pula mereka tak dilirik oleh Academy. Rise of the Planet of the Apes kalah oleh Hugo, Dawn of the Planet of the Apes kalah oleh Interstellar, War for the Planet of the Apes kalah oleh Blade Runner 2049. Saya tak punya masalah dengan Blade Runner 2049, tapi film-film Apes merupakan film yang pada dasarnya digerakkan oleh efek spesial, dan efek spesialnya begitu impresif sampai terlihat realistis. Terlebih film terakhir. Tega betul Academy yang mengandaskan kesempatan terakhir mereka.

**

Sekian celoteh saya soal Oscar tahun ini yang saya garap hanya dalam waktu 3 jam menit saja. Mungkin ada beberapa trivia lain yang anda tahu tapi belum saya cantumkan disini. Bukan karena saya tidak tahu — ingat, saya cekatan menulis dan punya wawasan luas yang tiada tara soal film— mungkin saya lagi lupa saja. Jika berkenan, silakan berbagi dengan pembaca lain di kolom komentar. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top