0

Review Film: 'Fifty Shades Freed' (2018)

Saya tak bisa untuk tak tersenyum simpul sepanjang film, kalau tidak sedang tertawa lepas.

“Honestly, it happened so fast. Make my head spin.”
— Anastasia Steele
Rating UP:
Kalau anda bermaksud untuk menonton film ini, kemungkinan besar anda sudah menonton Fifty Shades of Grey serta Fifty Shades Darker, dan paham akan kualitas filmnya. Anda sudah khatam mengenai apa yang bakal anda lihat. Untuk ukuran film mengenai aktivitas seksual yang berani, menyaksikan film-film adaptasi dari novel karangan E.L. James ini malah seperti melakukan rutinitas ranjang yang begitu-begitu saja. Jadi, calon penonton film terbarunya, Fifty Shades Freed agaknya cuma ada dua tipe: (1) masokis yang ingin menyiksa diri lewat buruknya film, dan (2) pemirsa kurang piknik yang ingin tertawa lewat buruknya film. Keduanya pasti bakal menikmati film ini.


Entah saya termasuk tipe yang mana, tapi saya tak bisa untuk tak tersenyum simpul sepanjang film, kalau tidak sedang tertawa lepas. Saya menikmati film ini. Melihat orang-orang ini mengalami first world problems serasa menyaksikan melodrama sinetron. Mereka dikaruniai dengan rahmat dan nikmat yang begitu melimpah, tapi mengomplain berbagai permasalahan yang relatif remeh dengan wajah yang sangat serius. Tahu siapa yang rela bertukar posisi dengan mereka? Semua orang keles. Lha, kok saya jadi sirik.

Ah, barangkali mereka ingin memperlihatkan kepada kita gambaran dari slogan "uang tak bisa membeli kebahagiaan". Sungguh film yang berfaedah.

Sebenarnya, Christian Grey (Jamie Dornan) dan Anastasia Steele (Dakota Johnson) adalah pasangan yang membosankan; plek memakai template standar kisah cinta pria kaya dengan wanita kere. Awalnya kita berharap "kinky f**kery" akan membuat mereka lebih menarik, tapi kita tahu kita sudah di-PHP. Alih-alih, setelah menonton film ketiganya ini, saya menyadari bahwa mereka menghibur berkat kepribadian, dialog, dan pembawaan mereka yang menggelikan. Orang-orang di sekitar mereka, terutama pembantu dan pengawal pribadi yang disuruh ini itu (entah ikhlas atau tidak), barangkali bisa memberikan cerita dan drama yang lebih berbobot.

Namun hal tersebut pasti akan membuat kecewa pemirsa yang diam-diam mendambakan pernikahan megah ala Grey. Ya, setelah melamar Ana, Christian menggelar pernikahan glamor yang diikuti dengan bulan madu ke Paris, dengan menaiki pesawat pribadi. "Ini milikmu?" tanya Ana. "Milik kita," jawab Christian. Ana terharu, dan anda boleh terkekeh.

Sayangnya bulan madu ini tak berjalan lancar karena muncul gangguan dari Jack Hyde (Eric Johnson), mantan bos Ana yang sekarang banting setir menjadi tukang kuntit, tukang culik, dan tukang ancam. Jack ingin balas dendam kepada Ana dan Christian, kemungkinan besar gara-gara ia kehilangan pekerjaannya sebagai editor di perusahaan majalah. Ia menyabotase perusahaan Grey, sehingga Ana dan Christian harus pulang ke rumah.

Sementara penyelidikan berjalan, Christian kembali bekerja seperti biasa, yang mana pekerjaannya ini meliputi: (1) memakai jas di kantor dan menyuruh orang-orang melakukan sesuatu, serta (2) tak memakai apa-apa di rumah dan melakukan "sesuatu" bersama Ana—kali ini halal karena mereka sudah nikah. Tapi Ana tak mau dikungkung. Walau Christian adalah bosnya bosnya bos Ana, tapi Ana ingin meniti karir sesuai dengan profesionalismenya dalam bekerja. Saat saya bilang profesionalisme, film ini mencontohkannya dengan Ana yang menyuruh asistennya "ganti font dengan ukuran yang lebih besar". Okesiap.

Jalan Christian untuk mengerti Ana sepenuhnya masih panjang. Tak mau kebebasannya diikat oleh ikatan pernikahan (termasuk berjemur topless di pantai), Ana malah memberi isyarat akan salah satu romantisme domestik dalam pernikahan, yaitu: memiliki anak. Ah, wanita memang penuh misteri bro Chris. Ini adalah momen dimana kita melihat Christian sebagai pria dewasa yang punya mentalitas sekelas anak-anak yang punya banyak mainan mahal. Ia cemburu, tak rela berbagi cinta Ana dengan yang lain. Kalau saya tak salah ingat, ini merupakan konflik utama dalam film, karena nanti kita akan melihat adegan drama serius dimana Ana akhirnya murka kepada Christian. Mereka terlihat seperti ibu yang sedang memarahi anaknya yang manja (yaa, sejujurnya dinamika hubungan mereka memang agak creepy sih). "Grow the f**k up!" hardik Ana kepada Christian.

Tawa saya pecah.

Tapi barangkali saya salah ingat, karena entah bagaimana masalah ini tak dibahas lagi nanti. Alih-alih, kita bakal bertemu kembali dengan Jack. Ternyata Jack punya masa lalu dengan Christian. Bukan, bukan seperti yang anda bayangkan, dasar pembaca genit. Bisa dibilang film ini seperti mencoba menghadirkan semacam ketegangan ala film thriller, yang sayangnya ditangani sekenanya sehingga malah terkesan tak meyakinkan sama sekali. Yah, mirip-mirip konflik sinetron lah.

Fifty Shades Freed dijual sebagai film klimaks, menjanjikan film yang paling panas dibandingkan dua filmnya yang lalu. Kita boleh menyalahkan poster dan trailernya yang menawarkan orgasme puncak yang palsu. Namun judulnya sudah betul—film ini memberikan kebebasan, membuat kita bernapas lega. Adegan erotisnya, seperti biasa, terlalu terkalkulasi dan butuh lebih banyak spontanitas. Tapi Johnson dan Dornan terlihat lebih santai. Mereka asyik di adegan-adegan yang playful, misalnya di bagian yang melibatkan eskrim.

Film ini kembali disutradarai oleh James Foley dengan naskah yang digarap oleh suami dari penulis James, Niall Leonard. Foley pernah membuat film yang relatif bagus seperti At Close Range dan Glengarry Glen Ross, tapi Fifty Shades Freed jelas takkan dimasukkan oleh siapapun di kategori yang sama dengan film-film tersebut. Dalam Fifty Shades Freed, ia sepertinya sudah tahu apa yang harus ia lakukan, sehingga tak berusaha terlalu keras. Foley tahu bahwa tugas satu-satunya adalah memuaskan penonton yang masih bertahan untuk mengikuti seri ini sampai akhir. Dan untuk itu, film ditutup dengan potongan adegan ikonik dari film-film sebelumnya sembari diiringi lagu "Love Me Like You Do"-nya Ellie Goulding.

Agaknya kalau kita sudah familiar dengan sesuatu, ia memang jadi terlihat tak begitu buruk. Sekarang saya kira saya bisa menonton ulang semua film Fifty Shades dan memberi mereka rating yang lebih tinggi. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Fifty Shades Freed

105 menit
Dewasa
James Foley
Niall Leonard (screenplay), E.L. James (novel)
Michael De Luca, E. L. James, Dana Brunetti, Marcus Viscidi
John Schwartzman
Danny Elfman

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top