0

Review Film: 'Avengers: Infinity War' (2018)

Apapun kritik kita sekarang hanya bisa terjawab sepenuhnya saat Bagian 2 dirilis tahun depan. Untuk sekarang, 'Avengers: Infinity War' adalah trailer yang epik.

“We're in the endgame now”
— Doctor Strange
Rating UP:
Akhirnya kita sampai juga disini: Avengers: Infinity War, bagian pertama dari babak (yang katanya) penghujung dari kisah Avengers yang telah dibangun dengan telaten selama satu dekade. Sutradara Anthony & Joe Russo mendapat kesempatan untuk menggabungkan jalinan kisah dari 18 film Marvel Cinematic Universe (MCU) sebelumnya dan menampilkan tak kurang dari 284 karakter superhero ke dalam satu film. Kabarnya, film ini akan menjadi film yang serius karena punya sense of finality, sehingga kita diwajibkan untuk menanggapi apa yang terjadi dengan serius pula. Tapi saya dan anda bahkan bang Haji pun tahu bahwa tak ada superhero yang mati terlalu lama.

Atau jangan-jangan ada? Saya tak berani bilang. Takut nanti dikirimi santet oleh pembaca.


Sebagai satu film tunggal, Infinity War merupakan film dengan plot yang relatif hampa—amorf karena tidak punya bentuk yang mantap. Benar, ada sekitar 3 atau 4 subplot yang punya awal dan tuntas di akhir, tapi secara keseluruhan kita tak menangkap struktur yang tegas setelah selesai menonton. Namun tentu saja film ini tak bisa dinilai seperti itu. Infinity War sudah bukan lagi sekadar film, melainkan even. Kita tak bisa sekonyong-konyong menontonnya kalau belum menyaksikan film-film yang lalu. Yang baru pertama kali berkenalan dengan MCU akan kebingungan karena film ini membutuhkan pengetahuan MCU level intermediet agar bisa lulus. Bahkan, terkadang saya juga tak begitu tahu apa yang sedang dibicarakan oleh karakternya.

Menimbang hal tersebut, hal terbaik yang bisa saya katakan untuk filmnya adalah bahwa Avengers: Infinity War merupakan ultimate fanservice bagi penggemar MCU, terutama bagi yang ingin melihat Iron Man (Robert Downey Jr.) dan Doctor Strange (Benedict Cumberbatch) beradu ego. Atau Star-Lord (Chris Pratt) dan Thor (Chris Hemsworth) beradu macho. Yang terakhir kurang tepat sih, soalnya cuma Star-Lord saja yang merasa kemachoannya terancam. Thor tidak.

Ada begitu banyak kans kombinasi yang bisa muncul dengan karakter sebanyak ini. Dan untuk itu, Russo bersaudara layak diberi kredit karena mampu menghandel aksi juggling ini dengan cukup baik. Bahkan dengan durasi mencapai dua setengah jam, hal ini terbilang hampir mustahil. Agar satu layar tak penuh sesak, skrip mengkondisikan agar para jagoan ini terpisah menjadi beberapa grup yang terlibat dalam subplot yang berbeda. Satu bagian memang lebih menarik daripada beberapa yang lain. Namun entah bagaimana caranya, film tak begitu berantakan—kita tetap berhasil dibuat untuk bisa merasakan bahwa semuanya berlangsung secara simultan.

Meski demikian, seperti halnya di dunia nyata, disini Hukum Ketiga Newton mutlak berlaku. Sebelum lanjut, saya mau nanya: anda terpesona tidak dengan saya yang bawa-bawa teori Fisika buat ulasan film superhero? Okefine.

Untuk membuat karakter-karakter berkekuatan super yang berjumlah besar ini muat dalam kanvas yang kecil, maka film harus mengkerdilkan skala, kemungkinan, kekuatan, dll agar pas dengan cerita. Jadi, akan ada banyak sekali hal-hal serba-kebetulan atau kenapa-gak-gitu yang terjadi demi kepentingan plot. Beberapa karakter mendapat porsi yang minim sekali, rasanya gak ngaruh seandainya ia tak muncul sekalian. Film ini berjalan dengan plotting yang sederhana, karena kalau tidak, kita akan mendapatkan film yang lebih rumit atau lebih panjang atau malah lebih kacau.

Jadi kenapa semua pahlawan ini bergabung? Film ini mengkonfirmasi kecurigaan saya bahwa memang ada oom-oom yang rela membunuh orang lain demi mendapatkan batu akik langka. Salah satu dari oom-oom tersebut adalah Thanos (Josh Brolin dalam balutan CGI), alien raksasa megalomaniak yang punya rencana untuk melenyapkan separuh semesta. Sementara batu akik langkanya adalah 6 Batu Abadi yang mampu memberi kekuatan tak terbatas. Bersama antek-anteknya, Thanos meneror berbagai planet demi mencari batu tadi, termasuk Asgard yang dihuni Thor dan Loki (Tom Hiddleston).

Nah, meski rencananya adalah memusnahkan planet, Thanos bukanlah villain yang murni jahat. Memang tak sejalan dengan hati nurani dan prinsip superhero kita, tapi kita bisa memahami maksudnya apa. Ambisinya yang keji punya nuansa yang melankolis. Marvel dengan bijak memberikan latar belakang yang memadai bagi villain super yang nyaris tak bisa ditaklukkan ini. Dan film juga memberinya momen dramatis lewat relasinya dengan dua anak angkatnya, Gamora (Zoe Saldana) dan Nebula (Karen Gillan).

Tak mungkin ada film jika isinya cuma Thanos yang langsung dikeroyok oleh 539 superhero kita. Oleh karena itu kita akan diajak berkunjung ke berbagai planet, seperti Knowhere, Vormir, dan Nidavellir, serta berbagai kota di bumi, mulai dari New York sampai Wakanda. Para superhero juga masih terpencar di berbagai belahan semesta. Star-Lord dan krunya baru saja bertemu Thor yang mengambang di luar angkasa. Doctor Strange meminta bantuan Iron Man yang kemudian diboncengi penumpang gelap, Spider-Man (Tom Holland). War Machine (Don Cheadle) yang ditinggal Iron Man berusaha mengontak Captain America (Chris Evans). Vision (Paul Bettany) dan Scarlet Witch (Elizabeth Olsen) harus keluar dari persembunyian mereka di Skotlandia. Lalu, ada pula Bruce Banner (Mark Ruffalo) yang gusar karena Hulk tak mau keluar.

Saya takkan meng-spoiler lebih lanjut. Saya cuma akan bilang bahwa Thanos punya kemampuan untuk melawan semua jagoan kita. Iya, bahkan ilmu tenung Doctor Strange yang tidak main-main itu. Seperti biasanya film MCU, film ini juga diisi banyak lelucon dan lumayan banyak yang mengena. Efek spesialnya kompeten. Tapi adegan aksinya cenderung menjemukan; ritmenya kurang enerjik dan koreografinya relatif lebih statis. Saya harus membandingkan karena sudah melihat pencapaian Russo Bersaudara yang lebih baik lewat film mereka sebelumnya, Captain America: Civil War.

Sekarang soal klaim "film serius" dari Marvel. Film ditutup ending yang gelap, mengindikasikan tragedi yang lebih besar dari film MCU manapun yang pernah ada. Kendati demikian, bagian emosionalnya terasa tidak sekuat seperti yang dimaksudkan oleh pembuatnya. Apakah karena tendensi tragedi-film-superhero-hanya-sementara membuat momen dramatisnya kurang bertaji? Ataukah karena stake-nya yang kurang membumi, berbeda dengan Civil War? Apapun alasannya, film ini kurang greget secara emosional padahal itulah poin utamanya.

Penonton, yang saya yakin sebagian besarnya mengantri lama-lama atau jauh-jauh hari membeli tiket online, akan puas dengan film ini karena mendapatkan hal yang sepadan dengan harga yang mereka beli. Namun film ini menjanjikan ide yang menarik yang butuh hasil yang sepadan pula. Meski begitu, apapun kritik kita sekarang hanya bisa terjawab sepenuhnya saat Infinity War Bagian 2 dirilis tahun depan. Untuk sekarang, Avengers: Infinity War adalah trailer yang epik. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Avengers: Infinity War

149 menit
Remaja
Anthony Russo, Joe Russo
Christopher Markus, Stephen McFeely
Kevin Feige
Trent Opaloch
Alan Silvestri

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top