0

Review Film: 'You Were Never Really Here' (2018)

Ini dia film aksi-thriller yang tidak tertarik pada aksi tapi lebih kepada dampak psikologis yang ditimbulkannya.

“Joe, wake up. It's a beautiful day.”
— Nina
Rating UP:
Kalau anda kebetulan melihat posternya yang menampilkan Joaquin Phoenix yang menenteng sebuah palu dengan ekspresi sangar lalu mengira bahwa ini adalah film aksi-thriller brutal semacam Oldboy, maka anda akan kecele. Palunya masih akan dipakai sih, dan memang untuk menggebuk orang, tapi You Were Never Really Here bukan soal aksi. Ini dia film aksi-thriller yang tidak tertarik pada aksi tapi lebih kepada dampak psikologis yang ditimbulkannya. Film ini tidak berlama-lama di sekuens aksi, alih-alih menekankan pada emosi yang terselubung dan permainan atmosfer.


Ini baru film panjang keempat dari Lynne Ramsay, padahal debut penyutradaraannya sudah dimulai sejak 18 tahun lalu lewat Ratcatcher. Sebagai tambahan, You Were Never Really Here juga berjarak cukup jauh dari film Ramsay sebelumnya We Need to Talk About Kevin, yaitu 6 tahun. Dan ada alasan di balik itu semua. Ramsay dikenal sebagai sineas yang takkan berkompromi dalam setiap karyanya, dan ia juga demikian di film terbarunya ini. Ia terkesan tak begitu peduli akan risiko penonton yang bakal kehilangan ketertarikan saat meleng sebentar, yang mana saya yakin akan sering terjadi.

Dengan durasi yang minimalis untuk ukuran film artsy, hanya 90 menit saja, film ini berusaha untuk menampilkan sesedikit mungkin tapi menyampaikan sebanyak mungkin apa yang ada di bawah permukaan, sampai di titik yang kadang-kadang membingungkan. Sesekali Ramsay akan menyelipkan potongan flashback secara mendadak. Narasinya nyaris abstrak, tapi uniknya, ini berhasil dalam membuat filmnya bergerak.

Kekeliruan pertama yang mungkin kita lakukan adalah menge-judge film ini sebelum menonton hanya berdasarkan premis klisenya mengenai "Last Action Hero", entah anda menyukai premis tersebut atau membencinya. Phoenix bermain sebagai Joe, seorang pria gempal yang suram dan terlihat menakutkan. Pertama kali kita melihat Joe, tangannya mengelap palu yang berlumur darah. Terlihat pula sebuah lakban. Joe kemudian membakar foto seorang gadis kecil. Ia seperti baru selesai melakukan sesuatu yang mematikan. Mungkinkah ia seorang pembunuh berantai?

Ternyata bukan.

Klien Joe berikutnya adalah seorang pejabat (Alex Manette) yang meminta untuk menyelamatkan anaknya, Nina (Ekaterina Samsonov) yang diduga diperjualbelikan di sebuah tempat prostitusi bawah umur. "Mereka bilang kamu brutal". "Saya bisa begitu," jawab Joe tenang, setenang jawaban Mendikbud saat menanggapi keresahan peserta UNBK yang curcol lewat meme. Tentu saja, misi pamungkas ini takkan berjalan selancar misi-misi sebelumnya, sebab kali ini melibatkan konspirasi pejabat kelas atas.

Kekeliruan kedua terjadi kalau kita terlalu berfokus pada plot soal konspirasi tersebut lalu menyusun kepingan cerita untuk membentuk narasi yang lurus. Bukan itu poinnya. Di film lain yang lebih generik, premis seperti ini akan menjadi film aksi standar. Namun Ramsay tak terpaku pada plot. Alih-alih, ia menggunakannya untuk mengeksplorasi psikologi dari karakternya. Agar kita tak teralihkan, Ramsay memposisikan aksi-nya di kejauhan. Kita tak terlibat di dalamnya, entah hanya mengamatinya lewat kamera CCTV atau cuma bisa melihat dampak yang terjadi setelahnya.

Film ini bisa dibilang sebagai studi karakter, dan karakternya adalah salah satu karater yang sulit untuk di-studi-kan. Tindakan yang bijak saat kita memperhatikan bagaimana Joe, yang sepulangnya "kerja", merawat sang ibu yang sudah renta di rumah. Atau melihat aksinya yang menjalankan kredo "hidup segan, mati tak mau", seperti membekap diri dengan kantong kresek atau berdiri melewati batas aman di stasiun kereta. Atau bagaimana Joe menggenggam hangat tangan pria yang ditembaknya sebelum tewas. Saat ia membuka baju, tampaklah bekas luka di sekujur tubuhnya. Apa yang terjadi dengan Joe? Kita tak tahu pasti, tapi dari potongan flashback, sepertinya ia pernah mengalami KDRT semasa kecil dan PTSD saat beranjak dewasa.

Joe adalah pria yang menakutkan tapi juga rapuh. Ia terlihat linglung, tak memahami bagaimana waktu berjalan atau bahkan soal kewarasannya sendiri. Mana yang nyata, mana yang khayal? Hidupnya tersusun atas kepingan dari momen, dan film Ramsay bergerak seolah mengikuti pikiran Joe. Ini tak begitu berbeda dengan yang dilakukan Ramsay dalam We Need to Talk About Kevin dimana kita dibawa ke dalam pikiran seorang wanita yang dibuat sinting gara-gara anaknya yang psikopat. Kita tak begitu tahu kronologis kapan-terjadi-apa, tapi kita dibuat sukses menangkap emosinya.

Seolah performa di film-filmnya yang lalu tak cukup intens, Phoenix tampil sangat kuat disini. Ia menggempalkan diri dan menebalkan jenggot untuk memberikan kesan intimidatif, tapi ekspresinya yang dingin dan kaku mencerminkan vulnerability. Mengikuti tradisi semua sosiopat dalam dunia sinema, pembawaan sampai gesturnya yang paling kecil terlihat sangat menegangkan. Ia siap meledak kapan saja. Ramsay mengeskalasi intensitas ini dengan scoring perkusif dan distortif dari Jonny Greenwood, berangkat jauh dari karyanya di Phantom Thread.

You Were Never Really Here begitu mempercayai penonton sampai ia merasa tak perlu untuk menjelaskan. Film ini takkan berhenti untuk memaparkan dengan gamblang apa yang terjadi. Pembuatnya mengasumsikan kita cerdas dan mampu menghubungkan fragmen menjadi satu kesatuan. Kita mungkin juga sebaiknya memasrahkan diri untuk ditenggelamkan oleh narasinya. Dan bagaimana kita tak percaya dan pasrah begitu saja, lha kita berada di tangan sineas yang sangat kompeten. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

You Were Never Really Here

90 menit
Dewasa
Lynne Ramsay
Lynne Ramsay (screenplay), Jonathan Ames (novel)
Rosa Attab, Pascal Caucheteux, James Wilson, Lynne Ramsay
Thomas Townend
Jonny Greenwood

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top