0

Review Film: 'Anon' (2018)

Dengan treatment yang seperti ini, wajar dong kalau penonton menangkap filmnya dengan keliru?

“It's not that I have something to hide. I have nothing I want you to see.”
— The Girl
Rating UP:
Kadang-kadang ketidaktahuan bisa menjadi berkah. Bayangkan seandainya kita terus dijejali dengan berbagai macam informasi nan komprehensif tanpa henti, hidup pasti akan sesak dan bikin stres. Dalam Anon, orang bisa dengan praktis mengakses semua informasi mengenai apa saja, mulai dari nama dan profesi seseorang, hingga komposisi dalam makanan. Semua tersaji dengan instan, hanya dalam sekejap mata.


Ini adalah satu lagi ide provokatif dari Andrew Niccol, penulis/sutradara yang bisa dibilang berspesialisasi mengangkat cerita tentang kehidupan manusia yang sangat bergantung pada teknologi. Di Gattaca ia bermain-main dengan konsep rekayasa DNA. Dalam In Time, orang bisa memperjualbelikan usia. Versi masa depan dalam Anon cenderung lebih dekat dengan realita masa kini. Lha, saat ini saja kita sudah dibanjiri dengan jutaan informasi hanya dari satu telepon genggam.

Namun, ide saja tak cukup untuk menjustifikasi keberadaan sebuah film. Ada film yang punya ide bagus, tapi belum tentu dieksekusi dengan greget. Anon termasuk dalam kasus tersebut. Konsep dunia yang sangat thought-provoking tadi dipakai hanya sebagai bumbu untuk sebuah film thriller whodunit yang terus terang tak begitu menggigit. Ia tak punya sensasi ketegangan, sehingga pengungkapan di momen puncak takkan membuat terhenyak. Dinamika alurnya sepucat palet warna yang digunakan untuk gambar-gambarnya.

Kendati demikian, anda semestinya tak luput menyaksikan sendiri bagaimana briliannya Niccol membangun dunianya. Secara singkat, mekanismenya adalah augmented reality, dimana semua info, termasuk iklan, di-streaming langsung ke mata. Demikian pula sebaliknya; semua yang dilihat mata akan di-upload ke jaringan internet berupa cloud storage yang disebut dengan "The Ether". Tak ada lagi privasi, karena semua peristiwa punya rekaman, tak peduli entah itu di WC atau kamar tidur. Informasi ini bisa diakses oleh siapa saja tergantung level otoritas masing-masing.

Namanya manusia, tak ada kemajuan yang tak menimbulkan peluang kerja nyeleneh. Dalam hal ini, muncul para hacker yang bisa menghapus rekaman bahkan menge-hack apa yang dilihat mata. Dengan imbalan yang sepadan, mereka bisa memodifikasi rekaman yang tak ingin dilihat orang lain. Masalah muncul saat rekaman hasil modifikasi tersebut berhubungan dengan aksi pembunuhan berantai.

Disinilah detektif Sal (Clive Owen) dibuat pusing sekaligus agak semangat. Jika biasanya aksi kriminal bisa langsung dipecahkan karena polisi bisa melihat sendiri kejadian di TKP (dan Sal tampak sudah agak bosan melakukannya), kali ini ia harus turun ke lapangan untuk melakukan apa yang seharusnya ia kerjakan, yakni mendeteksi. Kebetulan sekali, sehari sebelumnya ia melihat seorang wanita yang tak punya data. Yang tidak diketahui dianggap membahayakan, sehingga sang wanita ditengarai punya andil dalam kasus tersebut. Logika Sal dkk: tak mungkin menyembunyikan diri kalau tak bersalah bukan?

Kemudian film bergerak menggunakan format film detektif noir ala-ala yang standar. Sal menyamar menggunakan identitas baru, lalu berusaha mendekati sang wanita (Amanda Seyfried). Sal tahu bahwa sang wanita merupakan salah seorang hacker. Ada ketertarikan seksual lalu begitulah. Apakah sang wanita adalah pelakunya? Anda lebih tahu; coba tebak siapa yang paling mencurigakan.

Yang lebih berkesan bagi saya adalah bagaimana teknik para hacker yang dengan lihai memanfaatkan celah dari teknologi canggih ini. Mereka pada dasarnya mampu memanipulasi realitas. Mirip-mirip jurus Sharingan yang digunakan Sasuke Uchiha dari anime Naruto. Mereka bisa mengkondisikan orang melihat sesuatu yang tak ada disana atau sebaliknya. Di satu waktu, Sal menyaksikan apartemennya terbakar. Di lain waktu, Sal kehilangan memori akan anaknya. Dan film beberapa kali mengajak kita untuk melihat langsung lewat mata karakter. Untuk mengatasi penjahat, Sal juga harus bisa menemukan celah dari celah yang dimanfaatkan hacker.

Film ini terkesan memanfaatkan dunianya yang berkonsep tinggi hanya untuk menyajikan thriller detektif. Namun di momen akhir, terungkaplah apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Niccol. Alih-alih, justru sebaliknya; concern-nya ialah soal privasi di dunia berbasis teknologi informasi. Sayangnya, film terlihat lebih berfokus pada aspek misterinya yang gak nendang itu. Dengan treatment yang seperti ini, wajar dong kalau penonton menangkap filmnya dengan keliru? ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Anon

100 menit
Dewasa
Andrew Niccol
Andrew Niccol
Daniel Baur, Andrew Niccol, Oliver Simon
Amir Mokri
Christophe Beck

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top