0

Review Film: 'Hotel Transylvania 3: Summer Vacation' (2018)

Ternyata film ini memang bukan buat saya sama sekali, dimana ia kembali menghadirkan semua hal yang membuat saya meringis dari pendahulunya.

“I've had enough with this nonsense.”
— Abraham Van Helsing
Rating UP:
Kalau anda sudah kenal saya, maka anda tentu tahu bahwa saya tak begitu ngeklik dengan dua film Hotel Transylvania. Meski begitu, toh saya tetap mencoba untuk menonton Hotel Transylvania 3: Summer Vacation, cuma ingin mengecek saja jangan-jangan saya bisa menyukainya. Ternyata film ini memang bukan buat saya sama sekali, dimana ia kembali menghadirkan semua hal yang membuat saya meringis dari pendahulunya dan di banyak kesempatan melipatgandakannya. Mungkin sayanya saja yang tak suka film animasi anak-anak. Tapi hei, Incredibles 2 kan juga film anak-anak.


Sebagaimana kita ketahui, Hotel Transylvania bercerita tentang Drakula (Adam Sandler) dan penghuni hotel berisi monster yang dikelolanya, Hotel Transylvania. Dari film sebelumnya kita sudah melihat bagaimana anak Drakula, Mavis (Selena Gomez) yang menikah dengan seorang manusia bernama Johnny (Andy Samberg) lalu punya anak manusia berkemampuan vampir, Dennis. Sekarang, mereka akan berlibur naik kapal pesiar ke Segitiga Bermuda. Yang bikin rencana adalah Mavis yang kasihan melihat ayahnya jenuh bekerja. Dan semua penghuni Hotel Transylvania diajak!

Artinya, kita akan kembali ketemu sama si vampir buyut Vlad (Mel Brooks), Frankenstein (Kevin James), Wayne si manusia serigala (Steve Buscemi), Murray si mumi (Keegan-Michael Key), Griffin si manusia tak terlihat (David Spade), penyihir, naga, goblin, dan segala jenis monster yang bisa kita bayangkan di kapal tersebut. Yang paling saya suka dari film-film Hotel Transylvania, ya tetap cuma hal ini; desain karakternya yang sangat unik dan variatif.

Eh tapi, kira-kira yang punya kapal bakal komplain gak nih kalau penumpangnya monster semua? Tidak juga, sebab kita punya kapten kapal yang sangat kompeten, Ericka (Kathryn Hahn). Lagipula sebagian besar awak kapal sebetulnya monster juga. Tapi alasan sebenarnya adalah karena liburan ini ternyata cuma jebakan! Kawan-kawan Hotel Transylvania kita tak tahu bahwa Ericka rupanya adalah anak dari musuh bebuyutan Drakula, yaitu Van Helsing (Jim Gaffigan). Yang lebih parah, Van Helsing ternyata masih hidup dan ada di kapal pesiar tersebut! Astaga!!!

Kacaunya, Drakula yang sudah lama menduda malah nge-zing sama Ericka! Zing, kalau anda ingat, adalah istilah untuk jatuh cinta pada pandangan pertama di dunia monster. Jadi, selagi Ericka menjalankan rencananya untuk membunuh Drakula, Drakula sendiri malah tepe-tepe sama Ericka. Cuma Mavis yang curiga, tapi sebagian besar alasannya sih karena dia khawatir kalau bakal dapat seorang ibu tiri.

Dan cuma begitulah plotnya. Sebab ini adalah film komedi dimana karakter kita diberi lokasi, lalu situasi akan menjadi kacau dengan sendirinya. Mayoritas leluconnya masih berhubungan dengan ciri khas karakter masing-masing. Wayne dan istrinya lagi-lagi kepayahan dengan anak-anak mereka yang jumlahnya sudah sebanyak bulu mereka. Frankenstein harus rela jual anggota badan karena kalah berjudi, Dennis menyelundupkan anjing raksasanya agar bisa masuk kapal, dan si monster agar-agar Blobby, yaa, ber-blobby ria, kali ini dengan anak yang diciptakannya sendiri (anda akan paham saat melihatnya sendiri).

Namun, meski semua dihadirkan dengan gesit, lelucon-lelucon visual murni ini terasa tumpul dan tak kreatif. Hmm kenapa ya? Ya pastinya karena kita sudah pernah melihatnya di film-film yang lalu. Komedi paling menarik adalah prolog di tahun 1987 yang memperlihatkan Van Helsing yang berkali-kali gagal maning memburu Drakula yang selalu bisa selamat berkat indra vampir dan hoki yang bagus, walau formatnya adalah lelucon fisik. Sayang, komedi selebihnya tak punya rhyme or reason to exist. Yang selalu terasa mengganggu bagi saya adalah pembawaan karakternya yang hiperaktif tanpa alasan yang jelas, menggelinjang tak karuan bahkan saat sedang ngobrol biasa. Yah anda tahulah, soalnya bertingkah konyol/membuat suara lucu = komedi ...

... mungkin?

Selain itu, kita juga bakal disuguhkan dengan lelucon kentut, maksud saya, dua lelucon kentut. Karena satu lelucon kentut itu masih kurang. Dan kalau anda sangat suka dengan momen dance di film sebelumnya, maka anda beruntung, karena ini punya tiga momen dance, yang salah satunya melibatkan adu lagu EDM dan "Macarena". Meski begitu, setting baru ini mengijinkan sutradaranya Genndy Tartakovsky, yang kembali untuk ketiga kalinya, menyajikan beberapa visual yang sangat menarik. Film ini barangkali adalah film dengan kualitas animasi terbaik dari semua film Hotel Transylvania. Momen puncak terjadi di pulau Atlantis yang mirip Las Vegas dengan semua warna-warninya yang gemerlap. Ada pula sekuens bawah air yang detil airnya boleh juga.

Lalu saya jadi sadar bahwa film ini barangkali memang khusus dibuat untuk anak-anak yang sangat-sangat-sangat-kecil sekali. Semua ini cocok sekali ditonton oleh anak-anak usia 5 tahun ke bawah yang tak peduli amat sama plot atau permainan kata, melainkan cuma butuh stimulasi visual yang bagus untuk perkembangan neuron mereka. Sementara bagi yang sudah lewat lima tahun kayak saya dan yang sudah bisa baca review ini, ada cara gak sih buat mutus neuron sebentaaar saja? ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem dan di instagram: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Hotel Transylvania 3: Summer Vacation

97 menit
Semua Umur
Genndy Tartakovsky
Genndy Tartakovsky, Michael McCullers
Michelle Murdocca
Mark Mothersbaugh

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top