0

Review Film: 'Mission: Impossible - Fallout' (2018)

Tanpa perlu memecahkan cerita yang terus terang nanti menjadi sangat rumit dengan twist yang berdempet-dempet, film ini tetap sukses bekerja sebagai film aksi yang istimewa.

“I'll figure it out.”
— Ethan Hunt
Rating UP:
Menonton Mission: Impossible - Fallout, saya baru sadar kalau Ethan Hunt sering nyeletuk, "Bakal ku usahain deh", kalimat yang agaknya tak pantas kalau diucapkan oleh seorang agen rahasia yang memegang kunci atas keselamatan umat manusia. Terkesan sekenanya, seolah tak punya rencana. Ia kan bukan montir yang sudah tiga kali kita kunjungi selama tiga hari berturut-turut tapi masih belum juga menemukan apa yang salah dengan sepeda motor kita yang mogok (eh, malah curcol).

Namun itulah pesona film-film Mission: Impossible. Kita menikmati saat Ethan Hunt melakukan aksi mata-matanya yang menantang maut dengan serampangan. Salah satu alasannya adalah karena semua digarap dengan sangat baik. Namun alasan sesungguhnya adalah karena Tom Cruise itu gila dan kita suka melihatnya begitu.


Apa yang bermula sebagai film mata-mata yang stylish saat disuguhkan oleh Brian De Palma pada 1996, belakangan sudah bertransformasi menjadi Film Dimana Tom Cruise Melakukan Hal Edan Agar Penonton Senang dan Tegang. Di setiap film, kita menyaksikan satu sekuens yang absurd dan berbahaya, yang di kemudian hari mengkondisikan kita agar berharap setiap kegilaan film terbarunya akan melewati film pendahulunya. Ini adalah hal yang sulit dilakukan mengingat betapa spektakulernya sekuens aksi di setiap film. Namun Fallout berhasil melakukannya dengan mengesankan.

Saya tidak bicara soal adegan semacam memanjat Burj Khalifa di Ghost Protocol atau bergelantungan pada pintu pesawat di Rogue Nation. Fallout relatif tak punya adegan tunggal nan ikonik semacam itu. Alih-alih yang kita dapatkan adalah adegan aksi dalam bentuk rangkaian, sebuah paketan, yang sukses membuat kita mencengkeram kursi bioskop dalam durasi yang panjang. Ini mengingatkan saya pada film-film Die Hard, dimana satu sekuens hadir menyusul sekuens aksi lainnya nyaris tanpa terputus. Ia bergerak cepat, hampir tak memberi kita waktu untuk rehat.

Sekuens-sekuens tersebut antara lain: (1) terjun payung dari pesawat di ketinggian 25.000 kaki, dimana Cruise sebelumnya harus berlatih selama setahun penuh. Dan saat anda mulai kagum, anda lalu menyadari bahwa PASTI ada kameramen yang bertugas mengambil satu adegan long-take tersebut; (2) kejar-kejaran dengan motor (lalu kemudian mobil) di jalanan Paris yang punya lalu lintas padat, dimana Cruise melawan arah (dan melanggar lampu merah) karena diuber oleh tak kurang dari selusin kendaraan; (3) kejar-kejaran dengan kaki, dimana Cruise berlarian dan berloncatan setengah mati di atap gedung-gedung kota. Salah satunya sampai mengakibatkan kakinya patah sehingga syuting sempat ditunda beberapa waktu; serta (4) kejar-kejaran dengan helikopter, dimana Cruise harus bergelantungan terlebih dulu kemudian baru menyopiri helikopter itu sendiri tanpa bantuan pilot cadangan, demi mengejar helikopter lain lewat beberapa manuver yang berbahaya.

Sekarang bukan lagi soal sekuens, melainkan set-pieces dan momentum. Ini barangkali juga seperti membantah lelucon yang bilang bahwa film-film Mission: Impossible sejak Ghost Protocol cuma dibangun atas sekuens aksi; sekuens dulu, baru plot dibikin belakangan lewat itu. Oke, mungkin iya. Tapi di Fallout, plot terkesan bukan pengantar sekuens aksi belaka, alih-alih sekuens adalah termasuk plot itu sendiri. Jadi, tanpa perlu memecahkan cerita yang terus terang nanti menjadi sangat rumit dengan twist yang berdempet-dempet, film ini tetap sukses bekerja sebagai film aksi yang istimewa.

Menjadi sutradara pertama yang menggarap dua film Mission: Impossible, Christopher McQuarrie menyuguhkan film yang bisa dibilang merupakan satu-satunya sekuel langsung. Anda tak perlu-perlu amat sih menonton Rogue Nation, tapi lumayan membantu, karena stakes-nya datang dari dinamika hubungan antarkarakter kunci. Banyak yang bilang bahwa konflik kali ini akan jadi sangat personal bagi Ethan Hunt (perasaan yang kemarin katanya juga personal). Namun sebetulnya ini karena investasi kita terhadap karakter dan bagaimana cerdiknya McQuarrie menjalin film ini dengan apa yang terjadi di film sebelumnya.

Makanya, kita berjumpa lebih banyak sama partner lama Ethan sesama agen IMF, Luther (Ving Rhames) dan Benji (Simon Pegg), serta rekan dari IM6, Ilsa (Rebecca Ferguson). Kita juga bakal ketemu dengan istri (atau mantan?) Ethan, Julia (Michelle Monaghan). Solomon Lane (Sean Harris) yang tak dibunuh Ethan di Rogue Nation menjadi satu-satunya villain yang muncul di dua film sebagai pemain kunci.

Fallout dibuka seperti lazimnya film Mission: Impossible, dimana Ethan dikirimi misi yang (kalau diterima—kapan ia pernah menolak) mengharuskannya menyelamatkan dunia. Kali ini melibatkan 3 plutonium agar jangan sampai jatuh ke tangan teroris berjuluk John Lark dan komplotannya yang bernama The Apostles. Mereka adalah para anarkis yang percaya bahwa untuk menciptakan dunia harus dengan meledakkannya terlebih dahulu. Hmm, ideologi yang terdengar familiar.

Semua memang tak pernah berjalan dengan simpel bagi tim Ethan. Salah satu yang bikin ribet adalah kehadiran Walker (Henry Cavill), agen yang diutus kepala CIA (Angela Bassett) untuk memantau langsung operasi sekaligus mengamati Ethan di lapangan. Si kepala CIA tak suka cara kerja Ethan yang seperti "pisau bedah"; ia lebih memilih "palu". Ada pula seorang broker kriminal berjuluk White Widow (Vanessa Kirby) yang membuat usaha pengambilalihan plutonium menjadi tak mudah. Intrik spionase dalam film ini selevel dengan Mission: Impossible pertama, dan ini bukan sekadar karena ia kembali menggunakan trik topeng klasik, itu lho, yang bisa meniru wajah siapa saja.

Namun kita tak diberi waktu untuk berhenti lalu mencerna apa yang terjadi, sebab McQuarrie membuat agar ritme filmnya selalu bergerak dengan sigap. Durasinya lumayan panjang, mencapai dua jam lebih, tapi film ini rasanya tak punya satupun momen yang draggy. Semua aspek teknisnya disajikan dengan sedemikian rupa, menciptakan sebuah film aksi yang padat dan selalu intens. Adegan aksinya disajikan dengan tegas dan jelas, kita jarang mengalami disorientasi. Ada pertarungan adu jotos yang melibatkan Ethan dan Walker di sebuah kamar mandi, yang bakalan sukses membuat penonton meringis karena kita bisa merasakan setiap tonjokan, bantingan, dan hantaman.

Dan karena disorot secara practical, ada semacam sensasi khas yang yang biasanya cuma kita dapatkan dari film-film aksi klasik. Kesan realistis dalam setiap stunt-nya sukses mengeskalasi ketegangan, karena kita percaya bahwa kita memang sedang menyaksikan orang sungguhan melakukan aksi sungguhan yang benar-benar membahayakan nyawa. Tentu saja, ada campur tangan efek spesial, tapi itu cuma buat memoles saja, bukan bahan baku utama. Di era sinema yang sesak dengan efek spesial, film ini mengingatkan kita akan apa pencapaian terbaik yang bisa diraih oleh sebuah film aksi.

Sebagian besar hal tersebut berada di pundak Tom Cruise, yang ngomong-ngomong sudah berusia 56 tahun. Lima. Puluh. Enam. Seolah tak peduli usia, kapabilitasnya dalam menghandel adegan aksi masih tetap mengagumkan. Ia melakukan sendiri berbagai stunt menantang maut, langsung di depan kamera. Bagusnya, tanpa terasa berusaha terlalu keras untuk membuat kita terkesan; semua berada dalam porsi yang pas dalam film. Entah itu berlarian untuk durasi yang lama (baru melihatnya saja saya sudah ngos-ngosan), bergelantungan ratusan meter di udara, atau saat naik motor dengan liar dimana ia sengaja tak memakai helm, yaah anda tahulah, untuk membuktikan bahwa ia berani ngebut tanpa bantuan stuntman, sekalian pamer kalau Tom Cruise boleh tak memakai helm di jalan raya tanpa takut ditilang polantas.

Rumor menyebutkan bahwa film ini akan menjadi film Mission: Impossible terakhir. Dan ini masuk akal, mengingat usia Cruise serta menimbang "kewajibannya" untuk selalu melewati tantangan maut dari film sebelumnya. Maksud saya, apalagi yang bisa dilakukan Cruise nanti? Namun, kalau pun ia kembali, saya juga takkan heran. Disini, ia sudah melakukan impossible mission untuk melampaui apa yang sudah dilakukan sebelumnya. Saya yakin nanti pun ia pasti bisa ngusahain caranya. Retorikanya harus saya koreksi sedikit dengan nada yang lebih optimis: siapa yang tahu apalagi yang bisa dilakukan Cruise nanti? ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem dan di instagram: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Mission: Impossible - Fallout

127 menit
Remaja - BO
Christopher McQuarrie
Christopher McQuarrie
Tom Cruise, J. J. Abrams, David Ellison, Dana Goldberg, Don Granger, Christopher McQuarrie, Jake Myers
Rob Hardy
Lorne Balfe

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top