0

Review Film: 'Skyscraper' (2018)

Apa yang akan dilakukan The Rock dengan gedung tertinggi di dunia yang sedang terbakar hebat? Kecuali satu-dua hal, selebihnya B aja.

“This is stupid.”
— Will Sawyer
Rating UP:
Apa cuma saya saja yang berharap Skyscraper lebih menggelikan daripada ini ataukah anda juga? Film ini sepertinya ragu untuk merangkul kekonyolan premisnya. Dwayne "The Rock" Johnson lho yang sedang kita bicarakan, dan disini ia harus mengatasi bencana yang terjadi di gedung pencakar langit tertinggi di dunia. Sebelum menonton film ini, pertanyaannya adalah: apa yang akan The Rock lakukan? Sebenarnya kita sudah tahu jawabannya: cuma langit lah batasnya. Alih-alih, yang kita dapati baru film aksi-thriller yang B aja.


Aspek paling fun dari film ini tentu saja yang paling lebay; saat kita dijelaskan tentang gedung berjumlah 200+ lantai ini yang dibangun dengan teknologi paling mutakhir; saat teroris membakar salah satu lantainya dengan Natrium (tunggu sampai anda mendengar motif mereka); saat Dwayne Johnson harus memanjat crane raksasa setinggi 100 lantai dalam waktu yang menurut perhitungan saya cuma 2 menit saja KEMUDIAN meloncatinya untuk menyeberang ke gedung yang sedang terbakar hebat KEMUDIAN bergelantungan disana bukan dengan suction-cups canggih melainkan hanya memakai lakban saja.

Semuanya dilakukan Johnson dengan satu kaki palsu. Mamam tuh, Tom Cruise.

Skyscraper jelas-jelas merupakan contekan Die Hard yang digabung dengan The Towering Inferno lalu digenjot dengan steroid. Momen-momen tadi adalah sorotan utama dalam Skyscraper. Dan saya akan sangat suka sekali kalau keseluruhan filmnya sekonyol itu. Namun, film ini bersikap lebih serius dari yang kita duga, sementara ia juga tak meniru efektifitas film-film yang diconteknya. Jadi saat Johnson tak sedang melakukan hal-hal yang menentang logika, hukum fisika, dan gaya gravitasi, filmnya jadi hambar.

Dwayne Johnson bermain sebagai Will, mantan agen FBI yang pensiun setelah kehilangan satu kakinya dalam sebuah misi. Sepuluh tahun kemudian, ia hidup tenang bersama istri (Neve Campbell) —yang dulu adalah perawat yang mengoperasi kakinya— serta dua anaknya dengan pekerjaan baru sebagai konsultan keamanan gedung.

Seorang teman lama (Pablo Schreiber) kemudian menghubungi Will untuk memberikan kontrak yang wow: menginspeksi gedung tertinggi di dunia bernama "The Pearl" yang tentu saja tingginya mengalahkan Burj Khalifa-nya Dubai. Sang empunya gedung, Zhao (Chin Han) ingin segera membuka gedung ini untuk publik dan untuk itu ia butuh sertifikasi dari Will. Namun, apakah semua rencana ini bakal kacau? Apakah nanti bakal ada teroris yang menerobos masuk lalu membakar gedung? Apakah Will akan dituduh sebagai salah seorang oknum yang terlibat? Apakah nanti keluarga Will kebetulan ada di dalam gedung tersebut? Apakah nanti Will harus berjuang keras untuk menyelamatkan mereka? Iya, iya, iya, iya, dan iya.

Penjahatnya bukan penjahat dengan rencana paling diabolical. Memang membakar gedung dengan orang di dalamnya itu keji sih. Tapi kenapa mereka harus serepot-repot itu untuk mendapatkan sesuatu yang kecil *uhuk* terkesan berlebihan dan menggelikan. Jelas mereka bukan penjahat paling cerdas yang pernah ada. Kendati demikian, ini gedung "teraman" di dunia, sebagaimana yang diklaim oleh salah satu karakternya. Jadi saya mungkin tak tahu apa yang sedang saya bicarakan.

The Pearl adalah kreasi terbaik dari film ini dan saya berharap film ini menggunakannya lebih banyak lagi. Ia adalah gedung hi-tech yang fiktif. Variety memberi tahu saya bahwa syuting sebagian besar dilakukan di Kanada, tapi kehandalan efek spesial membuatnya terlihat realistis dan meyakinkan menjulang kokoh di pelabuhan Victoria di Hong Kong. Gedung yang ukurannya sudah di level hampir mustahil ini punya taman hidup indoor, pembangkit listrik yang digerakkan oleh turbin raksasa, dan didekorasi dengan sebuah bola raksasa di puncaknya.

Anda pasti sudah bisa menebak bahwa itu merupakan "perkenalan" terhadap latar dan mekanika yang akan digunakan oleh pembuat film dalam sekuens aksinya nanti. Kalau tidak, buat apa pula kita diperlihatkan dengan ruangan misterius yang berisi lusinan layar proyeksi high definition yang muncul dari lantai. Sutradaranya, yang juga menjadi penulis naskah, adalah Rawson Marshall Thurber yang biasanya membuat film komedi. Sekarang ia menunjukkan kapabilitas dalam membangun set-up untuk film aksi-thriller; paruh awal film dibangun dengan cukup baik. Ia juga dengan kocak menggunakan gimmick kaki palsu yang bisa dipasang-copot lewat cara yang mengejutkan. Semua potongan dari film aksi-thriller yang baik sudah ada disana, tapi bagaimana mereka bekerja, tak sebaik itu. Saat Dwayne Johnson sudah diposisikan di dalam gedung, film kehilangan momentum dan kita disajikan dengan huru-hara CGI biasa yang tak banyak memberikan ketegangan.

Ini mungkin juga disebabkan karena tokoh utamanya adalah Dwayne "The Rock" Johnson. Personanya yang sudah terpatri di benak kita adalah pria biasa dengan kekuatan fisik superhero. Film mungkin bisa menggunakan aktor yang lebih menguarkan aura pria biasa yang bakal kesusahan melakukan ini-itu sekadar demi membuat kita tegang, tapi memang jarang aktor yang punya karisma sebesar Johnson. Nah, Johnson bisa melakukan apa saja dan bisa melakukannya dengan senyum simpul sambil mengangkat alis sebelah. Ancaman seperti ini bukan apa-apa baginya. Oleh karena itu, film harus menurunkan kekuatannya dan membuatnya menjadi pria yang relatif biasa. Tapi The Rock adalah tipe orang yang tak bisa untuk terlihat biasa-biasa saja.

Jadi, saat ia cuma melakukan hal yang B aja, kita berharap ia menunjukkan kalau ia mampu mengangkat crane raksasa tadi dengan tangan kosong. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Skyscraper

102 menit
Remaja
Rawson Marshall Thurber
Rawson Marshall Thurber
Beau Flynn, Dwayne Johnson, Rawson Marshall Thurber, Hiram Garcia
Robert Elswit
Steve Jablonsky

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top