0

Review Film: 'Teen Titans Go! To the Movies (2018)

Film bodoh yang dibuat dengan cerdik.

“We need something more cinematic.”
— Robin
Rating UP:
Keberadaan Teen Titans Go! To the Movies adalah lelucon. Dan ini saya maksudkan sebagai pujian, soalnya ia adalah lelucon yang lucu. Dengan lawakan meta dan self-referential, film ini bolehlah disebut sebagai Deadpool buat anak SD, tapi Deadpool baru sebatas mengolok-olok beberapa trope di genrenya, sementara film ini pergi lebih jauh dengan menjadi parodi total. Saya memang tak sampai terjengkang karena kekocakannya. Namun saya mendapati bahwa filmnya sangat menyenangkan sepanjang durasi.


Teen Titans Go! To the Movies merupakan film animasi dua dimensi pertama dari DC yang ditayangkan di layar lebar sejak Batman: Mask of the Phantasm pada 1993. Dan menyaksikan film animasi dengan garis tegas dan warna solid seperti ini di bioskop, sungguh menyegarkan mata. Film ini diangkat dari serial TV di Cartoon Network, yang sendirinya merupakan adaptasi dari properti klasik DC. Pembuatnya, Peter Rida Michail dan Aaron Horvath adalah produser serial TV-nya, dan mereka tetap mempertahankan gaya animasi aslinya sehingga penggemar serial takkan pangling.

Mereka juga mempertahankan citarasanya yang khusus menyasar penonton yang masih sangat muda. Kita kenal Teen Titans sebagai tim pahlawan muda yang beranggotakan Robin (Scott Menville) si mantan ajudan Batman; Starfire (Hynden Walch), cewek alien pengendali energi; Cyborg (Khary Payton) yang separuh robot; Beast Boy (Greg Cipes) mutan yang bisa berubah wujud menjadi hewan apapun; serta Raven (Tara Strong), cewek emo keturunan iblis. Sekarang mereka adalah superhero karikatur dengan tubuh fleksibel, bola mata ekspresif, dan selera humor receh, yang saat beraksi lebih suka menyanyikan lagu tema daripada bertarung melawan penjahat.

Permasalahan mereka juga receh: mereka sebal karena tak dianggap sebagai pahlawan sungguhan, terlebih saat tak pernah dibuatkan film sendiri, yang mana sepertinya merupakan pencapaian paripurna dari seorang superhero. Batman punya film baru berjudul "Batman Again", Superman mengklaim banyak filmnya yang akan segera hadir, Wonder Woman bangga dengan film perdananya, dan Green Lantern tentu saja tak mau membicarakan filmnya *uhuk*. Namun, puncaknya adalah saat Robin mengetahui bahwa Alfred, si pelayan Batman, punya film solo. Bahkan, Batmobile punya film sendiri!

"Itu karena kalian cuma lelucon," kata Superman, yang tentu saja diisikan suaranya oleh Nicolas Cage yang dulu di era 90an sempat ramai dibicarakan akan memerankan sang Manusia Baja... di versi live-action! Iya, Nicolas Cage si Raja Meme.

Robin segera mengunjungi sutradara Hollywood spesialis film superhero, Jade Wilson (Kristen Bell). Namun, ia tak mau membuat film mengenai pahlawan yang "cuma sidekick". Robin diyakinkan bahwa pahlawan sesungguhnya butuh musuh bebuyutan. Jadi, rombongan Teen Titans cari perkara dengan Slade alias Deathstroke (Will Arnett), yang karena penampilannya, selalu salah dikira sebagai Deadpool. Slade adalah villain yang tangguh, pakar bela diri tapi lebih lihai menangani Teen Titans lewat kemampuan "manipulasi pikiran" miliknya, contohnya dengan membuat pensil meliuk-liuk tanpa mematahkannya. Wow.

Itu adalah plotnya, yang juga cocok dipakai untuk serial kartun di minggu pagi. Namun film ini adalah soal lelucon, dan ia punya banyak amunisi. Komposisinya sebetulnya mirip dengan Hotel Transylvania 3, film animasi anak-anak yang beberapa waktu lalu tayang dan tak terlalu saya suka; berisi komedi fisik, dance number, bahkan ada lelucon kentut dan eek. Namun materi semacam ini mampu bekerja efektif saat ia dibangun dengan baik. Lelucon adalah tentang bagaimana ia disampaikan. Delivery Teen Titans Go! sangat efektif, dan saat leluconnya bekerja, ia tak menggoreng berlebihan.

Dengan warna-warni terang, animasi hiperaktif, dan komedi kekanak-kanakan, film ini memang menyasar anak-anak. Simpel dan cenderung bodoh. Meski begitu, ada bagian cerdasnya juga; ia juga ditargetkan buat orang dewasa, khususnya yang akrab dengan kultur superhero. Ada berbagai macam referensi terhadap komik dan film superhero, termasuk soal Stan Lee yang suka bercameo dimana-mana. Film ini juga berhasil membuat kisah tragis kematian orangtua Batman menjadi olok-olok. Dan kalau itu belum cukup, kita juga disuguhkan dengan plesetan The Lion King. Yang brilian dari film ini adalah bagaimana ia tahu betul dengan kekliseannya lalu malah merengkuh hal tersebut sepenuhnya menjadi lawakan. Saat Robin butuh lagu inspiratif penuh semangat, datanglah Michael Bolton (bersama solois saxophone yang keren abis) menyanyikan Lagu Inspiratif Penuh Semangat.

Film ini takkan bekerja kalau ia tak dirilis di masa-masa seperti sekarang. Ia adalah produk dari jaman. Saat ini, budaya pop sudah didominasi oleh superhero sementara penonton juga sudah begitu familiar dengan superhero, sehingga kita bisa menangkap apapun referensi mengenainya. Dan disitulah datang Teen Titans Go! sebagai oportunis cerdik dalam meledek kekerenan sekaligus kebodohan kultur superhero lewat sebuah film yang konyol. Ini adalah film bodoh yang bisa dinikmati oleh anak-anak dan orang dewasa sekaligus. Sebuah film bodoh yang dibuat dengan cerdik.

Satu-satunya yang tak bisa saya beri rekomendasi untuk menonton cuma penggemar komik yang selalu menanggapi semua hal tentang superhero dengan superserius. Woles. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem dan di instagram: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Teen Titans Go! To the Movies

93 menit
Semua Umur
Peter Rida Michail, Aaron Horvath
Michael Jelenic, Aaron Horvath
Aaron Horvath, Michael Jelenic, Peggy Regan, Peter Rida Michail, Will Arnett
Jared Faber

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top