0

Review Film: 'Bad Times at El Royale' (2018)

Kalau diibaratkan manusia, 'Bad Times at El Royale' adalah teman kita yang suka ngobrol ngalor-ngidul heboh.

“Shit happens, get the whisky.”
— Father Daniel Flynn
Rating UP:
Kalau diibaratkan manusia, Bad Times at El Royale adalah teman kita yang suka ngobrol ngalor-ngidul heboh. Semua yang diomonginnya selalu terdengar seru sehingga tak masalah kalaupun dia ngomong berjam-jam. Tapi saat dia sudah pergi dan kita mencoba mengingat obrolan tadi, kita biasanya akan bertanya-tanya: "Eh barusan ngobrolin apa sih?". Bukan karena isinya yang omong kosong, melainkan karena obrolannya begitu banyak dan memang tak ada juntrungannya; simpang siur alias tanpa arah. Yang jelas, seru.


Begitulah Bad Times at El Royale. Film ini terasa seperti banyak film dalam satu film. Secara garis besar, ia terkesan sebagai film thriller yang penuh misteri. Kadang-kadang, ia jadi film drama yang mengeksplorasi dosa dan penebusan. Di satu titik, kita disuguhkan dengan adegan menyanyi yang bikin merinding saking bagusnya. Di lain waktu, punya adegan aksi dan kriminal yang brutal. Seolah-olah, berbagai elemen yang seru dari berbagai film berbeda berkumpul menjadi satu untuk nongkrong dan having a good bad time di El Royale.

Film ini ditulis dan digarap oleh Drew Goddard, penulis skrip veteran yang memulai debut penyutradaraanya lewat The Cabin in the Woods pada 2012 lalu. Menonton film tersebut, anda mungkin berharap akan mendapatkan satu lagi film berkonsep tinggi. Namun sesungguhnya konsep Bad Times at El Royale tidaklah sedahsyat itu. Premis di paragraf di atas hanyalah menjadi wadah bagi Goddard untuk memamerkan kepabilitasnya untuk menggarap film yang stylish; tata produksinya menawan, sinematografinya mantap, soundtrack-nya menggigit, dan akting para pemainnya ciamik. Film ini tidak selicik The Cabin in the Woods, tapi ia masih menarik.

Jadi apa itu El Royale? El Royale merupakan sebuah hotel unik yang berada tepat di perbatasan Nevada dan California. Ciri khasnya adalah struktur bangunan yang terbagi dua: separuhnya didekorasi dengan gaya Nevada, sedangkan separuhnya bergaya California. Pengunjung boleh memilih untuk menginap di kamar bagian mana. Keduanya terpisah oleh lobi yang dibagi oleh garis lurus pembatas antara dua propinsi tersebut. Dulu El Royale adalah hotel yang moncer, selalu ramai pengunjung, bahkan kerap dipesan oleh selebritis. Namun sekarang ia sudah berada di ambang maut.

Jadi tentu saja pengurus El Royale, Miles Miller (Lewis Pullman), yang ngomong-ngomong merupakan satu-satunya kru hotel ini, terkejut saat tiba-tiba hotelnya ramai dikunjungi orang di saat bersamaan. Ada pendeta Flynn (Jeff Bridges) yang sudah pikun, penyanyi latar Darlene Sweet (Cynthia Erivo) yang tengah berusaha memulai debut solo, serta sales vacuum cleaner Sullivan (Jon Hamm) yang parlente dan bermulut licin. Bakal menyusul Dakota Johnson yang menulis "F*** You" saat diminta mengisi buku tamu hotel. Maklum saja, dia tak ingin identitasnya diketahui, lha wong di bagasi mobilnya ada anak gadis (Cailee Spaeny) yang disandera.

Saya tak bisa memberitahu anda apa yang bakal terjadi selanjutnya, tapi aman kalau saya bilang bahwa yang terjadi sesuai dengan judulnya: hal yang buruk. Jadi saya hanya akan membeberkan apa yang sudah diperlihatkan oleh trailer. El Royale bukanlah hotel yang aman. Maksud saya, hotel ini punya lorong rahasia dan cermin tembus pandang sehingga orang bisa mengamati aktivitas di masing-masing kamar. Sullivan juga bakal menemukan lusinan alat penyadap di sudut-sudut kamar. Konflik nantinya juga akan melibatkan bergepok-gepok uang serta roulette game. Sebagaimana yang dibilang Miles, El Royale memang bukan tempat untuk pendeta.

Disini Goddard bermain-main dengan struktur film. Ceritanya terbagi menjadi beberapa chapter yang berfokus pada masing-masing karakter. Entah untuk menceritakan bagaimana karakter kita bisa berakhir di El Royale, atau untuk memperlihatkan kita mengenai satu kejadian yang sudah kita saksikan sebelumnya tapi kali ini dari perspektif yang berbeda. Saya bisa membayangkan bagaimana teknik seperti ini akan bekerja lebih mulus sebagai miniseri alih-alih sebuah film.

Penonton yang cerdas mungkin sudah bisa menduga bahwa tak semua orang sesuai dengan casing-nya. Semuanya jelas menyembunyikan sesuatu. Apa saja itu adalah hal yang harus anda temukan sendiri, karena dalam film ini identitas karakter adalah inti film. Film ini relatif tak punya cerita; mekanisme plot merupakan produk dari identitas masing-masing karakter yang saling bertubrukan. Kelihaian dari Goddard adalah bagaimana dia membocorkan detil baru dari karakternya serta bagaimana mereka saling berhubungan dengan sangat terkontrol. Meski berdurasi hampir dua setengah jam, Goddard tak pernah terlalu cepat kehabisan amunisi dan kita tak pernah kewalahan dengan setiap ada pengungkapan baru. Oleh karena itu, tak begitu terasa janggal saat menjelang akhir film kita berjumpa dengan Chris Hemsworth yang bermain sebagai pimpinan agama palsu yang tak pernah ngancingin baju.

Saya takkan menyalahkan Hemsworth. Kalau saya punya perut kayak papan cucian seperti dirinya, saya juga takkan pernah ngancingin baju seumur hidup.

Maaf saya ngelantur. Kita boleh jadi menyebut film ini sebagai alasan Goddard untuk membiarkan para aktornya...uhm, memamerkan akting mereka. Dan semuanya memang keren-keren. Kita bisa merasakan kefrustasian Jeff Bridges saat di satu waktu harus mengingat sesuatu yang sudah dia lupakan—yaa, namanya orang pikun. Dakota Johnson tampil mematikan *uhuk* sebagai wanita muda yang tangguh. Namun yang paling mempesona adalah Erivo yang akan membuat anda merinding dengan suara emasnya. Masing-masing mereka dimodali dengan humor sinis dan dialog tajam.

Saya juga sampai mengira bahwa hotel El Royale merupakan karakter tersendiri. Tapi saya keliru. Lewat review Variety, saya tahu bahwa El Royale terinspirasi dari hotel sungguhan bernama Cal Neva yang dimiliki oleh Frank Sinatra di tahun 60an. Goddard memberi kita kesempatan untuk menjelajah sudut hotel sampai kita seolah berada langsung disana, mengenali setiap sisi. Namun, hotel ini sendiri tak punya signfikansi bagi plot. Memang lokasinya sangat menarik, misteri di belakang layarnya juga sangat membuat penasaran. Tapi cerita dalam Bad Times at El Royale bisa terjadi dimana saja; yang dibutuhkan hanyalah orang-orang yang salah bertemu di waktu yang salah.

Dan itu juga yang membuat saya agak sedikit kecewa dengan film ini. Goddard menghabiskan waktu yang cukup untuk membangun karakter, kita mau tak mau terbawa dengan hype tersebut. Lalu kenapa dia harus melakukan itu? Resolusi filmnya terasa agak meh. Saya tahu meski dengan film se-intricate The Cabin in the Woods, kita memang tak harus selalu mengharapkan plot-twist di film Goddard berikutnya. Namun disini itu terasa lebih cocok. Melihat segala elemen yang ada di Bad Times at El Royale, rasa-rasanya ia pantas untuk mendapat penutup yang layak dengan antisipasi yang dibangunnya.

Eh, antisipasi apa sih yang udah dibangun? Lupa saya. Yang jelas filmnya seru. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem dan di instagram: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Bad Times at El Royale

141 menit
Dewasa
Drew Goddard
Drew Goddard
Drew Goddard, Jeremy Latcham
Seamus McGarvey
Michael Giacchino

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top