0

Review Film: 'One Cut of the Dead'

Kalau ibarat Chiki berhadiah Tazos tadi, menyaksikan film ini sama dengan mendapat Tazos Pikachu yang belum dipunyai teman-teman.

“This is true filmmaking.”
— Higurashi
Rating UP:
Hidup memang kadangkala seperti membeli Chiki berhadiah tazos Pokemon. Kita baru akan tahu apa yang kita dapat saat kita mendapatkannya. Kalau belum dibuka, kita belum akan tahu bakal mendapatkan Pokemon apa. Syukur-syukur hoki dapat lalu Pokemon langka. Kalau lagi sial, yaa koleksi Bulbasaur nambah lagi di tumpukan yang udah bejibun. Hubungannya dengan One Cut of the Dead? Kalau ibarat Chiki berhadiah Tazos tadi, menyaksikan film ini sama dengan mendapat Tazos Pikachu yang belum dipunyai teman-teman.

Ini yang baca trus nganggung-ngangguk sendiri, saya cuma mau ngasih tau: selamat, anda terkena jebakan umur.


Saya awalnya mengira film ini adalah film ampas. Eeeh siapa sangka, ternyata ia adalah film sederhana yang sangat cerdas. Kemasannya yang ampas rupanya cuma pencitraan belaka untuk melemparkan ekspektasi kita keluar jendela demi memberikan sebuah komedi yang jenius. Saya sudah sering menonton film yang mengolok atau memparodikan genre zombie, tapi tak ada yang secerdas One Cut of the Dead. Padahal lelucon besarnya cuma satu, tapi itu bertahan dengan gemilang sampai akhir film. "Ampas" tak bersinonim dengan "tidak kompeten".

Tenang saja, saya takkan mengungkap lelucon tersebut. Menemukannya sendiri adalah esensi utama dari film. Namun saya boleh memberi tahu ini: kata "One Cut" di judulnya rupanya tidak main-main. Hampir separuh durasi direkam secara one take alias tanpa terputus. Anda tentu tahu bagaimana sulitnya membuat adegan one take, karena ia melibatkan banyak elemen yang bergerak secara bersamaan sementara kamera tak boleh berhenti mengambil gambar. Adegan tembak-tembakan one take di Children of Men-nya Alfonso Cuaron yang durasinya kurang dari 10 menit butuh persiapan selama dua minggu. One Cut of the Dead melakukan itu selama 37 menit.

Tentu saja adegan di film ini tak seepik dan seelegan dengan yang di Children of Men. Kualitasnya baru berada di level amatiran. Gerakan kameranya serampangan. Akting para aktornya canggung. Dialognya norak. Gambarnya mengindikasikan bahwa kamera yang dipakai adalah kamera murahan. Tapi ia melakukan fungsi dasarnya sebagai adegan one take dengan baik, yaitu menjaga ketegangan, bukan cuma dari apa yang keluar di layar melainkan juga dari keberhasilannya memancing rasa ingin tahu kita untuk membuktikan apa betul film bisa mempertahankan one take-nya sampai akhir. Dan ini penting. Bagian ini harus bekerja; kalau gagal, bahaya. Ada jenis film ampas yang membuat kita tak tahan lama-lama menonton, tapi One Cut of the Dead membuat saya betah menyaksikan keampasannya.

Saya kira sangat membantu jika kita sebelumnya tahu bahwa Jepang dikenal tak malu-malu membuat film-film absurd (baca daftar ini dan anda akan terkejut menemukan bahwa Kamen Hentai belum termasuk di dalamnya). Akan lebih membantu lagi kalau anda juga kebetulan suka menonton film-film sinting. Sebab, premisnya sendiri sudah sinting. Lagipula, anda pasti juga bakal memaklumi keamatirannya. Film dibuka dengan adegan dimana seorang cewek bernama Chinatsu yang hampir digigit oleh pacarnya Ko yang sudah berubah menjadi zombie. Tapi akting Chinatsu kok yaa gak meyakinkan.

"Cut!!!" teriak sutradara Higurashi.

Ooh rupanya ini lagi syuting film. Walaupun film murahan, sutradara Higurashi punya standar tinggi. Ia tak puas dengan akting si cewek, dan ini ternyata sudah take ke-42. Sutradara Higurashi mencak-mencak keluar dari lokasi syuting, sementara tukang make-up Nao berusaha menenangkan Chinatsu dan Ko. Kemudian mereka bercengkerama sejenak, membahas hal-hal remeh yang gak nyambung—koreksi: sangat sangat sangat gak nyambung. Meski begitu, kita tahu dari Nao bahwa lokasi syuting adalah pabrik usang yang ternyata dulunya merupakan lab penelitian mayat hidup. Dan gosipnya, sutradara Higurashi ini bakal melakukan sesuatu yang terlarang.

Kita belum akan tahu itu. Yang jelas, keadaan tiba-tiba menjadi berbahaya. Ini bukan lagi syuting film zombie, tapi sudah jadi kekacauan zombie beneran. Salah satu kru baru saja digigit oleh zombie yang datang dari luar gedung lalu ia pun berubah menjadi zombie sungguhan. Semua kru terancam. Darah berserakan dimana-mana. Tapi Higurashi adalah sutradara sinting. Bukannya takut, ia malah tertawa kegirangan, menganggap ini sebagai kesempatan untuk mendapatkan adegan zombie yang otentik. Ia lantas menyuruh kru yang tersisa untuk terus merekam, tak peduli sudah berapa banyak korban yang berjatuhan.

Di menit-menit awal, saya kira kita menonton filmnya lewat Mata Tuhan, alias kamera merupakan entitas yang terpisah dari adegan di layar. Namun, keanehan terjadi; di satu titik, kamera ikut kecipratan darah, bahkan terjatuh. Jelas, kameramen merupakan bagian dari film. Jangan-jangan... mungkinkah ini satu lagi horor bertipe found-footage? Kalau begitu, kameramen pun pasti tak luput dari ancaman kan yah? Tapi kok sejauh ini aman-aman saja? Saya menunggu dengan tegang.

Huru-hara berdarah yang brutal dan konyol ini baru bagian pertama dari film. Di bagian kedua, kita meloncat mundur ke 1 bulan yang lalu dan melihat bagaimana para kru bisa terlibat dalam semua ini. Sutradara Higurashi ternyata awalnya tak sesinting itu. Faktanya, ia adalah pria yang lembut dan sayang keluarga. Meski skill-nya biasa-biasa saja, ia direkrut oleh sebuah stasiun televisi untuk membuat film tentang zombie. Boamat kalau jelek, yang penting jadi. Kita juga mempelajari latar belakang kru lainnya. Kemudian... yah, tak ada yang mempersiapkan saya bakal melihat kelanjutannya. Saya harap saya juga tak jadi kurang ajar dengan membuat anda siap.

Ide dari film ini sebetulnya simpel, tapi rasanya belum ada yang kepikiran untuk menggarapnya seperti ini. Ia dibangun dengan sangat cermat. Detail-detail yang paling kecil pun sangat diperhatikan. Hal-hal remeh yang barangkali luput dari perhatian kita, rupanya menjadi hal yang sangat penting di akhir. Pengadeganannya lebih rumit daripada yang kita kira. Menyaksikan hal yang sama tapi dengan perspektif yang berbeda rupanya benar-benar bisa merubah emosi dengan amat drastis.

Saya baca di Wikipedia, sutradaranya bernama Shinichiro Ueda. Katanya ia membuat film ini hanya seminggu setelah mengikuti sebuah seminar film. Kalau benar begitu, maka Ueda adalah jenius. Setidaknya dalam hal filmmaking berbujet minim. Ia terlihat memahami betul hakikat pembuatan film. Dari film ini terlihat bagaimana ia mampu berkompromi serta bermain-main dengan proses filmmaking. Alih-alih terbatasi, ia justru mengeksplorasi kemungkinan yang bisa dihadirkan lewat kerecehan filmnya. Atau boleh jadi Ueda hanya ingin memamerkan antusiasme dan kecintaannya akan filmmaking itu sendiri.

Bisakah sebuah film ampas bisa menjadi lebih baik hanya dengan antusiasme belaka? The Room-nya Tommy Wiseau sudah membuktikan tidak bisa. Namun One Cut of the Dead lebih dari sekadar film ampas berenergi tinggi. Para pemainnya memang sangat enerjik, dan filmnya sendiri punya momentum yang luar biasa. Namun film ini juga sangat cerdik memainkan premisnya. Jika ada film yang pantas ditonton ulang, maka One Cut of The Dead adalah salah satunya.

Saya koreksi. One Cut of the Dead adalah film yang harus ditonton ulang. Saat anda sudah tahu bagaimana permainannya, gigitannya justru tambah mematikan. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem dan di instagram: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

One Cut of the Dead

97 menit
Dewasa
Shinichiro Ueda
Shinichiro Ueda
Koji Ichihashi
Tsuyoshi Sone
Nobuhiro Suzuki, Kailu Nagai

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top