0

Review Film: 'Cold Pursuit' (2019)

Yang lebih sadis disini adalah bagaimana filmnya mampu memeras humor dari aktivitas kriminal yang brutal.

“I picked a good road early and I stayed on it.”
— Nelson Coxman
Rating UP:
Cold Pursuit seolah sudah meminta agar kita menyebutnya sebagai Taken On Ice. Premisnya terdengar seperti satu lagi variasi dari Film Dimana Liam Neeson Beraksi Kaya Taken Tapi Di ... [isi sendiri]. Kita dibawa ke Istanbul, atau naik kereta pesawat, tapi ujung-ujungnya, filmnya yaa soal Liam Neeson yang menjadi mesin pembunuh berkat particular set of skills-nya. Tidak kali ini. Betul, ia membantai banyak orang. Tapi yang lebih sadis disini adalah bagaimana filmnya yang mampu memeras humor dari aktivitas brutal dan tak patut diteladani tersebut.


Neeson bermain sebagai Nels Coxman, pria biasa yang baru saja dianugerahi piala "Warga Terbaik Tahun Ini". Pekerjaannya adalah supir mobil pengeruk salju di resort ski di Kehoe, Colorado. Kalau bukan karena Nels, jalanan disana tak bakal bisa dilalui kendaraan. Dataran bersalju tebal ini tentu menjadi latar yang indah dan sangat cocok bagi darah untuk bermuncratan.

Awal perkaranya adalah kematian anak Nels. Hasil visum menunjukkan bahwa anaknya meninggal karena overdosis. Tapi setahu Nels, anaknya bukanlah seorang pemakai. Nels bermaksud bunuh diri, tapi batal setelah tahu bahwa anaknya sebetulnya dibunuh oleh anggota kartel narkoba. Ganti rencana; sekarang ia bersumpah akan membunuh semua anggota kartel, mulai dari kroco-kroco sampai sang bos yang dikenal dengan julukan Viking (Tom Bateman).

Anda sudah tahu bagaimana prosedurnya... atau apa memang begitu? Memang akan ada banyak mayat berjatuhan, tapi bukan lewat cara yang anda kira anda dapatkan dari film aksi Liam Neeson. Cold Pursuit adalah cuma soal killing list. Adegan aksinya berada di posisi sekunder. Film ini menegaskan itu dengan menampilkan daftar bertuliskan nama serta julukan norak semacam Speedo, Limbo, dll lengkap dengan lambang salib, setiap ada karakter yang mati. Karena yang berangkat ke alam sana ada banyak, maka kita akan sering membaca layar. Film bahkan menggunakan hal ini sebagai punchline nantinya.

Film ini digarap oleh Hans Petter Moland. Ia membuat ulang film ini dari filmnya sendiri, In Order of Disappearance yang berbahasa Norwegia. Judul tersebut barangkali lebih tepat. Karena plotnya hampir sama persis dengan film tersebut, film ini punya humor gelap yang bersumber dari aksi kriminal. Namun film ini bukan film komedi, karena tak ada satu pun karakter yang mencoba melucu. Kekontrasan banyak situasi nyeleneh dengan keseriusan di layar lah yang terasa sangat aneh sampai jadinya lucu. Moland memancing kita ketawa di tengah pembantaian.

Killing list tadi bukan menjadi milik karakter Liam Neeson semata. Pasalnya, balas dendamnya membuat situasi menjadi kacau. Viking malah menuduh bahwa kematian kroconya adalah perbuatan rivalnya, kartel Indian yang diketuai White Bull (Tom Jackson). Film ini melipir cukup lama supaya kita bisa nongkrong dengan anggota geng-geng ini dan melihat kesibukan mereka. Kita juga bakal berkenalan dengan kakak Coxman, mantan kriminal berjuluk Wingman (William Forsyth) yang punya istri Asia yang doyan ngomong kasar. Ada pula dua polisi Kehoe (Emily Rossum dan John Doman) yang mencoba mencerna segala kekacauan ini.

Semuanya kurang lebih hanya bertugas untuk melontarkan satu atau dua dialog lucu. Namun seringkali kita menghabiskan waktu terlalu lama dengan mereka, sehingga mau tak mau mereka terkesan sebagai bagian dari subplot yang sayangnya tak berjalan kemana-mana. Karakter Neeson menghilang cukup lama di pertengahan film, dan ini terasa sangat kentara. Jadinya, konfrontasi di klimaks terkesan agak canggung secara naratif, walau merupakan akhir yang memuaskan.

Neeson bermain lurus seperti biasanya ia bermain di film-film aksi. Namun ia tak punya one-liner disini. Berbanding terbalik, Tom Bateman memainkan karakternya begitu maniak sampai terlihat seperti karikatur dari penjahat paling penjahat sepanjang sejarah sinema; ia tak punya empati sama anak buah, suka memukul (mantan) istri dan memberi nasihat yang salah buat sang anak. Dan vegetarian. Di atas kertas, film ini nyaris terkesan seperti parodi dari genrenya, tapi ia berhasil menjadi film thriller yang serius. Mungkin tak sesukses Fargo-nya Coen Brothers, yang agaknya menjadi inspirasi utamanya. Yang jelas, saya tetap ketawa. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem dan di instagram: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Cold Pursuit

118 menit
Remaja
Hans Petter Moland
Frank Baldwin
Finn Gjerdrum, Stein B. Kvae, Michael Shamberg, Ameet Shukla
Philip Ƙgaard
George Fenton

©

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top