0

Review Film: 'Hellboy' (2019)

Saya jadi mau berterima kasih kepada petugas sensor yang sudah memotong film ini beberapa menit.

“Okay, I'd appreciate a prophecy with more relatable stakes.”
— Hellboy
Rating UP:
Saya tak percaya apa yang baru saja saya saksikan (atau lebih tepatnya, apa yang TIDAK saya saksikan *uhuk*): Hellboy adalah film dengan sensor paling banyak dan serampangan yang pernah saya tonton di bioskop. Iya, sebelumnya memang ada Kingsman dengan adegan pembantaian gereja yang legendaris itu. Namun ini cuma sekali (ada lagi deng, tapi anda paham maksud saya) dan tak begitu berpengaruh pada flow cerita. Sementara dalam Hellboy terjadi sangat sering dan terlalu kentara sampai merusak momentum. Sebagian besar dari anda yang adalah penikmat film pasti sudah punya mata yang terlatih untuk menebak yang mana.

Dasar tukang sensor sialan. Memotong film seenak jidat. Filmnya kan jadi ancur. Penonton kan jadi kesel. Wajah teman nonton saya yang cantik langsung berubah kusut pas pulang. Kalau sudah begini siapa yang tanggung jawab coba. Andai saja gak disensor seperti tadi, filmnya kan bakal…

… sama aja sih ancurnya.


Lha gimana, sepanjang pengamatan saya, siapa pun yang mengerjakan editing dan skrip film ini melakukan kerja yang sama sempurnanya dengan siapa pun yang menyensor. Plot yang meloncat tak karuan, cut yang tidak mulus, framing yang sekenanya, memberikan kesan seolah-olah film ini disensor hampir tiap detik.

Saya jadi mau berterima kasih kepada petugas sensor karena baru saja mengurangi derita kebosanan saya walau cuma beberapa menit.

Hellboy adalah film adaptasi ketiga dari komik produksi Dark Horse ciptaan Mike Mignola. Film ini katanya lebih deket secara atmosfer dengan materi sumber dibanding dua film Hellboy sebelumnya yang digarap auteur Guillermo del Toro. Jika sebelumnya sang karakter tituler diperankan oleh Ron Perlman, kali ini kita akan berhadapan dengan David Harbour, bintang serial Stranger Things. Jika sebelumnya kita dibawa masuk ke dalam dongeng kelam yang eksentrik, kali ini kita terjun ke dalam neraka yang beringas.

Tak begitu mengejutkan, karena sutradaranya adalah Neil Marshall, orang yang pernah menggarap The Descent, salah satu horor paling mengguncang yang pernah saya tonton. Hellboy versi baru dekat betul dengan kesadisan. Kepala dipenggal, badan dipotong, mata dicolok, isi perut berserakan, serta pembantaian yang terjadi pada manusia, monster dan segala macam makhluk lewat cara yang mengerikan adalah adegan yang rutin berseliweran.

Semua itu membuat film ini layak menyandang rating "R/Dewasa". Tapi kemudian, anda kemungkinan besar akan bertanya balik: apa betul saya ikhlas mendapatkan sesuatu yang edgy dengan menumbalkan karakter dan cerita yang (setidaknya) sedikit mengikat?

Padahal Hellboy punya banyak karakter dan cerita. Karakter utama kita masih seorang setan merah dengan tangan kanan batu, yang bekerja di Biro Penelitian dan Pertahanan Mistis yang dipimpin ayah angkatnya sendiri, Trevor Bruttelholm (Ian McShane). Banyak yang mencerca keberadaannya, tapi ia adalah harapan terakhir bagi umat manusia dalam melawan serbuan demit.

Salah satunya adalah seorang (?) monster babi yang tengah berusaha untuk mengumpulkan potongan tubuh dari Nimue si Ratu Darah (Milla Jovovich). Jadi ceritanya, dulu Nimue dipenggal dan dimutilasi oleh seorang raja tak terkenal yang bernama King Arthur. Untuk mencegah kebangkitan si penyihir abadi tersebut, King Arthur memutuskan untuk menyebar potongan tubuhnya di berbagai tempat. Btw, sembari tubuhnya terkumpul semua, Nimue sempat menonton televisi dan mengganti channel... dengan memencet remot menggunakan tangannya yang belum tersambung.

Hellboy juga harus berhadapan dengan manusia kelelawar, raksasa, organisasi rahasia dengan agenda misterius, dan nenek-nenek menyeramkan yang bisa melipat punggung. Disini kita bisa mengintip sekilas kekerenan yang potensial disuguhkan oleh Marshall. Misalnya lewat sekuens pertarungan melawan 3 raksasa yang punya sensasi one-take ala-ala dengan mengambil perspektif ground level. Atau kreasi komikal saat menampilkan monster rumah kuno yang bisa berjalan karena punya kaki ayam raksasa.

Ini terdengar tidak masuk akal, karena memang tidak masuk akal. Detail-detail tersebut tidak membantu narasi besar film. Cerita Hellboy semacam berserakan dimana-mana, tak menemukan benang merah yang mantap hingga akhir. Kesannya seperti menjejalkan puluhan episode buku komik ke dalam satu film, meloncat dari satu setpiece ke setpiece berikutnya. Untuk ukuran film dengan bencana level kiamat, film ini nyaris tak punya sensasi bahaya. Dan untuk memastikan bahwa apa pun yang dilakukan Hellboy itu keren, maka film mendampingi aksinya dengan soundtrack penuh distorsi.

Lalu tiba-tiba film ingat bahwa Hellboy harus punya partner. Maka datanglah sekonyong-komyong Alice (Sasha Lane), remaja yang punya ilmu cenayang, serta Ben Daimio (Daniel Day Kim), oom-oom sixpack yang punya kemampuan berubah jadi jaguar. Kalau anda ingin tahu siapa mereka, semua karakter akan menjelaskan masa lalu semua karakter lewat banyak adegan flashback. Saat Daimio mulai bercerita soal asal mula luka di wajahnya, saya menghela napas panjang. Dan tidak usahlah mempedulikan jagoan pembasmi Nazi yang bernama Lobster Johnson (Thomas Haden Church). Sebab, ia cuma nyasar dan datang dari film lain yang lebih seru.

Harbour punya penampilan yang cukup sebagai setan pemabuk yang temperamen dan suka nyeletuk sekenanya, mulai dari yang beneran kocak sampai yang jayus asli. Yah, sebetulnya semua orang disini suka nyeletuk sih, karena di film blockbuster jaman sekarang, nyeletuk = fun. Namun kita butuh waktu untuk beradaptasi dengan Hellboy versinya, beda dengan versi Perlman yang langsung ngeklik sejak detik pertama. Harbour bisa menghandel perilaku slengek'an dari karakternya, tapi Perlman lah yang punya hati. Tak ada drama-dramanya saat momen puncak dimana Hellboy berdialog hati-ke-hati dengan ayah angkatnya. Oh iya, mungkin ini karena kita kita teralihlan dengan efek spesial yang menggelikan.

Film ini saking menjemukannya membuat dua jam jadi terasa lama sekali. Untungnya saya menemukan hiburan tersendiri. Jurus dari salah satu karakter sampingan berhasil menghadirkan teror yang pasti traumatis bagi balita yang menonton bersama saya. Saya kasihan dengan mereka, tapi saya menikmati ekspresi panik dan menyesal dari orangtua mereka. Apakah saya akan menonton film ini lagi saat versi uncensored-nya dirilis? Tentu saja. Meski begitu, saya rasa ratingnya tak akan berubah; paling cuma naik 0,5 saja.

1,5 masih terbilang jelek sih. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem dan di instagram: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Hellboy

121 menit
Dewasa
Neil Marshall
Andrew Cosby (screenplay), Mike Mignola (komik)
Lawrence Gordon, Lloyd Levin, Mike Richardson, Philip Westgren, Carl Hampe, Matt O'Toole, Les Weldon, Yariv Lerner
Lorenzo Senatore
Benjamin Wallfisch

©

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top