0

Review Film: 'Godzilla: King of the Monsters' (2019)

Pendekatannya menggunakan prinsip blockbuster kekinian, yang mana berasumsi bahwa semakin besar berarti semakin bagus.

“Consider us *very* intimidated. ”
— Dr. Rick Stanton
Rating UP:
Godzilla: Kings of the Monsters adalah salah satu king of the monsters film. Film ini begitu destruktif sehingga dengan gampang bisa digolongkan sebagai disaster movie. Gedung berhamburan, kota hancur lebur, ledakan dimana-mana, hingga daratan nyaris tak bisa dikenali lagi. Apakah kita sedang berada di bumi dimensi lain? Hanya sejak film 2012-nya Roland Emmerich, bumi mengalami kehancuran semasif ini.


Pendekatannya menggunakan prinsip blockbuster kekinian, yang mana berasumsi bahwa semakin besar berarti semakin bagus, semakin eksplosif berarti semakin seru. Iya, setelah ini memang bakal ada konfrontasi klimaks di 2020 dalam wujud Godzilla vs Kong. Namun saya tak bisa membayangkan bagaimana film tersebut mampu melewati film ini. Satu-satunya yang terpikirkan oleh saya adalah dengan membawa pertarungan keduanya ke luar angkasa.

Lha gimana, King of the Monsters saja sudah tak tanggung-tanggung. Film ini bukan cuma sekadar ngasih dua atau tiga monster, melainkan merupakan orgy monster yang jor-joran. Ia memberikan beberapa monster legendaris, yang semuanya langsung diimpor dari Jepang. Ada Rodan, sejenis pterodactyl raksasa yang bersarang di gunung berapi. Kemudian Mothra, ngengat raksasa yang punya keberadaannya bernuansa nyaris mistis. Yang paling besar adalah Ghidorah, semacam naga berkepala tiga yang mampu membawa hujan petir langsung dari mulutnya. Dan masih ada beberapa monster lain (yang tak kalah abnormal) yang cuma ribut di latar belakang.

Monster-monster ini adalah para Titan. Atau begitulah mereka disebut oleh Monarch, organisasi rahasia milik pemerintah yang, kalau anda ingat, tugas utamanya adalah meneliti makhluk-makhluk halu. Jumlah mereka 17 ekor (untuk saat ini), yang tersebar di seluruh dunia mulai dari Cina hingga Antartika, dan Monarch punya pos rahasia di masing-masing area tersebut. Lima tahun setelah bencana di film Godzilla 2014, pemerintah sedang mencari cara untuk menangani para Titan; apa mau dimusnahkan, diajak hidup berdampingan sebagai peliharaan, atau —sebagaimana yang disarankan oleh salah satu karakter— kita yang menjadi peliharaan mereka.

Semua ide ini terdengar cute.

Kalau di film sebelumnya kita harus menunggu lama sebelum melihat Godzilla, di film ini kita langsung diberi monster di paruh pertama. Salah satu peneliti Monarch, Emma (Vera Farmiga) berhasil menciptakan alat bernama ORCA. Alat ini bisa memancarkan gelombang yang bisa didengar Titan, dengan harapan agar mereka bisa dikontrol. Berapa kecil kemungkinan gerombolan teroris menggerebek markas Monarch untuk merebut alat tersebut?

Dalam film seperti ini, manusia biasanya cuma berfungsi untuk memindahkan plot dari satu titik ke titik berikutnya; selain untuk memberikan narasi saintifik yang ngawur dan menjadi bahan untuk diinjak atau dikunyah, tentunya. Hebatnya, mereka diisi oleh nama mentereng seperti Ken Watanabe, Sally Hawkins, Thomas Middleditch, Zhang Ziyi, dan O'Shea Jackson Jr. Kita jadi kasian. Betul, tak ada yang menonton film monster untuk mencari perkembangan karakter. Tapi setidaknya kita butuh mekanika plot yang mengikat. Mereka punya momen dramatis masing-masing, yang sayangnya tak terasa dramatis sama sekali karena lewat begitu doang. Beberapa karakter bahkan terasa muncul di mana saja entah dari mana. Dan saya berani taruhan, anda takkan peduli soal prahara rumah tangga antara karakter Farmiga dengan suami (Kyle Chandler) dan anak gadisnya (Millie Bobby Brown).

Syukurlah ketua teroris (Charles Dance) dan timnya berhasil melepaskan Ghidorah yang siap mengancam supremasi Godzilla sebagai dewa di muka bumi. Kalau ada hal yang ditangani dengan benar dalam film, maka ini adalah salah satunya. Berkat Michael Dougherty, sutradara yang pernah membesut film monster kecil berjudu Krampus, Hollywood akhirnya memberikan penghormatan yang layak pada legacy Kaiju. Godzilla ditempatkan di tempat yang seharusnya. Dan, walau cuma sekilas, ada beberapa referensi yang pas terhadap materi sumbernya.

Berbanding terbalik dengan Gareth Edwards, Dougherty punya pola pikir dalam skala besar. Ia menunaikan tugasnya untuk menyuguhkan konfrontasi para raksasa secara spektakuler. Penampilan monster gak dihemat-hemat. Pertarungan antara Godzilla dengan Ghidorah tak hanya sekali; tapi berkali-kali. Adegan aksinya lumayan terlihat jelas. Beberapa komposisinya bahkan memberikan kesan anggun dan megah. Namun, sama seperti berjumpa gebetan, ini membuatnya kurang magical; kemunculan yang terlalu sering tentu takkan memberikan efek hype yang sedahsyat film sebelumnya.

Efek spesialnya luar biasa; tidak realistis tentunya. Kita tak bisa membuat raksasa yang memporak-porandakan separuh bumi tampak realistis. Tak ada yang membeli tiket film Godzilla untuk menyaksikan film yang realistis. Kita ingin melihat para monster menggila. Judulnya sama sekali tak bohong; huruf "s" dari kata "Monsters" memang berarti jamak. Setiap kali saya melihat mereka, saya berusaha bersyukur; mem-pukpuk diri sendiri dan bilang, "Ini satu-satunya alasan saya gak nyesel beli tiket". ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem dan di instagram: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Godzilla: King of the Monsters

132 menit
Remaja
Michael Dougherty
Michael Dougherty, Zach Shields
Thomas Tull, Jon Jashni, Brian Rogers, Mary Parent, Alex Garcia
Lawrence Sher
Bear McCreary

©

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top