0

Review Film: 'Pokémon Detective Pikachu' (2019)

Bagi yang mencari Pokemon dalam wujud live-action, 'Detective Pikachu' takkan membuat kecewa.

“That's a twist. That's very twisty.”
— Pikachu
Rating UP:
Mari kita meluangkan waktu sejenak untuk mengapresiasi apa yang baru saja kita dapat: sebuah film dimana orang-orang membicarakan Pokemon seakan-akan hal tersebut adalah hal paling normal di dunia, tak ada bedanya dengan membicarakan cuaca atau besarnya gaji suami tetangga. Pokemon Detective Pikachu adalah film Pokemon pertama dalam wujud live-action, dan ini merupakan sebuah titik penting dalam pencapaian umat manusia.

Mungkin.


Menonton film ini, saya menyimpulkan bahwa pembuatnya hanya punya satu pertimbangan: orang-orang menonton film live-action Pokemon hanya karena ingin melihat Pokemon dalam wujud live-action. Dalam hal ini, Detective Pikachu tak akan membuat kecewa. Berbagai macam Pokemon selalu ada di setiap sudut. Hampir tak ada adegan yang tak menampilkan minimal satu Pokemon. Bahkan, ada adegan dimana beberapa Pokemon menggila dalam waktu bersamaan. Sungguh memberikan kesegaran mata.

Menyaksikan makhluk-makhluk imajiner ini untuk pertama kalinya dalam wujud live-action memberikan sensasi menggemaskan dan menakutkan sekaligus. Penampakannya sama persis dengan yang kita lihat di versi game atau anime. Hebatnya, mereka dikreasi dengan efek spesial yang luar biasa. Mereka tampak seperti kartun tapi juga terasa riil, karena benar-benar menempati ruang dan dengan meyakinkan berinteraksi dengan karakter manusia kita. Terutama karakter utama kita Pikachu, tikus demit yang bisa menembakkan listrik dari tubuhnya. Gestur, ekspresi, dan gerakannya tampak natural. Ia terlihat seimut versi kartun tapi juga senyata boneka yang bisa kita peluk beneran.

Keimutannya yang bisa memberikan efek samping berupa diabetes ini sangat kontras dengan suara slengek'an Ryan Reynolds. Rasanya seperti mendengar Deadpool sedang berparodi, dengan celutukan dan kecerewetan yang sama. Tapi tak butuh lama bagi saya untuk beradaptasi. Sebagaimana yang kita tahu, para Pokemon tak bisa bicara kecuali melafalkan nama mereka masing-masing. Film ini punya alasan kenapa kita dan karakter utama kita, Tim (Justice Smith) bisa mengerti apa yang Pikachu katakan, sementara manusia lain cuma mendengar kata, "Pika! Pika!".

Iya, karakter utamanya bukan Ash/Satoshi, Pokemon trainer yang selalu ada di anime yang sampai berpuluh season itu. Ceritanya juga bukan bukan soal pertarungan atau mengoleksi Pokemon. Mungkin karena filmnya mau lebih social-aware; melatih hewan peliharaan untuk kemudian diadu memang terdengar cukup sadis. Atau bisa juga karena konsep tersebut terlalu ganjil untuk film pertama. Barangkali kalau film ini sukses, kita bisa melihat bagian lain dari semesta Pokemon.

Untuk kali ini, setting-nya adalah Kota Ryme, kota dimana manusia dan Pokemon hidup berdampingan dengan harmonis. Tak ada pertarungan, tak ada bola Pokemon. Dipenuhi dengan gedung tinggi dengan pendar neon, kota ini mirip dengan LA-nya Blade Runner. Semua warga Ryme punya satu partner Pokemon yang ikut berkontribusi bagi aktivitas urban. Jadi kita bakal melihat Squirtle memadamkan kebakaran atau Growlithe berpatroli bersama polisi.

Yang membawa Tim ke kota Ryme adalah kematian ayahnya yang misterius. Setelah terpisah lama dengannya, Tim tiba-tiba mendapat kabar bahwa sang ayah, yang btw adalah seorang detektif, tiba-tiba dikabarkan tewas dalam kecelakaan mobil. Ini mengantarkannya bertemu dengan Pokemon milik ayahnya, Pikachu. Pikachu bilang bahwa ada yang tidak beres. Maka, berangkatlah mereka bertualang untuk memecahkan misteri yang nantinya juga melibatkan seorang reporter receh Lucy (Kathryn Newton) dan miliarder Howard Clifford (Bill Nighy) beserta sang anak, Roger (Chris Geere) yang siap mewarisi seluruh aset sang ayah.

Plot yang melibatkan Pokemon cenderung lebik menarik karena, yaa, kita diperlihatkan dengan berbagai Pokemon dengan karakteristik mereka yang unik. Dan kita lumayan banyak bertemu dengan mereka. Salah satu di antaranya adalah Mr Mime yang memberikan kita sekuens paling kocak dalam film ini gara-gara pembawaannya sangat suka hanya bisa berpantomim dalam berkomunikasi. Cerita utamanya sendiri melibatkan racun Pokemon bernama "R" serta Pokemon legendaris bernama Mewtwo.

Dan kalau anda sudah membaca sejauh ini tapi masih kepikiran, "Anjir apaan sih Pokemon dan apa yang sedang diomongin si Teguh Raspati ini", maka menonton film ini akan menjadi pengalaman sinematis yang watdefak. Memang tak butuh pengetahuan Pokemon lvl expert untuk menontonnya, tapi sedikit wawasan soal itu akan cukup membantu, terutama dalam beberapa jokes. Bagi yang tak butuh lagi penjelasan soal definisi Pokemon, barangkali akan mendapati bahwa film ini menawarkan visual yang mantap serta humor dan akting yang lumayan.

Sutradara Rob Letterman, yang sukses menghidupkan monster-monster Goosebumps-nya R.L. Stine, tak terasa kagok membawa monster-monster imut Pokemon ini ke layar lebar. Sekuens aksinya menarik, meski kuantitasnya tak banyak. Film ini kabarnya mengadaptasi salah satu judul game Pokemon yang spesifik. Namun saya lebih suka untuk menganggapnya sebagai adaptasi budaya pop Pokemon alih-alih adaptasi langsung dari game yang bersangkutan. Untuk itu, ia berkompromi; memberikan cukup referensi untuk penggemar lama sembari berusaha memperkenalkan diri kepada generasi baru dengan relatif ramah.

Maka, saya kira Detective Pikachu sukses mencapai apa yang ingin ia capai. Apakah orang-orang yang menonton live-action Pokemon dengan tujuan untuk menonton film live-action Pokemon akan protes kenapa misterinya gampang banget atau kenapa karakternya gak kompleks atau kenapa dramanya kurang menohok? Sepertinya tidak. Mereka kemungkinan besar akan menerima dengan senyum sumringah. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem dan di instagram: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Pokémon: Detective Pikachu

104 menit
Semua Umur - BO
Rob Letterman
Dan Hernandez, Benji Samit, Rob Letterman, Derek Connolly (screenplay), The Pokémon Company (game)
Mary Parent, Cale Boyter, Hidenaga Katakami, Don McGowan, Greg Baxter, Cliff Lanning, Ali Mendes
John Mathieson
Henry Jackman

©

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top