0

Film-film 'The Conjuring': Terburuk sampai Terbaik

UlasanPilem telah menyusun daftar peringkat semua film di The Conjuring Universe, diurutkan dari yang terburuk sampai yang terbaik. Dimana posisi 'Annabelle Comes Home'?

Kalau melihat kembali ke tahun 2013, barangkali kita tak menyangka bahwa sebuah film horor dari sutradara yang (((belum))) pernah mencetak hits spektakuler bakal berkembang menjadi sebuah franchise populer yang sukses meraup laba box office yang tidak main-main. The Conjuring, yang sebetulnya hanyalah film rumah hantu sederhana, beranak pinak menghasilkan sekuel, prekuel, dan spinoff yang bermain lintas era dan karakter. Ia boleh dibilang merupakan satu-satunya franchise cinematic universe tersukses setelah Marvel Cinematic Universe.

Dalam waktu 6 tahun, The Conjuring Universe sudah punya 7 film dan semuanya relatif tokcer di box office. Per minggu ini, total pendapatannya di Amerika lebih dari $600 juta, sedangkan dari seluruh dunia mencapai $1,7 miliar. Impresif untuk ukuran film yang rata-rata dibuat dengan bujet produksi yang lebih murah dibanding biaya memoles kumis Henry Cavill di Justice League. Dengan rasio laba sebesar ini, bisa dipastikan bahwa film-filmnya akan hadir secara rutin di tahun-tahun mendatang. Yang sudah pasti saja, ada The Crooked Man, The Conjuring 3, dan The Nun 2.

Karena jumlahnya sudah memadai, saya tentu saja bakal memanfaatkan momen ini untuk menyajikan sebuah artikel peraup klik, mumpung Annabelle Comes Home juga baru dirilis. Kita tahu bahwa kebanyakan film The Conjuring Universe memang rata-rata... jeleknya. Tapi bukan berarti menyusunnya dalam daftar peringkat takkan jadi kegiatan yang seru bukan? Kan? Eh, iya gak sih?

Berikut daftarnya:

#07 Annabelle (2014)


Mungkin opini saya agak bias buat film ini. Barangkali saya mengingat film ini sebagai "yang jelek banget" karena kualitasnya yang timpang jauh kalau dibandingkan dengan The Conjuring-nya James Wan. Perilisannya memang cuma beda satu tahun, jadi kita masih ingat betul bagaimana The Conjuring sukses menggoda kita akan keseraman boneka setan bernama Annabelle, dan bagaimana film Annabelle gagal untuk menunjukkan hal tersebut.

Film ini seolah menjadi pakem bagi deretan film The Conjuring Universe berikutnya (yang inferior) untuk fokus menghadirkan jumpscares tanpa mempedulikan konteks atau cerita. Yang penting, penonton dibuat kaget setengah mati dengan adegan mendadak dan suara latar menggelegar. Uniknya, film ini seperti mencoba mengambil referensi dari horor klasik Rosemary's Baby. Namun sayangnya, karakter keluarga yang diteror Annabelle sangat membosankan, pengadeganannya datar, dan filmnya bahkan tak tahu bagaimana cara menghandel Annabelle itu sendiri. Jangan biarkan saya mulai membahas bagian klimaksnya. [ulasan lengkapnya klik di sini]

#06 Annabelle Comes Home (2019)


Rasanya saya ingin menempatkan film ini dengan film Annabelle pertama di posisi yang sama. Mereka sepadan dengan alasan yang bertolak belakang; Annabelle punya cerita tapi didukung aspek teknis yang sangat lemah, sedangkan Annabelle Comes Home punya aspek teknis yang solid tapi tak ingin bercerita. Sama sekali. Saya merasa dikhianati. Film ini hanyalah sekumpulan jumpscares tanpa buildup dan payoff. Saya menonton film karena ingin menonton FILM, bukan cuma dikejutkan secara random oleh demit random yang melakukan hal random kepada karakter yang bertindak random.

Kita tak punya karakter di sini. Mereka hanyalah avatar bagi kita sekaligus plot device bagi film untuk membangunkan para demit di ruang penyimpanan sakral milik keluarga Warren. Oh, dan juga sekalian untuk mempersiapkan beberapa film spinoff yang akan datang. Saya tak bilang bahwa Annabelle Comes Home adalah film terjelek di The Conjuring Universe, melainkan merupakan film yang paling kentara bermaksud membodohi penonton. Usahanya yang cuma ingin memberikan jumpscares tanpa plot bahkan lebih buruk daripada The Curse of the Weeping Woman. [ulasan lengkapnya klik di sini].

#05 The Curse of the Weeping Woman (2019)


The Curse of the Weeping Woman alias The Curse of La Llorona adalah peluang yang terbuang sia-sia. Di sini, pembuat filmnya punya materi soal legenda urban Meksiko yang sangat terkenal: La Llorona, hantu berpakaian pengantin yang suka menculik anak-anak. Sayangnya, mereka tak mau repot-repot mengeksplor lebih jauh. Latar belakang kulturalnya dilupakan begitu saja. Mereka bahkan tak mau repot-repot bercerita. Semua yang berhubungan dengan plot sudah dibeberkan di ~20 menit pertama, sementara sisanya adalah parade trik rutin dari film horor yang sangat generik.

Linda Cardellini bermain meyakinkan sebagai ibu yang berjuang untuk menyelamatkan kedua anaknya. Bertolak belakang dengan Cardellini, barangkali karena nyasar dari film lain, Raymond Cruz berperan sebagai dukun superserius yang punya dialog menggelikan. Dan La Llorona sendiri adalah salah satu hantu yang paling tak kompeten. Lha, itu anak yang jadi target sudah dipegang, kok dilepasin lagi Llor?

#04 The Nun (2018)


The Nun tidak jauh lebih bagus dibanding La Llorona tapi ia terbantu banyak oleh penampakan Valak yang sudah menyeramkan dari sononya. Desain mukanya betul-betul horor paripurna. Tempatkan dia di film apa saja, kita tetap bakal sukses dibuat kejang-kejang. Setting-nya yang gothic juga memberikan nuansa yang membuat merinding, walau ini belum cukup gelap untuk membuat kita melupakan berbagai hal-hal bodoh yang dilakukan oleh karakternya.

Valak menjadi demit yang populer setelah debutnya di The Conjuring 2. Dengan sentuhan latar belakang yang menyerempet ke agama dan Vatikan, film solonya digadang-gadang film yang terkelam dari franchise The Conjuring Universe. Kita juga dijanjikan soal asal muasal sang karakter tituler. Well, mungkin lain waktu. Kalau bukan karena penampakan muka Valak, saya berani mengajak adik sepupu yang masih balita untuk ikut menonton.[ulasan lengkapnya klik di sini]

#03 Annabelle: Creation (2017)


Kita sudah masuk ke teritori lumayan. Buat saya, Annabelle: Creation unggul dari film di bawahnya dengan margin yang sangat besar. Apa pun, jika dibandingkan dengan film Annabelle pertama, bakal merupakan sebuah peningkatan. Meski begitu, prekuelnya ini memang jauh lebih baik. Tata produksinya mentereng, aktingnya solid, dan penyutradaraannya kompeten. Sudah terbukti dalam film Lights Out, sutradara David F. Sandberg tahu cara membangun suspens dan memberikan jumpscares yang efektif.

Ia bahkan bermain-main dengan hal tersebut. Ia paham bahwa penontonnya bukanlah manusia yang pertama kali menyaksikan film horor. Kita sudah hapal dengan jurus-jurus jumpscares, dan Sandberg memanfaatkan itu untuk mengecoh kita. Kita tak merasa dicurangi, alih-alih senang karena dipermainkan. Latar belakang soal Annabelle memang tak dibuatnya menjadi terang benderang, tapi film ini berhasil menjadi film horor yang fun. Oh, beberapa adegannya juga cukup membuat bergidik sih.[ulasan lengkapnya klik di sini]

#02 The Conjuring 2 (2016)


Tak ada yang lebih tahu soal franchise ini kecuali kreatornya sendiri. Meski filmnya lebih sesak dibanding film pertama, James Wan yang kembali menjadi dalang di belakang kamera, tak kehilangan sentuhan soal teknik menarik ketakutan penonton. Mainan James Wan tidaklah baru; konsepnya masih rumah hantu. Namun serahkan padanya untuk menghadirkan kengerian dari horor konvensional yang sudah terlalu banyak dipakai ini. Di beberapa bagian, pengadeganan dan permainan kameranya sangat mengesankan, showy tanpa harus kehilangan ketegangan.

Film ini mengangkat dua kasus sekaligus (tentunya keduanya dari kisah nyata), yaitu soal "Amityville Horror" dan "Enfield Poltergeist". Memang yang terakhir lah yang menjadi plot utama, tapi keduanya pada dasarnya bertujuan untuk memperkenalkan dua demit berikutnya dalam The Conjuring Universe, yaitu Valak dan The Crooked Man. Betul, ini terkesan sebagai usaha untuk mengekspansi franchise, tapi saya tak keberatan selama kualitas produksinya sebaik ini dan ia berhasil memenuhi ekspektasi penonton dalam menonton film horor, yaitu untuk ditakut-takuti. [ulasan lengkapnya klik di sini]

#01 The Conjuring (2013)


Salah satu faktor yang membuat The Conjuring begitu berkesan barangkali adalah karena ia memberi angin segar bagi horor modern. Saat kebanyakan horor mengambil jalan pintas untuk menakut-nakuti kita dengan gambar paling mengerikan atau paling menjijikkan yang bisa kita bayangkan, James Wan kembali ke konsep klasik yaitu haunted house where things go bump in the night (maap saya sok English, tapi beritahu saya kalau ada padanan Bahasa Indonesia yang tepat). Dengan penggunaan tata suara dan tata kamera yang terukur, Wan membuktikan bahwa teknik klasik dan cerita yang sederhana bukan berarti tak bisa menghasilkan horor yang sangat menegangkan.

Horor standar seperti ini jadi terlihat berkelas. Beberapa orang menyebutnya sebagai horor klasik modern, dan saya takkan mendebat itu sekarang. Yang jelas, ceritanya dibangun tanpa buru-buru, demikian juga dengan atmosfer horornya. Saat jumpscares meledak, kita merasa jantung kita juga ikut meledak. Saya tidak tahu apakah kasus yang ditangani pasangan Warren itu fakta atau hoaks, tapi Vera Farmiga dan Patrick Wilson meyakinkan saya bahwa mereka benar-benar pengusir setan profesional. Kita percaya bahwa yang baru saja kita lihat adalah kasus nyata. Film membuatnya begitu. Saat itu, kita juga dibuat percaya bahwa Annabelle adalah boneka yang sangat menyeramkan, mengingat betapa sulit pasangan Warren menyegelnya. Sekarang? Jangan main jauh-jauh sama Chucky, Belle.

***

Jadi bagaimana dengan anda? Anda bisa saja punya urutan peringkat yang berbeda, jadi silakan menuliskannya di kolom komentar. Atau ingin mengkritik daftar saya? Boleh saja, saya gak gigit. ■UP

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top