0

Review Film: 'Annabelle Comes Home' (2019)

Anggap saya memberikan tambahan skor satu bintang lagi kalau bioskop anda punya fitur fast-forward.

“I think you have the wrong house. There’s no Annabelle here.”
— Mary Ellen
Rating UP:
Pernahkah anda menonton film yang begitu lamban hingga anda berharap bioskop punya fitur fast-forward? Kalau belum, Annabelle Comes Home kemungkinan besar akan membuat anda begitu. Film horor ini keliru menganggap jump-scares sebagai plot, ngobrol sebagai drama, dan adegan pppeee...eeelll...lllaaan sebagai suspens.


"Boneka Annabelle hanyalah penarik bagi hantu lain," kata Lorraine Warren (Vera Farmiga). Patut dicatat bagi saya yang bukan pemerhati dunia mistis: hantu ternyata tidak merasuki benda mati, alih-alih hanya manusia saja. Benda mati cuma wadah perantara, semacam batu loncatan untuk menghantui kita. Seseorang, tolong beritahu fakta ini pada Chucky.

Kita harus berterima kasih kepada Lorraine dan suaminya, Ed (Patrick Wilson) karena sudah rela repot-repot menyimpan boneka setan ini di rumah mereka. Menghancurkannya bisa membuat kondisi jadi berabe, dan yang paling penting, ia tak bisa dibuatkan film. Jadi, mereka mengambilnya di TKP, membawanya pulang via salah satu jalan paling sepi, lalu menyegelnya dalam kotak suci yang telah diberkati oleh pendeta. Di label peringatannya tertulis: "Warning! Positively Do Not Open". Berani taruhan kalau ada yang positif akan membukanya?

Karena ini bukan film The Conjuring 3, Ed dan Lorraine tak lama-lama tampil. Segera setelah menyegel Annabelle, mereka harus membereskan kasus setan berikutnya, sehingga meninggalkan anak gadis kecil mereka, Judy (McKenna Grace) bersama seorang pengasuh, Mary Ellen (Madison Iseman). Lupakan stereotip pengasuh dalam film horor kebanyakan; Mary Ellen sebetulnya adalah gadis yang sangat baik. Ia rajin dan patuh, bahkan tak mau membiarkan cowok masuk ke rumah majikannya padahal cowok yang datang adalah sang gebetan (Michael Cimino).

Namun, kita butuh seseorang yang cukup bodoh untuk berani melakukan hal-hal yang terlarang. Kalau tidak, kita tak akan mendapatkan film horor. Dan orang tersebut adalah teman Mary Ellen, Daniela (Katie Sarife). Ia sudah diperingatkan agar jangan mengintip, jangan membuka, dan jangan menyentuh apa pun. Yang dilakukan Daniela adalah mengintip, membuka dan menyentuh semuanya. Sudah tahu kan kalau rumah keluarga Warren berisi berbagai macam artefak horor yang sangat menakutkan?

Dan itu kurang lebih adalah keseluruhan dari film. Tak ada lagi plot atau semacamnya. Film ini bahkan bukan soal Annabelle. Terornya berasal dari berbagai dedemit random, yang bisa dan (kemungkinan besar) akan dipakai untuk film solo mereka masing-masing. Ada demit gaun pengantin, demit armor samurai, demit koin kematian, dan demit manusia serigala yang terbuat dari kabut... atau semacamnya.

Demit-demit ini punya potensi (saya ingin membuat lelucon soal Demit's Got Talent, tapi gak jadi karena yakin bakal garing). Namun, bagaimana mereka meneror, juga begitu random. Modus operasinya sama, yaitu "muncul di sana, menghilang sebentar, lalu tiba-tiba… BNGSD, KOK UDAH ADA DI SINI!!!" dan semuanya sangat basic sekali, seolah tak menghargai intelejensi penonton. Film ini hanyalah kumpulan dari jump-scares receh yang dilemparin sekenanya, lalu… hei, Annabelle sudah dikurung kembali dan film sudah berakhir.

Karakter manusianya tidak bertindak dan berpikir seperti manusia normal. Mereka hanyalah avatar untuk mengantarkan kita dari satu jump-scare ke jump-scare yang berikutnya. Tugas mereka adalah jalan ke tempat sepi, pelan-pelan melakukan sesuatu, dan kemudian berakting kaget. Cut! Kita pindah ke karakter satunya. Begitu terus sampai muka saya berubah ganteng. Sekonyong-konyong film ditutup dengan adegan yang pembuatnya harap bisa kita anggap sebagai drama emosional.

Kita sudah sampai di film ketiga (sebuah prestasi, mengingat film induknya, The Conjuring yang baru punya dua film), dan kita kira pembuatnya sudah menemukan resep yang pas untuk sebuah film Annabelle setelah Annabelle: Creation yang lumayan. Gary Dauberman —yang memulai debut penyutradaraannya di sini— adalah orang yang juga menulis dua film Annabelle sebelumnya. Jadi ia pasti lebih tahu. Namun yang diberikannya adalah sorotan kamera dan orang yang bergerak dengan sangat perlahan, diiringi musik latar yang bergemuruh pelan. Gadis-gadis, anda tahu kapan ia akan meledak dan kalian harus teriak.

Bagaimana dengan tata produksi, sinematografi, dan akting? Saya kira baik-baik saja, tapi saya sulit untuk peduli. Akting terbaik datang dari pemeran Judy yang mengeluarkan penampilan yang sangat pas untuk sebuah film horor yang punya seorang anak berkemampuan cenanyang. Akting terbaik kedua adalah milik Annabelle, yang bisa membuat kita percaya bahwa ia mampu berteleportasi ke mana saja padahal kita tak pernah sekalipun melihatnya bergerak di layar. Kenikmatan saya dalam menonton? Tidak ada sama sekali.

Pembaca setia UP tentu sudah tahu kalau skor yang saya berikan bukanlah nilai dari kualitas film (saya hanyalah pria random yang suka mengomentari film dengan sotoy di internet), melainkan skala seberapa besar saya merekomendasikan film tersebut kepada anda. Jadi, skor dari saya sebetulnya sangat relatif. Anggap saya memberikan tambahan satu bintang lagi kalau bioskop anda punya fitur fast-forward, yang artinya anda bakal membuang waktu lebih sedikit. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem dan di instagram: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Annabelle Comes Home

106 menit
Remaja - BO
Gary Dauberman
Gary Dauberman
James Wan, Peter Safran
Michael Burgess
Joseph Bishara

©

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top