0

Review Film: 'Dark Phoenix' (2019)

Sebagai film soal Dark Phoenix, film ini butut. Tapi sebagai sebuah film X-Men, 'Dark Phoenix'… lumayan.

“You're always sorry, Charles. And there's always a speech. But nobody cares!”
— Erik Lehnsherr
Rating UP:
Sebagai film soal Dark Phoenix, film ini butut. Tapi sebagai sebuah film X-Men, Dark Phoenix… lumayan. Film ini baru sebatas menyentil ide yang sebetulnya menarik. Ia belum berani menenggelamkan kita sepenuhnya ke sisi gelap karakter tituler. Bahkan, saya kira wajar jika sebagian dari kita tak begitu bisa menangkap dengan konkrit apa maksud dari "Dark Phoenix". Mendekati akhir film, ia baru sampai di titik dimana ia akhirnya menunjukkan apa yang mampu dilakukan oleh Dark Phoenix.


Bagi anak gaul hedon seperti saya yang tak pernah menyentuh komik seumur hidup, patut diketahui bahwa Dark Phoenix adalah alter ego dari Jean Grey, salah satu mutan terkuat dalam semesta X-Men. Seberapa kuat? Well, di awal film, ia sukses mencegah kecelakaan besar dari sebuah pesawat ulang-alik sekaligus menyerap ledakan beserta radiasi kosmik yang menyertainya tanpa mengalami cedera yang berarti. Kekuatan besarnya bahkan mengakibatkan orangtuanya tewas saat ia masih kanak-kanak.

Saga Dark Phoenix diklaim sebagai salah satu episode komik Marvel terhebat. Jadi, kenapa kita merasa seperti menonton film X-Men yang sudah pernah kita tonton? Memang, ini bukan pertama kalinya kita mendapatkan saga ini di layar lebar; kehormatan tersebut direnggut oleh X-Men: The Last Stand. Namun, versi terbaru ini katanya relatif lebih setia terhadap versi komik, mempertahankan beberapa elemen inti dari materi sumbernya. Sayangnya, Dark Phoenix-nya sendiri berada di dalam film X-Men yang generik.

Sebelumnya, ia (Sophie Turner) berada di sekolah milik Profesor Charles Xavier (James McAvoy), lembaga yang bergerak di bidang penampungan dan pendidikan mutan. Masing-masing mutan ini punya kemampuan spesial yang berbeda-beda, yang mana akan panjang kalau saya jabarkan semua. Yang jelas, ada Raven (Jennifer Lawrence), Beast (Nicholas Hoult), Nightcrawler (Kodi Smit-McPhee), Storm (Alexandra Shipp), Quicksilver (Evan Peters), Cyclops (Tye Sheridan), dkk. Tragedi di awal film, membuat teman-teman Jean ini berada dalam bahaya. Pasalnya, radiasi kosmik mengakibatkan kekuatan Jean menjadi tidak terkontrol, sekaligus membangkitkan memori buruknya di masa lalu.

Premis ini membawa filmnya ditutup dengan sekuens aksi asyik yang terjadi di sebuah kereta cepat. Ini adalah pertarungan puncak yang menunjukan apa yang mahir dilakukan oleh X-Men. Mereka mengkombinasikan kekuatan masing-masing untuk menciptakan efek bombastis yang terjadi secara simultan; sensasi yang tak begitu berbeda dengan yang kita dapatkan saat melihat lusinan superhero beraksi secara berserakan dalam satu panel penuh di halaman komik

Ups, saya kan tadi bilang gak pernah megang komik.

Sekuens ini hadir tepat saat saya yakin bahwa tak ada hal menarik yang akan terjadi. Pasalnya, premis film pada dasarnya cuma berfungsi sebagai plot device untuk membawa kita reuni dengan para X-Men lain, termasuk Erik Lehnsherr/Magneto (Michael Fassbender). Mereka tak punya motif yang kuat untuk terlibat dengan Jean. Saat mereka punya itu, prinsip mereka tak konsisten; berubah secepat mantan move-on. Lihat saat Profesor Charles sedemikian yakin dengan idealismenya untuk hidup berdampingan dengan manusia hingga sampai ke titik egois. Atau saat Magneto haqqulyaqin memutuskan untuk memberangus Jean. Tak lama, mereka sudah kena amnesia.

Masalah terbesar ada di karakter Jean sendiri. Ini seharusnya merupakan perjalanan kelam dari karakternya, bagaimana ia teracuni dengan kekuatan besarnya sehingga menimbulkan dampak yang tak main-main bagi rekan-rekannya. Namun yang dilakukan Jean adalah memasang tampang memelas dan bilang sesuatu yang sudah jelas seperti "Aku tak tahu apa yang terjadi denganku", "Aku kehilangan kendali", atau "Jangan berada di dekatku" saking seringnya sampai kita pasti refleks menepok jidat. Kita tak merasakannya. Saya belum tahu dengan kapabilitas akting Sophie Turner, tapi di film ini karakter yang seharusnya kompleks tapi relatable terasa seperti satu dimensi belaka. Di akhir film, ia berteriak saat menghajar musuh, "Emosi membuatku kuat!", lupa bahwa justru emosi yang membuatnya tak terkontrol di awal. Jean kena amnesia juga.

Dan jangan biarkan saya mulai membahas karakter yang diperankan oleh Jessica Chastain. Ia terlihat fantastis dengan rambut, alis, dan kostum putih. Tapi anda pasti bakal bertanya-tanya jangan-jangan dia nyasar dari film lain.

Lewat film ini, Simon Kinberg baru pertama kali bertindak sebagai sutradara. Namun ia sudah puluhan tahun terlibat di belakang layar X-Men sebagai produser dan penulis naskah (termasuk di film ini juga). Ia menggarap sekuens aksi dengan percaya diri, tapi tak percaya dengan karakternya. Hampir semua harus selalu mengucapkan apa yang mereka pikirkan; seperti dialog ala sinetron tapi minus zoom dan efek suara sinting, tentunya.

Dark Phoenix tidaklah seburuk, katakanlah, The Last Stand. Tapi, ia juga bukan pula film X-Men yang superior seperti X-Men: First Class. Penggarapannya memadai, ceritanya bisa dicerna, adegan aksinya mudah diikuti, dan ia tak punya elemen bully-able seperti X-Men: Apocalypse. Yang membuatnya mendapat reputasi jelek barangkali adalah usahanya yang sesumbar untuk menjadi kulminasi dari franchise X-Men, ala Avengers: Endgame-nya Marvel Cinematic Universe. Toko sebelah membangun semestanya dengan telaten. X-Men, meskipun eksis sejak tahun 2000, punya terlalu banyak inkonsistensi. Mengklaim sesuatu bukan berarti sesuatu itu otomatis benar dan kita langsung percaya. Iya, saya sekalian ngomong ke kamu, Jean. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem dan di instagram: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Dark Phoenix

114 menit
Remaja
Simon Kinberg
Simon Kinberg (screenplay), Stan Lee, Jack Kirby (komik)
Simon Kinberg, Hutch Parker, Lauren Shuler Donner
Mauro Fiore
Hans Zimmer

©

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top