0

Review Film: 'Men in Black International' (2019)

Melihat alien tak lagi seasyik itu.

“You really think a black suit is going to solve all your problems?”
— Agent O
Rating UP:
Di tahun 1997, lewat film Men in Black pertama, kita akhirnya mengetahui bahwa ternyata selama ini kita hidup berdampingan dengan alien. Mereka membaur dengan begitu lihai bahkan sampai menjadi selebritis internasional tanpa kita sadari. Yap, di bumi yang sama dengan kita; memberi gagasan asyik bahwa tetangga kita bisa jadi juga termasuk makhluk ekstraterestrial. Namun, dalam Men in Black International, dunianya tak lagi terasa seperti dunia nyata. Ia tampak artifisial; seolah berlangsung di planet lain yang kebetulan ada manusianya. Melihat alien tak lagi seasyik itu.


Ini adalah separuh bagian yang menjadi keseruan dari Men in Black. Separuh lagi adalah dinamika dan karisma dari Will Smith yang bertandem dengan Tommy Lee Jones. Kita tak berjumpa dengan mereka di sini. Meski begitu, barangkali ada pilihan yang lebih buruk untuk dijadikan pengganti selain Chris Hemsworth dan Tessa Thompson. Lagian chemistry mereka sudah terbukti di Thor: Ragnarok kan? Oke, saya kasih tau ini: kombo Thor dan Valkyrie sekalipun tak mampu untuk memberikan sengatan energi yang memadai buat film ini.

Padahal film dimulai secara menjanjikan dengan kehadiran karakter baru yang punya latar belakang menarik. Karakter tersebut adalah Molly, yang diperankan oleh Tessa Thompson. Saat kecil, Molly sempat mencuri-lihat para agen MIB beraksi. Ia kemudian mendedikasikan seluruh hidupnya untuk menemukan organisasi rahasia yang bertugas mengawasi keberadaan alien di bumi tersebut. Tak ada waktu buat cinta; semua hanya soal olah otak dan raga. Makanya, Molly sampai bisa lolos kualifikasi masuk FBI dan CIA, yang tentu tak diambil karena ia ingin bergabung dengan organisasi yang "lebih atas".

Namun dedikasi itu hancur di hadapan Chris Hemsworth. Ketika ia berhasil menemukan markas MIB, lalu dijadikan anak magang oleh bos MIB setempat (Emma Thompson) lantas dikirim ke kantor cabang London, Molly langsung kesemsem dengan doi. Saya tak menyalahkan Molly sepenuhnya sih. Lha kalau saya sekantor sama Chris Hemsworth, pasti saya juga mati-matian berusaha menarik perhatian dan tentunya hilang fokus saat doi "tak sengaja" memamerkan dadanya yang bidang. #NoHomo.

Ngomong-ngomong, Hemsworth bermain sebagai Agen H, cowok ganteng yang saking slengek'annya, anda mungkin meragukan kompetensinya sebagai agen MIB. Ia ceroboh, sering telat, suka pesta, besar mulut, agak bajingan, dan (anehnya) kurang asyik. Namun mantan partnernya yang sekarang menjadi pimpinan MIB cabang London, High T (Liam Neeson) masih menganggapnya sebagai salah satu agen terbaik.

Plotnya, kalau saya tak salah ingat, melibatkan benda kecil misterius yang sangat berbahaya. Benda ini konon katanya diincar oleh alien yang bisa menyamar sebagai manusia yang disebut "The Hive". Ini membuat kedua agen kita bermain kejar-kejaran dengan duo alien (Laurent & Larry Bourgeois) yang sangat tangguh dan keren, yang sayangnya tak terasa semematikan itu.

Gakpapa buat sebuah film untuk mengulang premis yang sama, tapi mendaur ulang lelucon yang sama, artinya malas. Saat film ini memberikan lelucon yang baru (misalnya soal Hemsworth yang memegang palu mini), sayangnya lebih banyak berujung krik krik. Kumail Nanjiani bermain sebagai sidekick bernama Pawny, alien mini yang merupakan penyintas terakhir dari kaumnya dan sekarang mengabdikan dirinya sebagai pelayan agen M. Tak ada yang belum pernah kita lihat sebelumnya.

Walau berpotensi menghadirkan dinamika yang tak kalah menarik dari Smith & Jones, Hemsworth & Thompson tak  mendapat cukup ruang untuk bergerak. Karakter mereka berakhir menjadi tak menarik, dengan status hubungan yang kita tak persis seperti apa maksudnya. Kemantapan chemistry keduanya dalam satu film intergalaktika tak berarti mereka bakal sukses juga dalam film intergalaktika yang lain.

Kita hanya melihat mereka meloncat dari satu lokasi ke lokasi lain, mulai dari London, Marrakesh, hingga Paris. Dan bahkan perpindahan lokasi ini gak ngaruh-ngaruh amat sama cerita. Plotnya terlalu sibuk sendiri dengan berbagai subplot dan karakter sampingan yang gak penting. Yang lebih parah, ada beberapa poin dalam film yang tak konsisten dengan aturan dalam semestanya sendiri.

Dalam film ini, hanya ada sedikit bukti bahwa sutradara F Gary Gray pernah sukses membesut The Italian Job dan Furious 8. Efek spesialnya cukup kompeten, tapi adegan aksinya terasa malas. Demikian juga dengan filmnya secara keseluruhan. Anda tentu tahu soal Neuralizer kan? Alat khas MIB yang bisa menghapus ingatan tersebut tak hanya digunakan sebagai running-joke, tapi juga sebagai plot utama film. Setengah jam selesai menonton, kita merasa bahwa alat ini mungkin juga telah digunakan kepada kita. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem dan di instagram: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Men in Black International

115 menit
Remaja - BO
F. Gary Gray
Art Marcum, Matt Holloway
Walter F. Parkes, Laurie MacDonald
Stuart Dryburgh
Danny Elfman, Chris Bacon

©

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top