0

Review Film: 'Child's Play' (2019)

Cukup enak dinikmati untuk ukuran film yang berdiri sendiri meski memang tak sesinting dan se-laughable film aslinya.

“Are we having fun now?”
— Chucky
Rating UP:
Perhatian: film ini bukan film Chucky-nya oom kita. Child's Play versi baru ini sudah hi-tech, jauh dari mitologi orisinalnya. Dalam film Child's Play 1988, Chucky adalah boneka low-tech yang dirasuki oleh arwah seorang pembunuh berantai. Nah, sama sekali tak ada hal yang mistis seperti itu di versi baru. Chucky betul-betul hanyalah sebuah boneka (robotik) yang jadi jahat gara-gara malfungsi. Penyebabnya, seorang buruh pabrik boneka di Vietnam dendam gara-gara dipecat, tapi sebelum meninggalkan pabrik (dan dunia), ia sempat memasukkan chip cacat ke boneka Chucky.


Ini terdengar seperti ide yang sangat buruk untuk film orisinalnya. Dan memang begitu. Penonton yang mencintai Child's Play jadul dan histeris menyaksikan Chucky tertawa kesetanan, bisa dipastikan akan memusuhi film ini. Namun, kalau kita melihatnya sebagai film dengan jenis yang berbeda walau punya judul dan premis yang sama, Child's Play versi baru ini lumayan juga. Ia cukup enak dinikmati untuk ukuran film yang berdiri sendiri meski memang tak sesinting dan se-laughable film aslinya.

Komplain terbesar saya soal film ini sama dengan film-film lain yang punya boneka setan: bocah waras mana yang mau memiliki boneka dengan tampang semengerikan itu? Tapi sudahlah, namanya juga film horor. Pertanyaan yang lebih penting: perusahaan mana yang mengira bocah waras mau membeli boneka dengan tampang semengerikan itu? Dalam film ini, perusahaan tersebut bernama Kaslan, yang juga memproduksi berbagai macam peralatan elektronik. Nah, boneka mereka yang diberi merek Buddi ini, selain menjadi teman bermain bagi anak-anak, juga ditanamkan teknologi canggih yang bisa membuatnya mengontrol semua perangkat ciptaan Kaslan. Apakah di antara karyawan mereka tak ada yang pernah menonton film Terminator?

Boneka ini jatuh ke tangan karakter utama kita, Andy (Gabriel Bateman) gara-gara sang ibu. Ibu Andy (Aubrey Plaza) bekerja di supermarket yang kebetulan jualan boneka Buddi. Mumpung ada satu boneka reject, si ibu membawanya pulang sebagai kado ultah buat Andy. Sekalian sebagai teman untuk menghibur Andy yang susah punya teman. Namanya Chucky. Dan berkat kemampuan Chucky yang bisa ngomong jorok, Andy jadi punya teman sungguhan. Yang jorok-jorok memang bisa menyatukan kita semua.

Bicara soal tampang Chucky, ia jauh kalah seram dari versi lama. Pembuat film mengkondisikannya seperti boneka robotik sungguhan. Jadi tak akan ada seringai atau mata yang mendelik dengan lebay. Betul, Chucky versi ini masih membuat beberapa ekspresi, tapi keseramannya lebih berasal dari permainan angle dan pencahayaan. Pengisi suara Chucky bukan lagi Brad Dourif, melainkan *jeng jeng* Mark Hamill—yep,Luke Skywalker-nya Star Wars, Joker-nya Batman: The Animated Series. Hamill memberikan corak menarik bagi Chucky. Ia hampir tak pernah tertawa seperti maniak. Kosakatanya terbatas. Namun kita tetap bisa merasakan kengerian dari setiap dialognya yang rata-rata disampaikan dengan lempeng. Lagu "The Buddi Song", yang sebetulnya punya lirik "normal", adalah mimpi buruk.

Yang paling menarik dari film ini adalah perjalanan Chucky menjadi boneka yang akhirnya membantai orang-orang. FYI aja, meski punya chip cacat, Chucky tidaklah jahat sejak awal. Ia hanya ingin menjadi teman terbaik Andy, bagaimanapun caranya. Saat ada sesuatu membuat Andy tak bahagia, Chucky siap mengenyahkannya. Saat pacar baru ibu Andy mengamuk, Chucky siap membungkamnya. Saat Andy dkk terbahak-bahak menonton Leatherface menguliti wajah orang dalam film Texas Chainsaw Massacre 2... hmm, Chucky hanya ingin Andy bahagia. Dan ia cepat belajar.

Semua penyimpangan ini tentu saja tak direstui oleh kreator Chucky, Don Mancini, hingga ia memutuskan untuk sama sekali tak terlibat. Ini memberi ruang buat sutradara Lars Klevberg dan penulis Tyler Burton Smith untuk melakukan upgrade, terutama dengan bantuan bujet dan teknologi sinema yang lebih mutakhir. Child's Play orisinal dan 6 sekuelnya memang merentang dari kelas ampas hingga sangat ampas. Namun ada satu kualitas yang mencolok dari film-film tersebut yang tak dipunyai versi baru, yaitu kepribadian. Chucky lama punya karisma yang kuat; latar belakang supranatural dan karakterisasi yang sinting membuatnya begitu mengintimidasi dan berkesan hingga filmnya sendiri menjadi cult. Film versi baru lebih terlihat seperti film buatan pabrik yang dibuat dengan cakap.

Untungnya, Klevberg menjaga filmnya tetap fun. Bagi yang menantikan adegan pembantaiannya, bagian ini cukup sadis sampai membuat saya ngilu. Ada satu rangkaian kejadian soal ini yang sukses memberikan suspens sekaligus menjadi lelucon panjang. Sekuens ini nyaris menyerempet campy, tapi tetap terkesan serius. Faktanya, keseluruhan film ini cenderung lebih serius dibanding Child's Play lawas. Para karakternya, yang rata-rata dimainkan dengan kompeten oleh para aktor terutama pemeran Andy, tidak sebodoh yang kita biasanya dapat (Andy bahkan tidak suka dengan bonekanya sedari awal; ia bilang ia sudah terlalu dewasa untuk itu). Yang dungu khusus menjadi mangsa Chucky.

Saya pikir film ini punya posisi yang sama dengan versi baru dari serial The Twilight Zone. Pembuatnya ingin membuatnya menjadi produk yang lebih baik, dan hasilnya memang lebih baik... sampai di titik tertentu. Pernyataan yang sama berlaku pula untuk usaha kentaranya menyelipkan pesan sosial yang relevan di jaman sekarang. Untuk urusan remake/reboot atau semacamnya, kita seringkali mendapat produk yang cuma ingin mengeksploitasi merek demi profit. Child's Play versi baru tak terasa seperti itu. Ia benar-benar ingin memberikan sesuatu yang baru. Yaah, walaupun yang baru tak selalu lebih nampol. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem dan di instagram: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Child's Play

90 menit
Remaja - BO
Lars Kelveberg
Tyler Burton Smith (screenplay), Don Mancini (kreator)
David Katzenberg, Seth Grahame-Smith
Brendan Uegama
Bear McCreary

©

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top