0

Review Film: 'Extremely Wicked, Shockingly Evil and Vile' (2019)

Film ini menempatkan Ted Bundy persis sebagai Bundy yang dipandang publik saat itu. Dan ini adalah sudut pandang menarik yang digali dengan cerdik.

“People don't realize that murderers do not come out in the dark with long teeth and saliva dripping off their chin.”
— Ted Bundy
Rating UP:
Di antara banyak pembunuh berantai, Ted Bundy adalah salah satu yang paling menarik. Bukan karena kesadisan atau pun jumlah korbannya —meski kedua hal ini juga sebetulnya juga tak main-main— melainkan karena pribadinya. Ia ganteng, cerdas, dan mempesona; karakteristik yang terdengar sangat kontras dengan kejahatan keji yang dilakukannya. Bundy mengklaim telah membunuh 30 orang wanita (estimasi aktualnya mencapai 100 orang!). Meski demikian, saat itu ia menjadi idola media dan publik. Penampilannya di ruang sidang sangat ditunggu-tunggu. Apa pun geraknya selalu menjadi sorotan. Ia adalah rockstar di dunia kriminal.


Baca halaman Wikipedia soal Bundy, dan kita akan jijik mendapati detail sadis yang sudah diperbuatnya terhadap para korban. Namun kita takkan mendapatkan itu dalam Extremely Wicked, Shockingly Evil and Vile. Film ini bukan soal riwayat kriminal Bundy. Hampir tak ada adegan yang menampilkan Bundy membantai. Film ini menempatkan Bundy persis sebagai Bundy yang dipandang publik saat itu. Kita menyaksikan Bundy sebagaimana orang-orang melihat Bundy di luar, bukan apa yang dilakukan Bundy di ruang gelap atau di kursi belakang mobil VW kodoknya.

Dan ini adalah sudut pandang menarik yang digali dengan cerdik oleh sutradara Joe Berlinger. Film ini diangkat dari memoar mantan istri Bundy, Elizabeth Kendall yang berjudul The Phantom Prince: My Life with Ted Bundy. Berlinger, sineas yang lebih dikenal lewat 3 film dokumenter Paradise Lost, juga punya satu lagi film soal Bundy tahun ini. Film tersebut adalah dokumenter Conversations with a Killer: The Ted Bundy Tapes yang terdiri dari 4 episode. Berlinger pasti sudah tahu betul soal Bundy; yang menarik bukanlah aksi Bundy itu sendiri (Wikipedia sudah kelar menelanjangi tindak kriminalnya), melainkan bagaimana pribadi Bundy dan hal tersebut mempengaruhi orang-orang di sekitarnya.

Dalam kasus ini, kita melihatnya dari kacamata Elizabeth/Liz (Lily Collins). Ia adalah seorang single mother yang biasa-biasa saja. Ia butuh sentuhan pria. Kemudian hadirlah Ted (Zac Efron) yang menghampirinya di sebuah bar. Ted mempesona, Liz terpesona. Liz pun mengajaknya ke rumah. Mereka di kamar tapi Ted tidak memaksa bersenggama. Di pagi hari, Liz bangun tidur mendapati sarapan sudah jadi dan anaknya anteng bercengkerama dengan Ted. Ini calon suami idaman apa calon suami idaman?

Mereka tampak seperti pasangan keluarga muda yang bahagia. Namun yang tidak Liz tahu adalah si suami ternyata melakukan sesuatu yang keji di belakangnya. Eh, apa bukan? Liz juga tak yakin. Di TV, ia mendengar berita soal beberapa wanita yang diculik, dibunuh, dan dimutilasi. Ciri-ciri pelakunya mirip Ted. Di satu titik, Ted bahkan ditangkap polisi. Namun, Liz tetap bertahan dengan Ted. Apalagi saat Ted bersikeras bahwa ia dituduh atas hal yang tidak pernah dilakukannya.

Skenario seperti ini sungguh horor. Bagaimana kalau orang yang sangat ingin kita percayai, yang kita pikir sudah kita kenal luar-dalam, ternyata benar tak seperti yang kita kira? Film ini mengikuti perjalanan psikologis Liz hingga ia mendapat realisasi akan jati diri Ted. Namun, film tak menempatkan Liz sebagai orang yang bodoh. Ini hanya menunjukkan bahwa betapa hebatnya Ted dalam mempengaruhi orang. Di sidang-sidang terakhirnya, Ted bahkan sempat menikahi seorang jurnalis, Carol Ann Boone (Kaya Scodelario) saat sedang dalam tahanan. Carol tentunya juga bukan wanita yang bodoh.

Pemilihan Efron sebagai Ted Bundy merupakan casting yang mantap. Alumni High School Musical ini juga adalah seorang idola ciwik-ciwik. Ia punya tampang, bodi *uhuk* dan pembawaan yang karismatik. Namun lebih jauh dari itu, Efron sukses memainkan pribadi yang membuat kita mengerti kenapa banyak orang yang tertarik kepadanya, kenapa para wanita mudah sekali jatuh menjadi mangsanya. Pembawaannya membuat orang-orang terperdaya. Ia sama sekali tak terlihat sebagai pembunuh berantai berdarah dingin. Demikian juga dengan Ted Bundy.

Kalau ada satu yang jadi komplain saya, itu adalah soal konsistensi angle cerita. Di sebagian porsi film, kita melihat Ted dari perspektif Liz. Namun, saat telah ditangkap, plot lebih berfokus kepada Ted, seolah landasan cerita bergeser ke perspektif Ted. Liz pindah ke latar belakang. Kita melihatnya sebagai karakter sampingan yang menderita depresi akibat cengkeraman Ted bahkan saat Ted dipenjara. Di sorotan utama, Ted memancing sirkus media dengan berbagai aksi eksentriknya, termasuk dengan menjadi pengacara bagi dirinya sendiri. Kita hampir dibawa masuk ke dalam psikologi Ted, sehingga momen realisasi yang dialami Liz, yang notabene merupakan puncak film, menjadi berkurang dampak emosionalnya.

Film ini tak bertujuan untuk memahami Bundy. Ini bukan studi karakter. Film sama sekali tak berusaha untuk menjelaskan. Kita tak tahu kenapa Ted Bundy menjadi, well, Ted Bundy. Sebelum dirilis, banyak yang mengkritik bahwa film ini bakal menglorifikasi Bundy, memoles kekejian yang telah dilakukan dengan pesona dirinya. Namun, memang begitulah hakikat Bundy itu sendiri. Judul film diambil dari potongan kutipan hakim yang memberi vonis mati kepada Bundy, "... luar biasa kejam, sangat jahat, keji... tidak peduli terhadap kehidupan manusia...". Namun sang hakim (di film ini diperankan oleh John Malkovich) juga menambahkan, "Jaga dirimu anak muda; aku mengatakan ini dengan tulus. Kamu adalah anak muda yang cemerlang. Kamu seharusnya bisa menjadi pengacara yang bagus dan aku akan senang melihatmu [membela seseorang] di depanku."

Lihat kan? Bahkan sang hakim pun sedikit terperdaya oleh Bundy. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem dan di instagram: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Extremely Wicked, Shockingly Evil and Vile

108 menit
Dewasa
Joe Berlinger
Michael Werwie (screenplay), Elizabeth Kendall (memoar)
Michael Costigan, Nicolas Chartier, Joe Berlinger, Ara Keshishian, Michael Simkin
Brandon Trost
Marco Beltrami, Dennis Smith

©

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top