0

Review Film: 'Spider-Man: Far From Home' (2019)

Film Spider-Man yang hampir seasyik 'Spider-Man: Homecoming' tapi tetap masuk ke dalam struktur besar MCU.

“I didn’t think I would have to save the world this summer.”
— Peter Parker
Rating UP:
Peter Parker akhirnya tau rasa pasca tragedi Avengers: Endgame. Kalau di Spider-Man: Homecoming ia tak sabar ingin segera menjadi superhero sungguhan yang selevel dengan Iron Man atau Captain America, di Spider-Man: Far from Home ia cuma ingin jadi remaja normal. Mungkin setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana beratnya menjadi seorang pahlawan, Peter akhirnya sadar bahwa ia belum cukup kuat untuk memikul tanggung jawab sebesar itu.


Sebetulnya, memang tak perlu begitu sih. Peter kan masih remaja tanggung yang labil. Lagipula, Spider-Man adalah pahlawan penyelamat lingkungan. Kita melihatnya sebagai pahlawan membumi yang relatable. Petualangannya menegangkan tapi relatif ringan. Meski judul dan plotnya mengindikasikan bahwa film ini akan membawa Spider-Man ke ranah global, Far from Home sebetulnya adalah satu lagi petualangan mini Peter dalam menemukan jati diri. Semua kehebohan blockbuster di sekitarnya hanyalah pengalihan. Uhuk.

Jadi, Peter tentu saja lebih memilih untuk ikut study tour keliling Eropa bersama teman sekelasnya daripada mengangkat telepon dari Nick Fury (Samuel L. Jackson) yang pasti memintanya untuk sekali lagi menyelamatkan bumi. Apalagi study tour ini membuka kesempatan baginya untuk pedekate dengan sang gebetan, MJ (Zendaya). Misi yang lebih penting adalah bagaimana cara agar bisa duduk di sebelah MJ dalam penerbangan panjang menuju Venice. Lha ini kok jadinya malah Ned (Jacob Batalon) yang sebelah sama Betty (Angourie Rice)? Misi kedua adalah menanggulangi usaha pedekate dari saingan baru (Remy Hii) dalam memperebutkan MJ. Oh, masa remaja memang seru.

Spider-Man: Far from Home dengan kompeten menunaikan tugasnya sebagai film yang *betul* terasa seperti sekuel dari Spider-Man: Homecoming sekaligus film yang *sahih* merupakan salah satu bagian dari perkembangan Marvel Cinematic Universe (MCU), terutama sebagai kelanjutan dari Endgame. Sutradara Jon Watts beserta penulis Chris McKenna & Erik Sommers mengemasnya sebagai film Spider-Man yang hampir seasyik Homecoming tapi tetap masuk ke dalam struktur besar MCU. Bagi yang ingin tahu bagaimana dunia pasca ditinggalkan Iron Man, anda bisa melihatnya lewat video cringy karya siswa SMA tempat Peter sekolah. Film ini bahkan menjawab kenapa Peter tak kunjung jadi anak kuliahan walau dunia sudah berlalu selama 5 tahun.

Kita boleh berharap film bakal jauh lebih seru, terutama dengan ide ceritanya yang cukup brilian. Tapi saya tak bisa menampik perasaan bahwa film ini berusaha memikul tanggung jawab sebagai sebuah film MCU, yang memberikan kesan akhir bahwa saya baru saja menonton satu lagi film Marvel konvensional. Stakes-nya tak sebesar yang ingin ditunjukkan film. Ia tak pernah mencapai titik emosional yang ingin ia tuju. Dan petualangannya, walau tetap segar dan asyik, tak terasa se-petualang itu.

Bagian superhero dari film ini dimulai dengan kemunculan monster air raksasa saat Peter dkk sedang berdayung ria di Venice. Monster ini menimbulkan kehancuran yang tidak main-main. Peter hanya bisa membantu seadanya, tapi untunglah datang pahlawan baru berjuluk Mysterio. Nick Fury merekrut Mysterio (dan nantinya Peter) untuk mengatasi ancaman dari monster-monster serupa yang diberi nama Elementals, sesuai dengan wujud mereka yang merupakan manifestasi dari elemen air, api, angin, dan bumi. Nah, gimana coba jadi superhero saat study tour? Hampir 24 jam Peter bareng sama teman-teman dan guru, susah dong merahasiakan identitas sebagai Spider-Man?

Jake Gyllenhaal bermain sebagai Mysterio alias Quentin Beck, karakter yang barangkali merupakan non-hero paling menarik di semesta Marvel. Bukan karena latar belakang atau karakterisasinya, melainkan karena kemampuan khususnya dalam menghadapi musuh. Cerdik, karismatik, memakai kostum armor (bernuansa hijau) dengan helm fullface (berupa globe berwarna hijau), menembakkan laser (hijau), bisa terbang (dengan memanfaatkan kentut hijau), ia hampir mirip dengan Iron Man (kalau dikomparasi dengan ilmu cocoklogi). Mungkin inilah yang membuat Peter percaya bahwa Mysterio adalah pahlawan yang cocok mengisi kekosongan yang ditinggalkan Iron Man.

(Oke. Penggemar komik pasti sudah tahu bahwa Mysterio adalah salah satu musuh Spider-Man. Namun, dalam film ia mengaku berasal dari bumi alternatif. Jadi mungkin kali ini akan berbeda?)

Keberadaan karakter ini membuat adegan klimaksnya yang penuh dengan huru-hara CGI menjadi lebih menarik. Sekuens ini melibatkan berbagai efek bombastis yang lebay. Beberapa pertunjukan visualnya yang psikedelik cukup mengesankan. Dan itulah poinnya. Bagian ini barangkali juga sekalian dimaksudkan untuk mengomentari kondisi film superhero saat ini yang banyak mengandalkan efek komputer generik untuk memperdaya penonton. Gak meta-meta banget juga sih, tapi ngeklik betul dengan plot. Dan Gyllenhaal memainkannya dengan pembawaan yang tak bisa lebih tepat daripada ini. Ia benar-benar bersenang-senang dengan perannya yang tak biasa tersebut.

Saat nanti kita duduk santai sembari menyesap kopi setelah menonton, kita sadar berapa banyak suspension of disbelief yang baru saja dipakai. Betul, untuk menonton film soal bocah yang bisa mengayun seperti laba-laba, kita butuh itu. Namun, buat film ini, hal tersebut harus diayunkan hingga ke dimensi lain. Sulit memang memberikan logika dalam film yang terintegrasi dalam semesta sebesar MCU; kita kadang merasa lebih tahu soal apa yang terjadi daripada pembuat filmnya sendiri. Meski begitu, usaha keras dari Far from Home untuk menghibur, terutama dengan membuat setiap kejanggalan sebagai lelucon, menjadikan filmnya... well, tetap menghibur. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem dan di instagram: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Spider-Man: Far From Home

129 menit
Remaja
Jon Watts
Chris McKenna,Erik Sommers (screenplay), Stan Lee, Steve Ditko (komik)
Kevin Feige, Amy Pascal
Matthew J. Lloyd
Michael Giacchino

©

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top