0

Review Film: 'Stuber' (2019)

Judulnya merupakan tes litmus untuk menguji apakah kita bakal mendapati filmnya lucu atau tidak.

“This is problematic.”
— Stu
Rating UP:
Namanya Stu. Dan dia kerja sampingan sebagai supir Uber. Stu+Uber=Stuber. Ini adalah nama panggilan untuk mengolok Stu. Ini juga merupakan tes litmus untuk menguji apakah kita bakal mendapati film Stuber ini lucu atau tidak. Saya tak lulus sejak awal, tapi masih kekeuh nonton. Harusnya saya jangan bandel.


Premisnya adalah premis film aksi-komedi fisik generik yang kerap kita temui di film aksi-komedi lawas. Dua orang yang saling bertolak belakang (biasanya satu histeris, satu lagi superserius) dipertemukan di suatu situasi heboh yang membuat mereka harus berkerja sama. Kita pernah menontonnya, hanya saja kali ini dengan sedikit variasi yang melibatkan saudara bulenya Gojek. Premis generik tak jadi masalah sih; kuncinya tinggal di lelucon. Sayangnya, mayoritas lelucon film ini sama kreatifnya dengan proses penciptaan nama panggilan olok-olok buat Stu.

Stu (Kumail Nanjiani) adalah yang kebagian peran histeris. Rating Uber-nya anjlok drastis karena sering mendapat bintang satu. Sekarang ia sedang dalam proses berusaha mati-matian untuk mendapatkan rating bintang lima. Jadi, tak masalah siapa pun penumpangnya asalkan punya prospek buat ngasih bintang lima. Termasuk Vic (Dave Bautista) yang mendapat peran sebagai si superserius. Vic adalah seorang polisi yang sedang dalam proses memburu residivis yang sudah membunuh mantan partnernya.

Lha kok polisi mesan Uber buat ngejar penjahat? Masalahnya adalah Vic baru saja selesai menjalani operasi mata tepat saat ia mendapat informasi soal sang residivis. Jalan saja masih sempoyongan, apalagi nyetir. Stu sudah tahu soal siapa Vic sejak awal, lantas kenapa ia tidak meninggalkan Vic ketika ada kesempatan? Alasan pertama, tangan Vic terlalu lihai sehingga bisa menilep kunci mobilnya tanpa ia tahu. Alasan kedua, well, rating Uber-nya tak boleh dibiarkan anjlok lebih dari ini brooo.

Dan mengikuti Panduan Praktis Film Buddy Comedy, kedua karakter kita tentu punya masalah personal yang bakal terselesaikan lewat bonding. Dalam hal ini, Vic begitu terobsesi memburu pembunuh partnernya sampai mengabaikan pameran seni yang diadakan sang anak (Natalie Morales). Sementara itu, Stu hanya ingin semua berakhir dan segera pulang, sebab teman dekatnya (Betty Gilpin) baru saja putus cinta dan sedang labil-labilnya. Si cewek butuh dibelai, dan ia butuh ini segera. Prioritas brooo.

Ide yang terdengar bagus untuk menduetkan Bautista dengan Nanjiani dalam sebuah buddy comedy. Bautista, dengan tubuh gempal dan suaranya yang berat, lebih kita kenal sebagai bintang aksi dalam film laga kelas B. Namun ia sudah membuktikan kapabilitasnya untuk berkomedi (sekaligus beraksi, tapi sebagian besar berkomedi sih) sebagai Drax dalam Guardians of the Galaxy. Nanjiani mendapat breakout lewat film The Big Sick, tapi sudah dikenal sebagai nerd yang sering malu-maluin di serial Silicon Valley. Plus, ia adalah keturunan India, yang mana merupakan stereotipe dari supir Uber di Amerika. Ini adalah lelucon... mungkin?!

Yah, apa pun itu, film ini terkesan bermain dengan satu lelucon, dan tentu saja hal ini menjadi hambar dalam sekejap. Kepribadian, kebiasaan, kondisi, dan pola pikir mereka dihantamkan untuk menciptakan komedi situasi. Namun, skrip dari Tripper Clancy tak banyak menunjukkan kreativitas. Kita punya adegan salah tembak, kecipratan makanan anjing, dan mampir ke strip club. Lelucon terbaik adalah di menit pertama Bautista terbentur apapun yang ada di depannya serta Nanjiani panik saat sadar ia terlibat dalam aktivitas polisi. Berapa banyak film mengulang lelucon yang sama? Sampai teriakan histeris Nanjiani terasa menjengkelkan.

Cukup disayangkan film ini membuat Bautista dan Nanjiani harus memperjuangkan karakter mereka untuk lebih dari sekadar generik. Meski ada beberapa lelucon masing-masing yang nampol, Stuber kurang bisa membuat keduanya menyatu menjadi buddy yang meyakinkan. Padahal ini adalah resep yang sebetulnya mampu mengkompensasi plot yang usang dan karakterisasi yang klise. Dan yap, saya hanya akan menyisakan dua potong kalimat saja untuk Karen Gillan dan Iko Uwais: (1) mereka muncul tak cukup lama untuk bisa dibilang "berperan", (2) saat muncul pun, penampilan mereka tenggelam oleh adegan laga yang disorot dan diedit dengan riuh.

Maaf Stu, saya cuma bisa memberikan bintang dua. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem dan di instagram: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Stuber

93 menit
Dewasa
Michael Dowse
Tripper Clancy
Jonathan Goldstein, John Francis Daley
Bobby Shore
Joseph Trapanese

©

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top