0

Review Film: 'Fast & Furious: Hobbs & Shaw' (2019)

Apakah di film ini mereka fast dan furious? Jawabannya: lebih dari 'Fast & Furious'.

“There's nothing subtle about you!”
— Hattie Shaw
Rating UP:
Kita takkan dibuat bingung. Judulnya Fast & Furious: Hobbs & Shaw. Kita melihat Dwayne Johnson dan Jason Statham di poster. Kita ingat pernah menyaksikan mereka dalam beberapa film Fast & Furious; Johnson sebagai agen bernama Luke Hobbs dan Statham sebagai penjahat Deckard Shaw. Mereka bukan karakter utama. Nah, pertanyaannya: apakah di film solo duo ini mereka fast dan furious? Jawabannya: lebih dari Fast & Furious.


Film ini secara teknis memang bukan film Fast & Furious. Instalmen kesembilannya baru akan kita dapat tahun depan. Namun, mengingat bagaimana franchise yang dimulai dengan Vin Diesel dan Paul Walker balap-balapan ini sudah bertransformasi menjadi film aksi menggelikan yang rutin memaradekan kemachoan dan menentang hukum fisika, rasa-rasanya mudah saja bagi sebuah film untuk menjadi film Fast & Furious. Nah, Hobbs & Shaw menampilkan dua aktor supermacho yang pernah menentang hukum fisika dalam film mereka sebelumnya. Jadi siapa yang mau protes?

Film ini sukses memberikan apa yang diharapkan oleh penonton yang sudah membaca judulnya. Ceritanya ringkas, blak-blakan, tidak bertele-tele. Eksposisi minim, action-packed. Absurditas aksinya dirangkul dengan kesadaran komedi dan keduanya bergerak dalam kecepatan tinggi. Plotnya: sebuah virus yang sangat berbahaya menjadi incaran penjahat bernama Brixton. Untungnya, virus tersebut berhasil dibawa kabur oleh Hattie, seorang agen MI6. Nah, karena CIA ingin mengamankan virus ini dan Hattie kebetulan adalah adik dari Shaw, maka jadilah keselamatan dunia berada di tangan Hobbs dan Shaw.

Tak ada omong kosong. Kita sudah tahu mekanisme cerita seperti ini sampai ke sedikit subplot romansa dan rekonsiliasi. Namun yang membuat film ini betul-betul segar adalah Johnson dan Statham. Mereka punya chemistry yang sedemikian solid hingga karakter Hobbs dan Shaw mencapai puncak film buddy-comedy. Mereka saling benci satu sama lain dan kekontrasan mereka dieksploitasi setiap demi humor. Sedari awal, film sudah menyoroti hal ini lewat adegan pembuka sangat asyik berupa split-screen yang memperlihatkan betapa berbeda keseharian (dan cara menghajar orang) antara keduanya.

Sebenarnya lelucon yang diberikan oleh Chris Morgan, penulis langganan Fast & Furious yang kali ini berkolaborasi dengan Drew Pearce, sangat receh (i.e. soal ukuran kemaluan atau "yo' mama"). Saya gak protes karena lelucon ini disandarkan betul dengan karakter mereka, sehingga setiap celutukan dan ledekan yang melayang terdengar mengena. Semakin nampol dengan delivery dan timing yang jitu dari keduanya. Johnson dan Statham adalah aktor komedi alami. Mereka tidak terdengar *mencoba* ngelucu. Saya bisa menonton Johnson dan Statham saling meledek seharian.

Penampilan mereka tidak lantas menutupi penampilan pemain lain. Karakter Brixton diperankan oleh Idris Elba dengan tak kalah karismatik. Tak ada yang misterius dari karakter ini. Ia adalah penjahat beneran sejak awal. Ia punya tubuh setengah robot biar menjadi lawan sepadan bagi Hobbs & Shaw. Alasan sebenarnya sih biar masuk akal saja saat nanti ia gak mati-mati walau sudah ditembak atau menabrak bis. Hattie dimainkan oleh Vanessa Kirby, yang tentu saja menjadikannya bukan sebagai cewek yang perlu diselamatkan. Film ini juga punya kejutan dengan kehadiran dua orang tenar yang tak kita duga di momen yang tak terduga.

Oke ini semua terdengar bagus, tapi —anda mungkin bertanya— apa yang membuat film ini shahih menjadi film Fast & Furious? Tentu bukan komedi kan? Yap, komedi hanya membuatnya menjadi film yang asyik. Nah, film ini punya adegan kejar-kejaran antara mobil McLaren dengan motor sport canggih yang bisa dilipat dan punya fitur autopilot. Dan soundtrack keren sebagai pengiring adegan aksi. Dan penggunaan NOS yang cerdik. Namun ada sekuens aksi yang jauh lebih bombastis daripada itu. Film ini punya begitu banyak ledakan dan tabrakan. Saya tak tahu berapa bujet film ini, tapi saya jamin semuanya bisa anda lihat di layar. No tipu-tipu, semua diciptakan buat hiburan penonton.

Sutradara David Leitch, yang berangkat dari John Wick hingga Deadpool 2, tahu apa yang kita ingin lihat dalam sebuah film Fast & Furious. Konyol bukan hal yang tabu. Ia memberikan adegan aksi yang menentang logika tapi dengan kompetensi yang serius. Saat aksi terjadi, semua hal di sekitarnya juga terasa bergerak di saat bersamaan. Ada film yang adegan aksinya sok sibuk atau sibuk sendiri, tapi Hobbs & Shaw terasa sibuk beneran. Ia punya semacam ritme spesial dimana saat sesuatu terjadi, kita bisa dibuat paham akan skala dan struktur dari rangkaian adegan tersebut.

Film ini takkan menggebrak pencapaian apa pun di dunia sinema aksi. Namun saya kira ia berhasil mengeset standar yang bagus untuk ukuran ridiculous action movie. Banyak film yang diganjar prediket "mindless fun". Namun Hobbs & Shaw adalah salah satu yang paling mendapatkannya. Ingat bagaimana saya yakin bahwa film Fast & Furious sebelumnya akan bikin guru Fisika belingsatan? Yah, beliau takkan punya waktu untuk itu buat Hobbs & Shaw. Sebab filmnya seru. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem dan di instagram: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Fast & Furious: Hobbs & Shaw

135 menit
Remaja - BO
David Leitch
Chris Morgan, Drew Pearce
Dwayne Johnson, Jason Statham, Chris Morgan, Hiram Garcia
Jonathan Sela
Tyler Bates

©

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top