0

Review Film: 'Once Upon a Time in Hollywood' (2019)

Tarantino tidak bercerita; ia cuma ingin kita nongkrong bersama mainannya.

“When you come to the end of the line, with a buddy who is more than a brother and a little less than a wife, getting blind drunk together is really the only way to say farewell.”
— Narrator
Rating UP:
Once Upon a Time in Hollywood adalah judul yang sempurna. Barangkali ini adalah referensi terhadap film klasik Once Upon a Time in the West-nya Sergio Leone, sebab film terbaru Quentin Tarantino memang punya elemen Western. Frase "Once Upon a Time..." juga jamak digunakan untuk memulai dongeng, sama dengan film ini yang tak bimbang menggabungkan fakta dengan fiksi. Terjemahan harfiah dari judulnya juga mengisyaratkan akan cerita tentang suatu masa di Hollywood, yang mana memang betul merupakan esensi dari film.


Once Upon a Time in Hollywood bukanlah sebuah film dalam konteks konvensional, melainkan produk dari usaha Tarantino untuk memotret sebuah era spesifik di Hollywood. Siapa lagi yang cocok melakukan ini selain sineas yang betul-betul mencintai sinema dan membangun karir dari mereferensikan itu semua? Berkat setting di film ini, Tarantino tak lagi cuma bisa menyelipkan referensi, ia sekarang bahkan bisa memasukkan "mainan"-nya ke dalam sejarah Hollywood. Tarantino tidak bercerita; ia cuma ingin kita nongkrong bersama mainannya.

Porsi paling menggigit untuk didengar dari film ini barangkali adalah soal Manson Family yang melakukan pembunuhan sadis di komplek selebritis di Los Angeles pada Agustus 1969. Namun, porsi yang menarik buat film ini adalah cerita yang berlangsung di sekitarnya, yaitu soal Rick Dalton (Leonardo DiCaprio) dan Cliff Booth (Brad Pitt). Rick adalah aktor TV terkenal yang pernah bermain dalam serial Western berjudul "Bounty Law", tapi kini ngos-ngosan untuk kembali ke puncak karir. Cliff Booth adalah mantan tentara yang jadi stuntman Rick merangkap asisten, supir pribadi, dan konco erat. "Lebih dari saudara, kurang dari istri"; demikianlah jargon kedekatan mereka.

Dan begitulah. Film ini cuma soal Rick dan Cliff yang berkeliling Hollywood dan menjumpai hal-hal Hollywood di keseharian mereka. Di satu titik, Rick mendapat saran dari seorang produser (Al Pacino) untuk menghidupkan karinya kembali dengan cara berangkat ke Itali untuk membintangi film Western (buatan sutradara Sergio *uhuk* Corbucci). Kita melihat bagaimana Rick sepertinya sudah di ujung karir. Lupa dialog saat syuting, bahkan sampai mendapat sentilan halus dari seorang aktor kecil yang method acting-nya akan membuat Daniel Day Lewis bangga.

Cliff lebih santai, karena memang sudah bawaannya selow abis. Kegiatannya sehari-hari adalah melakukan apa yang harus dilakukan untuk sahabatnya Rick, memberi makan bulldog kesayangannya, dan berkeliling Los Angeles dengan mobil. Ia sepertinya bodoamat dengan reputasi jeleknya sebagai "pembunuh istri yang lolos dari ancaman jeruji". Namun, Cliff juga orang yang punya prinsip. Ia bahkan bicara blak-blakan walau harus menentang si jagoan legendaris, Bruce Lee (Mike Moh). Mereka berantem, lalu kita mendapatkan adegan paling kocak dari film ini.

Duo Leonardo DiCaprio dan Brad Pitt barangkali adalah kombinasi aktor terhebat beberapa tahun belakangan. Tarantino akhirnya bisa menggabungkan dua kekuatan bintang sebesar ini. Dan penampilan mereka tentu tidak mengecewakan. Chemistry mereka sempurna. Karisma mereka tidak saling bertabrakan, justru saling menguatkan. DiCaprio mendapat jatah akting paling mencolok dan ekspresif. Di satu rentetan adegan, kita melihatnya meledak-ledak lalu terharu tak berapa lama kemudian. Di lain sisi, Brad Pitt mungkin terkesan diberi jatah peran sampingan. Namun, tanpa ingin meng-spoiler lebih lanjut, saya bisa bilang bahwa ini adalah filmnya. Kita tahu bahwa ia benar-benar layak menjadi salah satu bintang terbesar di masanya.

Tentu saja Manson Family akan masuk ke dalam cerita, berhubung rumah Rick ternyata persis besebelahan dengan rumah Roman Polanski dan istrinya, Sharon Tate. Tate, sebagaimana yang sudah kita tahu, bakal menjadi korban kekejaman Manson Family. Diperankan dalam film ini oleh Margot Robbie, Sharon Tate punya peran yang lebih minim; Robbie hanya harus terlihat menawan setiap ia muncul di layar. Pengetahuan kita soal ini tentu saja memberikan suspens tersendiri sebagai antisipasi dari tragedi yang akan terjadi.

Salah satu adegan brilian, yang juga menunjukkan betapa handalnya Tarantino dalam menangani sebuah adegan sederhana, adalah saat Cliff tak sengaja berkunjung ke markas Manson Family. Perkaranya adalah saat Cliff penasaran dengan seorang gadis muda bernama Pussycat (Margaret Qualley) yang suka minta ditumpangin. Entah kenapa belakangan ini banyak para hippie yang berkeliaran di Los Angeles. Cliff mengantarnya pulang, dan ternyata tujuannya adalah Spahn Ranch, yang dulu merupakan tempat syuting "Bounty Law". Cliff tahu ada yang tak beres dan usahanya untuk mencari tahu hal ini membuat saya tegang setengah mati.

Eh, saya ngomong apa sih? Film ini kan bukan soal itu walau memang ada soal itu. Film ini boleh dibilang tak punya plot, melainkan kumpulan dari momen-momen keren. Tarantino lebih ingin mengajak kita berkeliling Hollywood di tahun 1969 untuk berjumpa dengan Western, kungfu, film lawas, dan selebriti legendaris (diantaranya diperankan oleh Damian Lewis, Timothy Olyphant, RafaƂ Zawierucha, dan Luke Perry). Bersama dengan tim tata produksi dan sinematografer Robert Richardson, Tarantino membangun era 60-an dengan sangat meyakinkan, mulai dari detail pakaian, kendaraan, latar kota, musik, dll. Ia bahkan mengkreasi beberapa potongan adegan dari film yang dibintangi Rick, sehingga kita bisa menyaksikan DiCaprio nyempil di film The Great Escape. Margot Robbie sebagai Sharon Tate, sempat menonton film yang dibintanginya The Wrecking Crew, dan kita bisa melihat betapa sumringahnya ia saat mendengar tepuk tangan penonton.

Dengan durasi mencapai hampir 3 jam, gaya film yang ngalor-ngidul seperti ini barangkali terdengar membosankan. Tapi saya cukup menikmatinya. Barangkali terlalu, sampai saya dibuat syok dengan klimaksnya yang tiba-tiba eksplosif. Namun, karena sutradaranya adalah Tarantino, maka ini diijinkan. Melihat bagaimana filmnya yang cukup menahan diri, saya kira ini adalah film Tarantino yang paling dewasa. Walau masih punya beramunisikan dialog tajam, ia tak bermaksud menyetrum. Bahkan yang tak setuju dengan film-film Tarantino sebelumnya tahu bahwa Once Upon a Time in Hollywood adalah elegi dari Tarantino terhadap sebuah era Hollywood yang sudah berlalu. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem dan di instagram: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Once Upon a Time in Hollywood

161 menit
Dewasa
Quentin Tarantino
Quentin Tarantino
David Heyman, Shannon McIntosh, Quentin Tarantino
Robert Richardson

©

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top