0

Review Film: 'Ad Astra' (2019)

Film bagus menceritakan cerita yang bagus; film luar biasa menantang persepsi penonton dengan idenya.

“We're all we've got.”
— Roy McBride
Rating UP:
Ad Astra bukanlah sebuah epos scifi luar angkasa. Film ini memang mengambil latar di luar angkasa, menampilkan beberapa elemen fiksi ilmiah, bahkan punya efek spesial yang mewah dan mentereng, yang membuat kita barangkali berekspektasi akan sebuah film petualangan luar angkasa yang spektakuler. Filmnya memang terlihat spektakuler, tapi di saat bersamaan juga terasa sangat hening dan minimalis. Targetnya bukan menstimulasi indera, melainkan menyentuh sisi introspektif kita.


Film ini melakukan apa yang dilakukan film luar biasa. Film bagus menceritakan cerita yang bagus; film luar biasa menantang persepsi penonton dengan idenya. Dalam Ad Astra, semua tetek bengek soal antariksa hanyalah sebuah kemasan bagi James Gray untuk menyampaikan ide. Bagusnya, ia sama sekali tak mengecewakan dalam dua hal tersebut; kemasannya tersaji dengan sangat impresif dan idenya sampai dengan menohok.

Kalau ditinjau dari sisi ilmiah, sang fisikawan yang jadi konsultan buat Interstellar, Kip Thorne, pasti bakal dibuat belingsatan gak karuan. Memangnya pergi ke Neptunus bisa serasa berangkat dari rumah ke mall terdekat? Memangnya pesawat ulang-alik yang abis bensin bisa terdorong oleh ledakan bom nuklir? Hipotesis finalnya soal eksistensi kehidupan di jagat raya juga bakal membuat mendiang Carl Sagan mencak-mencak semisal beliau masih hidup. Namun bukan itu poinnya. Saya lebih suka menyebut film ini sebagai drama psikologi luar angkasa, dan dari segi psikologi, film ini barangkali memang merupakan potret realistis soal space-travel, gandengan dengan First Man.

Yang berangkat ke luar angkasa adalah Roy McBride (Brad Pitt). Ia adalah seorang astronot ideal; dedikatif, kompeten, dan sangat tenang. Detak jantungnya tak pernah melewati angka 80 bpm bahkan saat mengalami tragedi yang nyaris merenggut nyawa di awal film. Ia kemudian diberangkatkan mencegah tragedi yang lebih besar terjadi lagi, yang konon bisa merusak keseimbangan tata surya. Penyebabnya disinyalir adalah radiasi misterius yang berasal dari sekitar Neptunus.

Bagi Roy, misi ini lebih personal. Sebab, ayahnya yang juga seorang astronot legendaris, Clifford McBride (Tommy Lee Jones) hilang 16 tahun lalu dalam sebuah misi eksplorasi antariksa di... sekitaran Neptunus juga. Pemerintah percaya ayah Roy masih hidup dan semua ini saling berhubungan. Roy percaya ayahnya sudah meninggal, tapi bermaksud menemukan closure. Saya pikir perjalanan Roy merupakan usahanya untuk memahami sang ayah; sosok yang di satu sisi adalah panutannya untuk menjadi astronot, tapi di sisi lain, tega meninggalkan keluarga demi tugas. Beberapa karakter, seperti yang diperankan Donald Sutherland dan Ruth Negga, lebih kurang hanya berfungsi untuk membantu Pitt mendapatkan konsep yang tegas mengenai sang ayah.

Secara tematis, film ini boleh jadi terdengar mirip dengan film Gray sebelumnya, The Lost City of Z yang juga bercerita mengenai obsesi. Namun Ad Astra lebih intim, karena ia menggapai sesuatu yang lebih dalam dan manusiawi. Pemberhentiannya juga lebih paripurna. Fokusnya bukan pada si pengobsesi, melainkan orang yang terpengaruh karenanya. Kita dibuat merasakan dampak yang dialami oleh Roy sepeninggal sang ayah. Di beberapa waktu, kita dibawa masuk ke dalam isi kepala Roy lewat monolog. Penampilan Brad Pitt jauh dari kata sensasional, tapi ini adalah akting yang sangat terkontrol. Ekspresinya seringkali lempeng, nyaris sulit dibaca, tapi pembawaan subtil dari Pitt berhasil membuat kita mampu merasakan emosi yang tertahan di bawah permukaan. Karakteristik Roy yang terlalu dingin ini sangat penting, karena film ini pada dasarnya adalah perjalanan emosional Roy.

Dengan semua keintiman ini, James Gray mampu mengemasnya dalam sebuah film scifi yang megah. Pembangunan dunianya mendetail. Latarnya mengambil waktu tak jauh di masa depan, dimana manusia sudah bisa membangun koloni di Mars. Bulan jadi lahan tambang, dan karena itu, tentu ada aja bajak laut antariksa. Kita sudah cukup maju untuk melakukan perjalanan ke ujung tata surya, tapi belum secanggih itu untuk melintasi galaksi. Gray dengan cerdas mengambil setting yang cocok dengan ide yang ingin disampaikannya, yaitu titik dimana kita sudah cukup tinggi untuk menggapai bintang sampai nyaris melupakan kemanusiaan.

Tata produksi dari tim serta sinematografi dari Hoyte van Hoytema sangat mengagumkan. Penggunaan palet warna dan gambar-gambar yang sangat indah memberikan kesan majestic. Adegan pembuka saat Roy jatuh dari antena stratosfir mempesona dan menakutkan di saat bersamaan. Setiap pesawat, debris, ledakan, dan planet tampak meyakinkan. Gray berhasil memberikan apa yang tak bisa diberikan High Life —film antariksa lain tahun ini dari Claire Dennis yang juga punya ide besar— yaitu sensasi otentik. Sutradara yang gak sabaran pasti bakal keasyikan dengan kecanggihan CGI dan aspek teknisnya, tapi Gray tahu harus fokus dimana, sehingga ia juga berhasil melakukan apa yang kurang bisa disampaikan Interstellar dan First Man: konsekuensi riil dari space-travel.

Saya rasa film ini bakal dikritik karena terlalu panjang atau terlalu pelan. Memang ada beberapa momen penggenjot adrenalin seperti adegan kejar-kejaran di permukaan bulan atau monyet ngamuk di pesawat (serius!). Namun barangkali ini belum cukup bagi yang ingin mencari film luar angkasa yang seru. Gray tampaknya tak ingin berkompromi; ia mengatur ritmenya sendiri. Buat saya pribadi, ke-pelan-an ini justru memberi ruang untuk berkontemplasi. Kecuali satu di adegan akhir, film ini tak membeberkan dengan gamblang pesan yang ingin disampaikannya. Saya kira lewat satu ide, film ini merengkuh banyak hal. Saya tak bisa memastikannya, tapi saya bisa memastikan bahwa film ini jelas membuat saya memikirkan banyak hal setelah menontonnya. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem dan di instagram: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Ad Astra

124 menit
Dewasa
James Gray
James Gray, Ethan Gross
Brad Pitt, Dede Gardner, Jeremy Kleiner, James Gray, Anthony Katagas, Rodrigo Teixeira, Arnon Milchan
Hoyte van Hoytema
Max Richter

©

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top