0

Review Film: 'It Chapter Two' (2019)

Andy Muschietti melakukan tugas yang apik dalam membuat sebuah film tentang badut setan. Namun ini belum cukup untuk membuatnya jadi film seram.

“Something happens to you when you leave this town. The farther away, the hazier it all gets.”
— Mike Hanlon
Rating UP:
Buat saya, setidaknya ada tiga hal yang ditakdirkan tak akan pernah serem, yaitu: (1) badut, (2) Gremlin, dan (3) Bill Murray. Zombie pernah masuk ke dalam daftar ini, tapi berhasil keluar berkat film-film semacam 28 Days Later atau Train to Busan. Lewat It dan sekarang sekuelnya, It Chapter Two, sutradara Andy Muschietti melakukan tugas yang apik dalam membuat sebuah film tentang badut setan. Namun ini belum cukup untuk mengeluarkannya dari daftar tadi.


Ini tak lantas mengerdilkan hasil kerja yang dicapai Muschietti. Filmnya terlihat sangat berkelas. Perhatiannya terhadap detail sangat mengesankan. Dan berkat kesuksesan It —yang meledak dengan pendapatan lebih dari $700 juta dari seluruh dunia— ia diijinkan untuk membuat It Chapter Two dengan pemain yang lebih mentereng, efek spesial kelas satu yang lebih sinting, dan, mm, durasi yang lebih panjang.

Film ini tak akan menjadi film seram, jadi saya menontonnya untuk menikmati apa yang ditawarkan berikutnya, yaitu kisah persahabatan mantan anak-anak yang harus menghadapi teror dari masa lalu. Mereka, yang menyebut diri sebagai Klub Pecundang, sudah move-on dari kota Derry dan melanjutkan hidup dalam kehidupan yang berbeda. Si gagap Bill (James McAvoy) menjadi penulis novel, si cerewet Richie (Bill Hader) adalah seorang standup comedian, si tomboy Beverly (Jessica Chastain) sudah menikah dengan suami yang tak kalah seabusif ayahnya, si gugup Stanley (Andy Bean) juga sudah menikah, si tukang khawatir Eddie (James Ransone) bekerja di perusahaan asuransi, dan si gendut Ben (Jay Ryan) sekarang adalah arsitek bertubuh seksi.

Hanya Mike (Isaiah Mustafa) yang masih tinggal di Derry. Ini mejadikannya sebagai satu-satunya orang yang masih mengingat teror Pennywise, sementara yang lain entah kenapa mengalami amnesia parsial. Dua puluh tujuh tahun sudah berlalu, dan Pennywise sudah kembali lagi. Mike pun menelpon teman-temannya untuk menagih sumpah mereka demi menaklukkan Pennywise selamanya. Saking horornya teror sang badut, satu anggota Klub Pecundang memilih untuk tak ikut serta.

Saya tak tahu proses castingnya, tapi pemilihan pemain dewasanya begitu jitu hingga kita benar-benar serasa berjumpa dengan para anak-anak ini setelah 27 tahun. Jejerkan satu persatu, dan kita takkan pangling saat membandingkan dengan Jaeden Martell, Finn Wolfhard, Sophia Lillis, Wyatt Oleff, Jack Dylan Grazer, Jeremy Ray Taylor, dan Chosen Jacobs. Dan mereka melanjutkan chemistry yang berhasil diciptakan pemain anak-anak dari film sebelumnya dengan mulus. Hanya lewat satu adegan makan di restoran Cina, kita langsung ditampol dengan romansa reuni yang hangat.

Sayangnya, ini tak berlangsung lama. Sebab Klub Pecundang harus berpencar kembali demi mencari cara untuk melawan Pennywise. Masing-masing harus menyusuri lagi masa kecil mereka, menghadapi memori kelam yang tak hanya bersumber dari horor dunia nyata tapi juga dari teror Pennywise. Meski barangkali bertujuan untuk mendapatkan kedalaman karakter (dan kita juga bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan pemain anak-anak), bagian ini terasa episodik sehingga membunuh momentum. Teror yang mereka alami juga relatif tak ada artinya bagi momen puncak film, sehingga ini terkesan sebagai usaha untuk mengulur waktu.

Meski begitu, Muschietti hebatnya mampu memberikan printilan-printilan eksotik untuk membuat kita tak merasa bosan. Entah itu lewat skema warna yang mencolok mata, pengadeganan yang inventif, atau kehadiran makhluk-makhluk metafisikal yang absurd. Salah satu yang paling berkesan melibatkan (menurut estimasi sotoy saya) tak kurang dari sepuluh kubik darah palsu. Penggunaan beberapa transisi dan permainan kamera yang unik menunjukkan bahwa kita baru saja menyaksikan karya dari sutradara yang sangat pede dengan kapabilitasnya.

Buat karakter Pennywise sendiri, saya terpaksa harus mengulang lagu lama saya dari review It. Bill Skarsgard tampil sensasional dan barangkali ini akan menjadi penampilan yang ikonik. Namun ia adalah hanyalah sebuah "teknik menakuti", alih-alih teror yang berwujud. Kita mengingatnya karena cara menakut-nakutinya yang kreatif, bukan karena dalamnya horor yang ditancapkannya. Apakah anda bisa dibuat takut dengan badut yang bisa memodifikasi CGI?

Film ini relatif setia dengan film orisinalnya. Penulis skrip Gary Dauberman membuat penyesuasian dengan sedikit keputusan buruk dan banyak keputusan bagus. Satu keputusan buruk adalah memberikan plot distraktif seperti kemunculan Bowers si tukang bully. Keputusan bagus adalah tak menyia-nyiakan Skarsgard di adegan puncak yang aslinya melibatkan monster laba-laba tanpa mengubah esensi. Keputusan terbaik adalah memberikan finalisasi, bukan buat teror Pennywise melainkan bagi petualangan Klub Pecundang. Saat film berfokus tentang mereka, film ini adalah film yang bagus. Permainan nostalgia memang tak pernah gagal. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem dan di instagram: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

It Chapter Two

169 menit
Dewasa
Andy Muschietti
Gary Dauberman
Barbara Muschietti, Dan Lin, Roy Lee
Checco Varese
Benjamin Wallfisch

©

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top