0

Review Film: 'Good Boys' (2019)

Saya terpancing menonton karena potensi kenakalan mereka, tapi jadi beneran betah menonton karena kepolosan mereka.

“Does this look like a sippy cup? No, it's a f***ing juice box! Because I'm not a f***ing child!”
— Thor
Rating UP:
Anak-anak dalam Good Boys memang beneran anak-anak baik. Walaupun beberapa hal yang terjadi dan yang mereka lakukan membuat film ini berating dewasa, mereka tetaplah anak-anak baik. Saya terpancing menonton karena potensi kenakalan mereka, tapi jadi beneran betah menonton karena kepolosan mereka. Mereka adalah tipikal anak-anak yang bakal mengucapkan sesuatu seperti "gue ini preman, apeloo!" sembari minum susu kotak tiga-ribuan.


Menyaksikan anak-anak melontarkan kata-kata kotor dan terlibat dalam hal-hal jorok terdengar seperti inspirasi humor yang cetek. Saya hampir mengira bahwa produser Seth Rogen & Evan Goldberg bersama sutradara/penulis Gene Stupnitsky cuma mau mengeksploitasi kenaifan para bocil demi hiburan orang (yang sudah) tua. Namun film ini rupanya lebih cerdas daripada yang saya kira. Memang lelucon soal kata-kata jorok jadi agak repetitif saat terlalu sering, tapi film ini dengan bijak juga mendasarkannya pada dinamika kehidupan dari anak-anak praremaja itu sendiri.

Sengatan tajam sudah diberikan sejak adegan pembuka. Max (Jacob Tremblay) sedang mengubah ukuran dada dari avatar heroine di game online-nya sembari bilang "F*** yeaah", tapi kemudian batal merancap karena sang ayah tiba-tiba masuk kamar. Dasar, ayah gak kenal privasi! Max adalah salah satu dari tiga anggota geng "Bean Bag Boys". Dua anggota lain adalah Thor (Brady Noon) yang ngebet banget disebut preman, dan Lucas (Keith L. Williams) yang jadi paling polos.

Mereka gak cupu-cupu amat tapi bukan juga geng keren. Jadi mereka berusaha keras untuk terlihat keren. Entah itu dengan menyumpah serapah atau ngomongin hal dewasa yang sebetulnya tak begitu mereka mengerti. Saya tak mendapati hal ini ofensif; anak-anak seumuran ini memang begitu. Thor tak mau kelihatan cemen karena ketahuan ikut teater sekolah. Jadi targetnya sekarang adalah berhasil minum 4 teguk bir. Max sedang kesemsem dengan teman sekelasnya, Brixlee, dan ia punya kesempatan untuk mencium Brixlee dalam Pesta Ciuman yang akan diadakan oleh anak terkeren di kelas, Soren (Izaac Wang). Masalahnya, Max... atau Thor... atau Lucas, sama sekali tak tahu cara ciuman.

Usaha mereka untuk mencari tahu soal ini menimbulkan berbagai keribetan dan keributan yang berujung pada konflik dengan dua mahasiswi (Molly Gordon dan Midori Francis). Kedua gadis ini menawan drone milik ayah Max. Kalau ketahuan, Max bisa diskors dan gagal menghadiri Pesta Ciuman. Di lain sisi, Max dkk berhasil mendapatkan narkoba milik kedua gadis tersebut. Namun, pertukaran takkan semudah itu.

Petualangan mereka seru dan liar; setidaknya lebih liar dari yang kita kira bakal dialami oleh anak-anak yang jembutnya baru numbuh. Karena satu alasan spesifik (yang jadi running jokes sampai akhir film), mereka kerapkali harus berhubungan dengan berbagai macam sex toys. Mereka bahkan harus masuk ke asrama mahasiswa pengedar narkoba. Leluconnya bukan karena anak-anak ini melakukan hal-hal dewasa, melainkan dari kepolosan mereka yang nyerempet ke dunia dewasa. Menyeberang jalan masih merupakan hal yang sulit dilakukan, apalagi di jalan tol. 

Inilah yang membuat humornya tak terasa menjijikkan. Stupnitsky bermain di perspektif anak-anak, hanya saja memanfaatkan level dewasa. Mereka memandang dunia dengan kacamata anak-anak; orang-orang di sekitarnya (dan kita) lah yang cabul. Dan pemahaman lugu mereka terhadap dunia dewasa lah yang memberikan humor yang bisa dibilang tulus. Barangkali orangtua mereka pun bakal lega melihat mereka yang sudah tahu bahwa narkoba itu buruk dan mencium cewek itu butuh consent dari yang bersangkutan. Anak-anak aja tau woy~.

Pembuat film dengan ajaib berhasil menghadirkan pola pikir anak-anak dengan meyakinkan. Ini tentunya juga berkat talenta solid dari semua aktor anak yang terlibat. Mereka punya karisma dan comic delivery yang mantap. Chemistry mereka terasa sangat alami. Jadi saat mereka menghadapi masalah, kita dibawa bersimpati. Konflik personal mereka barangkali terkesan sepele, tapi buat mereka ini sangat serius. Lagipula, sesepele apapun kedengaran konflik tersebut, pelajaran moral dari mereka boleh jadi merupakan salah satu hal yang paling dewasa yang saya dapatkan dari film komedi yang jualan kata & hal jorok. 

Apakah saya masih perlu memberi tahu bahwa film ini bukan buat anak-anak? Para anak-anak baik dalam film ini memang sangat menggemaskan. Anak/adik anda barangkali seumuran mereka. Tapi membawa mereka ke bioskop akan memberikan pengalaman menonton yang sangat canggung. Menonton Good Boys saat belum cukup umur akan membuat mereka jadi bad boys. Jadilah good parents. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem dan di instagram: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Good Boys

89 menit
Dewasa
Gene Stupnitsky
Lee Eisenberg, Gene Stupnitsky
Lee Eisenberg, Evan Goldberg, Seth Rogen, James Weaver
Jonathan Furmanski
Lyle Workman

©

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top