0

Review Film: 'Midsommar' (2019)

Film ini tak cukup berhasil, terutama karena tendensinya yang ingin membuat kita terlalu syok terlalu awal.

“That was really really really shocking. I'm trying to keep an open mind though.”
— Christian Hughes
Rating UP:
Kalau diibaratkan, Midsommar ini seperti pesulap yang bilang berkali-kali bahwa semua adalah trik selama pertunjukannya berlangsung. Triknya bagus dan pertunjukannya dibawakan dengan handal. Namun saat ia terus menerus bilang, "Ini ada triknya lhoo", "Ini ada triknya lhoo", "Ini ada triknya lhoo" setiap membuat satu gerakan kecil, maka efek finalnya jadi tak sehebat itu lagi. Kita jadi sampai ingin berkata,"Iyee ini ada triknya, buruaaan."


Dalam porsi yang kecil, barangkali ini akibat reputasi Ari Aster sendiri. Saat kita tahu bahwa yang membuat film ini adalah penulis/sutradara Hereditary, kita langsung berekspektasi Midsommar akan jadi film yang WTF juga. Mungkin film ini akan lebih nampol buat penonton yang sama sekali tidak tahu premisnya atau tidak sadar kalau ini film Aster. Meski begitu, Aster sepertinya tak ingin mengambil jalur ini juga sih; sedari awal, ia ingin kita sadar bahwa ini adalah film yang WTF. Agaknya ia memaksudkan untuk mencengkeram kita perlahan-lahan dengan sensasi WTF-nya. Tapi ini tak cukup berhasil, terutama karena tendensinya yang ingin membuat kita terlalu syok terlalu awal.

Premis filmnya: Dani (Florence Pugh) dan Christian (Jack Reynor) pergi bersama teman-teman mereka ke sebuah komunitas kecil di pedalaman Swedia. Setiap hari adalah siang hari, sebab desa mereka berada di lokasi unik dimana matahari hampir tak pernah tenggelam. Komunitas ini tak tampak berbahaya walau adat mereka lumayan nyentrik. Semua orang memakai pakaian putih, mengenakan mahkota bunga, menari, menyanyi, dan makan bareng. Oh, dan ada beruang di tengah lapangan. Dan ini pil halusinogen boleh dicicip.

Yap. Gak ada yang aneh sama sekali.

Berkat TKP ini, Aster bisa menawarkan konsep visual yang tak biasa untuk ukuran horor. Dengan bantuan sinematografer Pawel Pogorzelski, ia menyajikan warna-warna cerah dengan kontras tinggi, sangat bertolak belakang dengan Hereditary yang suram. Gambarnya pasti akan meninggalkan kesan yang mendalam. Ia juga tahu cara membangun mood yang tak nyaman lewat eksekusi dan pergerakan kamera yang terukur. Ditambah dengan scoring (yang sengaja) sumbang dari Bobby Krlic, setiap adegan memberikan sensasi ganjil.

Yang patut diketahui, status Dani dan Christian adalah pacaran di ujung tanduk; serasa pacaran enggak, putus juga bukan. Dani orangnya agak depresif. Christian sepertinya sudah capek dengan semua drama pacarnya. Tapi Christian juga bukan cowok brengsek sejati. Ia tahu apa yang Dani ingin dengar, meski kentara bahwa ia tak begitu berempati. Buktinya, saat Dani mendapat musibah besar di awal film, Christian jadi gak enakan lantas mengajak Dani ikut ke liburan yang sebetulnya adalah bro-liday.

Sejak awal, Aster sudah menunjukkan bahwa komunitas ini bukanlah komunitas normal, setidaknya menurut standar kehidupan modern. Namun yang membuat film ini mati di tempat buat saya adalah tradisi pertama yang karakter kita lihat di sana. Momen ini begitu WTF dan gamblang sampai memberikan dua efek buat saya: (1) gregetan melihat kenapa mereka tak segera angkat kaki dari sana, apa pun alasannya—bodoamat skripsi, dan (2) sedemikian syok hingga siap untuk melihat hal se-WTF apa pun yang akan datang setelahnya. Ini membuat filmnya tak lagi punya sensasi misteri; tak ada lagi yang bisa mengejutkan kita. Oleh karenanya, momen-momen buildup selanjutnya terasa seperti mengulur waktu semata.

Di lain sisi, para karakter utama kita juga bukan karakter yang seru untuk diajak nongkrong lama-lama. Christian dan dua kawannya, yang diperankan oleh William Jackson Harpee dan Will Poulter, hanyalah karakter dengan satu lapis kepribadian. Satu sisanya (Vilhelm Blomgren) jelas sekali membawa papan pengumuman "Gue adalah Plot Twist". Namun Aster tahu cara mencungkil penampilan kuat dari pemain utamanya. Akting Florence Pugh sungguh intens, kita tak akan protes melihatnya berkali-kali histeris. Setiap momen katarsis dibawakannya dengan sangat mengesankan.

Saya rasa Aster membuat film ini hanya lewat ide yang sekelebat saja, tanpa punya waktu dan cerita yang memadai untuk memgembangkannya. Hasilnya, hanya ada dua momen yang kuat secara naratif, yaitu 10 menit awal dan 5 menit akhir. Ini adalah bagian yang membuat Midsommar berdaging. Konflik utamanya sendiri, yaitu mengenai romansa protagonis kita, kurang matang, sementara film lebih sibuk memaradekan keganjilan semata (saya tantang anda untuk tak ketawa di adegan puncak yang melibatkan barisan emak-emak yang mendesah penuh penjiwaan—yah walau sebagian besar dibabat sensor sih).

Di Wikipedia, saya membaca bahwa Aster juga merilis versi Director's Cut sepanjang 171 menit, hampir setengah jam lebih lama daripada versi ini. Pertanyaannya: apakah penambahan tersebut akhirnya bakal bisa menjustifikasi durasinya yang sudah terasa sangat panjang ini? ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem dan di instagram: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Midsommar

147 menit
Dewasa
Ari Aster
Ari Aster
Lars Knudsen, Patrik Andersson
Pawel Pogorzelski
Bobby Krlic

©

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top