0

Review Film: 'Joker' (2019)

Saya tak bisa bilang bahwa saya menyukai 'Joker'. Meski begitu, saya yakin film ini akan meninggalkan kesan yang kuat.

“Is it just me, or is it getting crazier out there?”
— Arthur Fleck
Rating UP:
Saat saya bilang bahwa Joker bukanlah film superhero konvensional, maka ini bukanlah endorse semata. Anggap juga sebagai peringatan. Ia begitu kelam, bahkan lebih kelam daripada Batman v Superman. Ia begitu edgy, sampai Joker-nya Suicide Squad jadi terlihat seperti lelucon (eh, dia sih emang lelucon). Film ini sangat intens, supermuram, tak punya aksi, tak ada efek spesial. Kita tak pernah melihat film superhero seperti ini sebelumnya. Titik.


Saya tak bisa bilang bahwa saya menyukai filmnya. Saya juga tak bisa membayangkan ada penonton yang benar-benar enjoy menonton filmnya. Meski begitu, saya yakin film ini akan meninggalkan kesan yang kuat. Saya kira tak perlu dikasih tahu lagi bahwa Joker adalah musuh bebuyutan Batman yang menjadi salah satu supervillain terpopuler sepanjang masa. Namun film Joker adalah film disturbing soal orang sinting. Yang kita tonton adalah seorang sinting yang akhirnya merangkul penuh kesintingan dunia dan dirinya.

Jika butuh aktor untuk memerankan orang sinting, tak ada pilihan yang lebih tepat saat ini selain Joaquin Phoenix. Sebagaimana sudah kita lihat dalam The Master dan You Were Never Really Here, akting intens adalah nama tengahnya. Dalam Joker, ia memberikan penampilan yang tak hanya fisikal melainkan juga berat secara mental. Penampilan kurus kerempeng dan gestur tubuh yang ganjil memberikan sensasi tak nyaman. Karakternya menderita semacam penyakit yang membuatnya tertawa tanpa terkontrol. Tawanya aneh; terbahak-bahak tapi terasa tersedak. Kita bisa merasakan kesakitannya. Ekspresi muka dan isi kepalanya sulit dicerna.

Dan film ini begitu mencintainya, sampai-sampai rela berhenti sejenak untuk fokus pada Phoenix berkali-kali. Kita melihat begitu banyak adegan slow-motion atau close-up saat dirinya tertawa, kesakitan, atau menari gak jelas, sampai saya teriak-teriak di bioskop tapi dalam hati, "Iya, iya. Dia sinting!". Phoenix tampil nyaris di semua adegan dan ia menguasai semuanya. Karisma Joker-nya Phoenix bisa digandengkan dengan Joker-nya mendiang Heath Ledger di The Dark Knight, meski pembawaan keduanya cukup berbeda. Kalau anda ingin melihat Phoenix menggila selama dua jam, maka inilah filmnya.

Awalnya, namanya adalah Arthur Fleck, seorang pecundang yang punya mimpi menjadi stand-up comedian, tapi karirnya berhenti sebagai badut pesta. Bahkan untuk ukuran para badut kota Gotham yang eksentrik, Arthur masih menjadi yang paling aneh. Dan paling malang. Ia dihajar oleh para begundal bocah saat mengejar papan promosi yang dicuri darinya, lalu nyaris dipecat karena dikira mencuri papan promosi tersebut.

Satu-satunya hiburan adalah saat ia pulang ke rumah bobrok yang ditinggalinya bersama sang ibu (Frances Conroy). Ia menonton acara talkshow yang dipandu oleh host ternama, Murray Franklin (Robert De Niro). Ia bermimpi untuk tampil di sana. Namun, hidup justru berjalan semakin kelam. Dunia semakin kacau, ia semakin gusar. Orang-orang tidak ketawa bersamanya tapi justru mengetawainya. Dan ini kok tiga orang berjas nge-bully dia di gerbong kereta. Kebetulan ada pistol.... Anda tahu bagaimana film ini berakhir, sebab judulnya adalah spoiler.

Film ini punya banyak ide menarik. Salah satunya adalah dunianya sendiri yang mengambil waktu di era persis menjelang krisis. Wabah tikus mulai merajalela. Sampah ada dimana-mana. Jaminan kesehatan dicabut. Kesenjangan sosial sangat kentara sampai sentimen terhadap Thomas Wayne, sang calon walikota yang kaya raya, begitu terasa. Satu tindakan minor dari Arthur rupanya sudah cukup untuk memantik gejolak besar di masyarakat. Topeng badut menjadi simbol pemberontakan.

Atau simbol kekacauan? Film ini disutradarai oleh Todd Phillips (yang juga menulis skrip bersama Scott Silver), dan ia jelas sangat terinspirasi dari Taxi Driver dan The King of Comedy-nya Martin Scorsese. Phillips bisa membangun atmosfer dan memberikan gambar-gambar ciamik berkat bantuan sinematografer Lawrence Sher. Tapi ia tak punya tangan semantap itu. Beberapa kali filmnya terasa tak begitu koheren, alih-alih hanya kompilasi dari beberapa ide brilian yang dipaksa-gabung jadi satu. Salah satunya melibatkan karakter Zazie Beetz yang memberi definisi baru yang tragis soal bucin. Satu lagi adalah saat Arthur diam-diam membuka surat yang dikirim ibunya buat Thomas Wayne, yang mengungkap sebuah rahasia mengejutkan. Ketika datang waktu untuk menyentil kondisi sosial, Phillips memberikan kesubtilan seperti palu memukul paku. Film tak mengambil sudut moral yang jelas dan ini barangkali disengaja, tapi ia lebih terasa seperti ragu-ragu daripada ambigu.

Apa yang sukses dilakukan oleh film ini adalah membuat syok. Kekerasan yang terjadi dalam film ini jauh lebih sedikit daripada yang saya kira. Namun berkat pembangunan adegan yang telaten, setiap momen tersebut memberikan dampak yang hebat. Bagian ini sama sekali tak menglorifikasi kekerasan, sebagaimana yang dikhawatirkan sebagian orang. Ia tak meminta kita bersimpati kepada Joker, melainkan memahami bagaimana orang-orang sepertinya bisa terlahir. Namun, saat kita sudah mengetahui hal ini, filmnya dan penampilan Phoenix menjadi terasa sedikit boring.

Film ini juga berhasil menjadi film origin Joker yang masuk akal. Tanpa ingin spoiler, saya bisa memberitahu anda bahwa meski Phillips sama sekali tak berkompromi dengan filmnya, ia sukses memasukkan elemen-elemen dari semesta DC dengan mulus, bahkan tanpa merusak legacy Joker itu sendiri. Apa yang kita tahu dari Joker? Sinting, maniak, sukar dipahami, penuh misteri? Sampai akhir, tak ada kualifikasi yang dikhianati. Namun, film ini agaknya mau menggapai lebih jauh dari itu. Film Joker ingin menjadi provokatif. Namun yang ditawarkannya hanyalah kekacauan, anarki, dan nihilisme. Atau jangan-jangan memang inilah yang diinginkan si Joker? ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem dan di instagram: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Joker

122 menit
Dewasa
Todd Phillips
Todd Phillips, Scott Silver
Todd Phillips, Bradley Cooper, Emma Tillinger Koskoff
Lawrence Sher
Hildur Guðnadóttir

©

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top